Bertanya kepada Tuhan; Kenapa Tuhan menciptakan "Satir", sebuah gaya bahasa atau bentuk seni menggunakan humor, ironi, sindiran, atau ejekan untuk mengkritik kebodohan, keburukan, atau penyalahgunaan manusia, individu, atau masyarakat.
"Tapi Tuhan, sekarang satir sudah tak mampu lagi untuk mengingatkan hati yg bebal".
Bahkan tubuh-tubuh bertumbanganpun pun tak mampu menyadarkan manusia-manusia yg bahkan mulutnya sudah bosan mengunyah.
Mungkin saja otak mereka pun sudah tak mampu menghitung berapa harta yg dia timbun. Tetapi nyatanya itu semua belum cukup.
Mengenal kata "cukup" ternyata sama sekali tak mudah. Padahal Tuhan sendiri mengajarkan doa Bapa Kami ; berilah kami rejeki hari- ini bukan doa yg meminta harta berlebih yg membuat kami lupa diri.
Bisa mengenal kata "cukup" adalah anugrah. Bukan hanya "cukup" materi, tapi dalam segala hal. Hubungan dengan orang lain, hawa nafsu dan ambisi.
Jika kita tak bisa berhenti di kata cukup. Maka kita akan menjadi sosok baru, yaitu manusia serakah.
Lantas Tuhan. Apakah aku cukup diam saja atau tetap berbuat "Satir" meski tak pernah terbaca, apalagi menggugah?

Komentar
Posting Komentar
Hai kawan, terimakasih sudah mampir ya. Pembaca yang cantik dan ganteng boleh lho berkomentar, saya senang sekali jika anda berkenan meninggalkan jejak. Salam Prima :)