Wednesday, 19 July 2017

Serunya Parade Bocah Dolanan di Mataram Culture Festival 2




"Buk besok Sabtu masih libur, kita jalan-jalan yuk" seperti weekend sebelumnya anak lanang selalu mengajak jalan-jalan.

"Ke Malioboro saja ya mas" ajak saya ke Mas

"Ngapain Buk" tanya Mas.

"Lihat festival dolanan bocah mas, nanti jalan-jalan sambil lihat anak-anak mainan" jawab saya.


Friday, 14 July 2017

Jangan Buang Makanan Lagi!

Kumparan. Beberapa hari yang lalu saya membaca berita tentang tingginya angka bunuh diri petani di India karena gagal panen akibat perubahan cuaca sehingga mereka tidak dapat membayar hutang pembelian tanah, pupuk, dan bibit. 

Monday, 10 July 2017

Kado Ulang Tahun untuk Mas : Kursus Drum

kursus drum di purwacaraka

Tak terasa sudah bulan Juli gengs, udah pertengahan tahun. Cepet banget ya. Bulan ini si Mas, anak sulung saya ulang tahun. Kemaren saat datang ke pesta ulang tahun anak tetangga dia udah ribut pengen pesta juga kayak tahun lalu. Tapi saya tolak halus karena lagi no budget dan saya janjiin kado ama maem di Steak langganan saja. Eh. Dia mau lho. Anak ganteng tenan.

Friday, 7 July 2017

End of Black Era - Ternyata Sineas Indonesia Bisa Bikin Film Fiksi Fantasi Keren


Apa yang bisa kamu harapkan dari film pendek apalagi berdurasi hanya dua belas menit?

Sepertinya nothing ya gaes, kecuali film pendek itu bergenre dokumenter dengan cerita membumi yang mengoyak rasa kemanusiaan. Selain itu pasti hanya film pendek "biasa" yang diputar kemudian terlupakan.

Tapi, judgement saya terbantahkan begitu menyaksikan pemutaran film pendek berjudul End of Black Era - The Incident yang diputar pada hari Jumat (16 Juni 2017) pekan lalu. Bertempat di Jogja Village Inn, saya bersama beberapa teman blogger serta rekan dari beberapa komunitas lain menyaksikan amazingnya imajinasi seorang Yuris Aryanna yang dia tuangkan dalam sebuah film kolaborasi bersama Yongki Ongestu seorang moviemaker.

Apa Sich Screening Film itu?




Pasti kalian penasaran kayak apa sih film End of Black Era yang pastinya bukan sekedar film pendek tanpa value. Oke, sebelum lanjut saya mau sedikit bercerita tentang obrolan kami ( beberapa blogger) bersama dengan Yuris Aryanna dan Yongki Ongestu di Owl Cafe sehari sebelum pemutaran film.





Yuris Aryanna merupakan seorang designer costume yang memiliki studio di Jakarta. Sejak SMA dia memiliki tokoh karakter  imajinasi yang dia gambar dalam sketsa. Karena memang tertarik dengan dunia design dia menekuni studi design dan  akhirnya dia bisa mewujudkan tokoh imajinatif dalam sebuah film.

Yongkie Angestu dan Yuris Aryanna


Lalu siapa Yongki Ongestu itu? Dia merupakan owner dari Aegnima Picture, dia sendiri juga seorang fotografer dan director. Nah, mereka bersinergi menghasilkan  film yang tak hanya keren tapi juga menonjolkan budaya lokal  dan memberi perhatian lebih pada kostum dalam sebuah film.

Saat diundang via email oleh Yuris untuk mengikuti acar Screening Film End of Black Era, sejenak kening saya berkerut dan bertanya-tanya, screening film itu apa ya?

Screening film tak ubahnya seperti riset terhadap sebuah film, setelah film diputar dilanjutkan dengan acara diskusi yang melibatkan praktisi film, pemerhati film, dan penonton dari berbagai background untuk kemudian dari kritikan dan koreksi dari penonton untuk kelanjutan film tersebut.

Begitu pula dengan Screening Film yang diadakan oleh Yuris Laboratory bersama Aegnima Picture pada 16 Juni yang lalu. Saya sih sudah excited dari hari sebelumnya setelah membaca pamflet dan melihat gambar-gambar adegan dari film End of Black Era yang mirip film-film barat bergenre fantasy.

Review End of Black Era - The Incident


Sebelum film End of Black Era - The Incident diputar, ada dua film dokumenter yang juga dibuat oleh Aegnima Picture diputar di cinema room Jogja Village Inn Hotel. Ada dua film dokumenter tentang Almarhum Mbak Resos seorang pengrajin tenun  lurik gendong dan pak Zubaidi pengrajin tembaga.

Pak Zubaidi merupakan pengrajin yang tinggal di Kotagede, Yogyakarta. Beliau jatuh bangun menjalani profesi dari pengrajin emas, perak hingga berakhir di tembaga. Film dokumenter ini bercerita tentang curahan hati Pak Zubaidi yang dengan susah payah menekuni kerajinan tembaga meskipun pendapatannya tidak seberapa. Bantuan dari pemerintah yang diharapkan juga tidak sampai pada orang yang layak mendapatkan karena ketika ada program bantuan banyak orang yang mengaku sebagai pengrajin sehingga pengrajin sesungguhnya hanya mendapat bantuan sedikit. Saat ini pengrajin tembaga di Jogja hanya tinggal beberapa orang.

Film dokumenter selanjutnya menceritakan tentang Mbah Reso yang sudah almarhum. Di rumahnya yang terlihat tidak layak huni Mbah Reso masih tetap berkarya membuat tenun lurik disela-sela dia mengolah sawah. Tenun lurik yang dibuat oleh Mbah Reso sangat spesial. Kenapa? Karena proses pembuatannya bukan dengan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) tapi dengan teknik gendong. Pembuatannya sangat RUMIT gengs. Hanya dengan kayu sepanjang 2 m sebanyak 3 atau 4 buah kemudian benang ditenun. Dan didaerah Bayat, Klaten tinggal Mbah Reso yang  beberapa orang yang bisa membuat tenun lurik gendong. FYI, satu kain tenun lurik yang dibuat MBah Reso dalam waktu satu minggu hanya seharga dua puluh ribu. BAYANGKAN !

Kerajinan Lokal Menjadi Properti Film Fantasi

Pastinya bukan tanpa sebab Yuris dan Yongki mengangkat cerita tentang kerajinan tembaga dan tenun lurik, tapi dua orang ini memang ingin mengangkat kerajinan tradisional/lokal bisa mendapat nilai lebih, terutama di dunia hiburan dan film.


Yuris dan Yongki memakai kerajinan dari tembaga dan lurik buatan Mbah Reso, seperti aksesori telinga berbentuk sayap yang dikenakan Neewa dan penduduk desa terbuat dari tembaga hasil karya pak Zubaidi. 
 
Begitupun dengan mahkota dan tombak trisula yang dibawa Sang Malapetaka itu juga kerajinan tembaga buatan pak Zubaidi. Kain lurik yang dikenakan Neewa. Kain lurik itu merupakan hasil kerja tangan Mbah Reso yang menggunakan teknik gendong.

Lalu gimana sih jalan cerita film pendek End of Black Era?






 

Pernah lihat film fantasi 'kan? Semacam Avatar atau The Lord of The Ring. Nah, film ini hampir mirip lah. Film bergenre  fantasi ini bercerita tentang  Neewa yang sedang dikejar-kejar oleh Enemy karena Neewa ini membawa  Talisman (jimat). Film pendek ini baru prolog jadi sebagai awal, sehingga cerita lengkapnya belum ada. 



Yang unik dan menonjol pastilah costume, bukan sekedar baju ya gengs tapi seluruh properti dari alas kaki, perhiasan hingga di tokoh antagonis yang warna mukanya biru macam avatar. Saya kok ngerasa film ini kayak film buatan luar negeri padahal bikinin anak negeri 'lho!

Mbak Yuris, memang ingin memperkenalkan tentang costume dan berharap  film-film lokal juga lebih memperhatikan tentang costume dan bisa ikut menggunakan produk lokal seperti kerajinan tradisional dan turut mempromosikan.

Ngomongin costume artist ternyata kalau mau bikin costume bagus macam film fantasi memang harganya mahal. Di film End of Black Era, Yuris menjelaskan jika rompi dari kulit lembu harganya hampir 40 juta, kemudian untuk muka yang warna biru dari lateks harganya juga puluhan juta, itupun hanya awet satu jam.

Bajunya dari bulu angsa asli lho.

Satu lagi 'nih yang menarik dari film End of Black Era yaitu Bahasa Angin yang digunakan dalam dialog film ini. Sepintas saya juga penasaran yang diomongin sama pemain film ini bahasa apa, karena bahasa daerah bukan, Inggris bukan latin juga bukan. Ternyata menggunakan bahasa angin yang khusus diciptakan, hurufnya ada bahkan kamusnya sedang dalam proses pembuatan. Jenis huruf bahasa angin ada di pamflet yang hurufnya mirip huruf Jawa.



Screening film End of Black Era - The Incident kayaknya hasilnya positif, banyak pihak yang mengapresiasi hasil karya sineas muda Yuris dan Yongki. Dari penggunaan kerajinan tradisional hingga kostum serta storynya yang memang bagus. Saya sih berharap film ini akan berkelanjutan dan ada versi film layar lebar dan tayang di bioskop seluruh Indonesia. Ciayo Yuris  Yongki.

  


Thursday, 15 June 2017

Indahnya Persahabatan yang Sehatea






“Selamat datang dek, semoga betah ya disini bersama kami” Dengan ramah perempuan muda itu menyalami saya dan mengucapkan selamat datang pada saya dan dua rekan saya. Kami bertiga baru saja diterima menjadi pegawai di sebuah kantor pemerintah dan itu hari pertama kali masuk.

Efek Negatif Internet Bagi Para Pelajar dan Anak-Anak

efek negatif internet


Halloha Sobat Prima, siapa nih yang nggak maenan internet? Dari anak bayi umur 1 tahun sampai simbah-simbah sepertinya terjun ke dunia maya semua ya. Apalagi sekarang, akses internet nggak harus bisa komputer, dengan modal hape android ajah udah bisa jadi warganet.

Kebebasan berinternet menyebabkan segala jenis usia bisa mengakses dan menggunakan internet dengan sangat mudah. Bagi seorang pelajar maupun anak-anak sekaligus dapat dengan mudah mempergunakan internet yang bisa mereka dapat dari handphone genggam yang diberikan orang tuanya.

Seorang pelajar maupun anak-anak belum memiliki sistem filterisasi dalam dirinya, sehingga akan sangat mudah terpengaruh dengan konten-konten yang ada didalam internet. Baik konten yang bersifat positif maupun content yang memiliki efek negatif. Namun efek negatif internet inilah yang biasanya sering terserap pada otak anak-anak.

Kita sebagai orang tua, seharusnya mampu selalu mengawasi dengan sangat ketat atas segala fasilitas yang diberikan kepadanya anaknya. Cobalah untuk tidak memberikan gadged kepada anak-anak yang memang belum waktunya memiliki gadget. Jika memang terpaksa memberikan gadget, maka berilah gadget yang memiliki keamanan pengaksesan internet dengan baik. Jika hal tersebut tidak dilakukan, maka dampaknya adalah anak-anak kita mendapatkan efek negative dari internet.

Wednesday, 14 June 2017

JC Forest, Cafe Bernuansa Rimba di Jogja City Mall





[JC Forest, Cafe Bernuansa Rimba di Jogja City Mall]

Dengan langkah tergesa aku segera melangkahkan kaki menuju lantai 2 Jogja City Mall. Ku tengok kanan dan kiri mencari tulisan JC Forest, nama cafe tempat berbuka puasa bareng beberapa rekan saya. Food court lantai 2 Jogja City Mall dipenuhi pengunjung yang ingin menikmati santap berbuka puasa. Ku lirik jam di pergelangan tangan yang sudah menunjukkan pukul 5 lebih lima menit.  "Yah, terlambat dah" Dalam hati aku sedikit menyesal karena tidak bisa on time dan datang sedikit terlambat dari waktu yang sudah disepakati. 

Tuesday, 13 June 2017

Pompa Air Tanpa Listrik dan Keuntungan yang Bisa Didapatkan






Pompa air merupakan jenis pompa yang dapat digunakan untuk menghasilkan air untuk mengisi bak mandi atau tandon sehingga air yang dihasilkan dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Ada banyak merek, jenis, dan juga spesifikasi dari pompa yang bisa dipilih untuk dapat menghasilkan air di rumah tersebut. Salah satu hal yang berkaitan dengan pompa air tersebut adalah ia menggunakan tenaga listrik untuk dapat menghidupkan agar melakukan tugasnya yaitu untuk menyediakan air di rumah. Tetapi karena perkembangan jaman sekarang ini bisa ditemukan pompa air tanpa listrik yang mempunyai keuntungan apabila menggunakan jenis ini daripada pompa air yang menggunakan listrik. Dimana beberapa keuntungan tersebut adalah sebagai berikut ini:

Wednesday, 7 June 2017

Berbuka Puasa di Parsley Resto Seturan


[Berbuka Puasa di Parsley Resto Seturan

Mari berbuka dengan yang manis gaes. Setidaknya jika tak ada menu pembuka yang tastenya so sweet, sini berbuka sama yang manis-manis macam saya ((GeeR)). Tapi beneran sih, paling enak itu setelah bedug magrib terdengar langsung nyruput es teh manis atau kelapa muda. Langsung cles gitu ya gaes. 

Staycation Murmer di Airy Rooms Bandara Adisucipto Kalasan

[ Review Hotel ] Staycation time. Untuk kesekian kalinya saya dan keluarga menghabiskan weekend dengan staycation di hotel. P...