Ketika Lagu #TanamSaja Menginspirasi Saya



Matahari begitu menyengat. Keluar di jam makan siang adalah sebuah "penggosongan diri". Diam di rumah pun keringat mengucur deras jika tanpa AC atau kipas.

Kenapa dunia bisa sepanas ini? Ataukah kita kebanyakan dosa? Wkwkwkwk. sorry gw bukan club-club  yang suka nyambungin hal kayak gitu. Ini azab kita #eh. LoL


Btw, Indonesia yang dulu kayaknya ngga segerah ini deh :(

Cuma saya ataukah teman-teman juga merasakan fenomena ini?


Suhu udara yang selalu tinggi, hujan yang tak kunjung turun. Sungai-sungai yang tak lagi mengalir. Tanah-tanah yang kering. Pohon meranggas. Debu beterbangan dimana-mana. Bahkan sumber air bersih mulai sulit ditemukan.

Bahkan di bulan Oktober kemaren suhu bisa mencapai 36 derajad. Masak telor di aspal bisa mateng itu yak. 

Dulu nggak kegerahan saat nonton terasnjung :0

Dua puluh tahun yang lalu rasanya saya tak perlu kipas angin saat di dalam rumah. Nonton tersanjung rame-rame pun nggak gerah meski tanpa kipas. Yang bikin gerah cuma kenapa episodenya kagak habis-habis. LoL

Belum ada orang pake AC kecuali kantor, itupun sangat juarang. Saya masih tak berani mandi pagi saat di rumah simbah yang berada di sekitar Gunung Prau. Airnya yang sedingin es membuat saya urung untuk mengguyur badan. Sekarang, saat malam pun saya berani mandi dengan air dingin. 

Ada apa dengan alam kita?

***

Saya termasuk orang yang cuek akan alam sekitar. Pada lingkungan. Asal bersih aja udah. Hingga saya mendengarkan sebuah lagu dari Nosstress, band akustik dari Bali. Lagu tersebut berjudul Semoga Hanya Lupa.


Okay, biar kalian related sama lagu n tema yang bakal saya bahas, mending kalian puter dulu lagu kece berikut. Saya jamin pasti jatuh cinta sama lagu ini ya, bukan ke gw ya. LoL


Tenang, tenang udara
Nyaman, nyaman dirasakan
Setiap jalan ini, senang ku lewati
Setiap hidup ini, tenang ku jalani
Karna alam adalah temanku
Dia beri semua untukku

Bait pertama dan kedua bisa dibilang menggambarkan alam lingkungan kita dua puluh tahun yang lalu. Dimana semua terasa nyaman. Tanah kosong dengan pepohonan masih banyak dijumpai. Halaman depan rumah masih subur ditanami pisang atau mangga. Sumber air melimpah, sangat jarang terjadi banjir, udara bersih tanpa polusi, pohon tumbuh subur dengan hasil panen melimpah. Dan kita mengganggap alam sekitar adalah teman. Yang di Jawa pasti masih ingat, saat panen pasti ada wiwitan, yang empunya sawah bersyukur dengan membagikan nasi, sedikit urap dan ikan asin. Tapi, semua itu terasa sangat lezat.

Sederhana bisa menjadi mewah karena penuh rasa syukur.

Panas-panas, mulai terasa


Sahabatku, mulai marah


Kususah, tuk temukan senyumnya


Tak ada, hijaunya lagi
Bait selanjutnya sangat jelas bisa mencerminkan kondisi sekarang ini. Kemarau sangat panjang, bahkan meski sudah bulan November, di tempat saya, Jogja ini baru turun hujan dua kali. Itupun cuma sebentar dan tidak terlalu deras.

Rupanya alam masih pelit, air yang tumpah dari langit baru sakiprit. Bahkan meski sudah hujan pun tetep gerah aja lho. Heran aku tuh.

Apa alam benar-benar marah, karena kita tak pernah peduli. Tebang pohon seenaknya, bakar hutan semaunya, produksi sampah plastik sebanyak-banyaknya, tutup semua tanah dengan semen, penuhi kebon dengan bangunan hingga tak ada lagi ruang hijau. Bahkan untuk air masuk ke tanah pun sudah semakin sulit.




Saya merasa ditampar. Sangat diingatkan. Jika apa yang kita alami sekarang memang karena ulah kita sendiri manusia dengan egoismenya meraup segalanya dari alam tanpa mau peduli dan memberi imbal balik.
Kita lupa, tuk menyayanginya
Kita hanya ingat menikmatinya
Kita lupa tuk memeliharanya
Kita lupa, ia sahabat kita
Lalu saya harus apa?

Nosstress mengajak kita untuk #TanamSaja melalui lagu yang sudah mereka rilis sejak tahun 2012 lewat Album Perspektif Bodoh dan saya baru tahu lagu ini tahun 2019. Hellow, mbak kemana saja selama ini :))

Baca juga : Tentang Nosstress Bali


Lagu kedua dari Nosstress yang menggugah saya untuk kembali peduli pada lingkungan adalah lagu Tanam Saja tersebut. Simak lirik lagunya dulu ya, kuy!


Aku merasakan ini.
Kamu tahu aku sakit hati?

Melihat semua mati di hadapanku.

Dan yang tersisa cuma debu.


Ini serius.

Tentang bumi ini, alam ini, dan kebun di depan rumahku.

Tentang pohon pisang, tentang rumput liat, tentang capung, tentang burung, tentang kenyataan bahwa semuanya tak seindah dulu.


Kita harus menanam kembali hijau saat ini dan nanti.

Kita harus menanam kembali satu saja sangat berarti untukmu.

Tanam saja, tanam sajalah.

Alam sehat, tanggung jawab

Saya seperti disadarkan, jika apapun yang terjadi dengan alam kita, lingkungan sekitar, bumi ini adalah tanggung jawab kita sebagai manusia. Kita yang mendiami bumi, kita pula yang mengeksploitasi. Lalu jika bukan tanggung jawab kita lalu siapa.

Apakah ALIEN?

Lalu kalian tunjuk, Pemerintah donk! Ini kerjaan para pecinta lingkungan! Ini tugas Presiden! Ini kesalahan para pengusaha yang menebang pohon! dan Bla Bla Bla....

Kita, ya kita, memang lebih mudah mengeluarkan jari telunjuk kemudian menudingkannya ke orang lain. Padahal jika kita perhatikan saat kita menunjuk maka empat jari yang lain akan menunjuk ke diri kita.

Bener nggak?

Saya jadi tertarik untuk menanam pohon. Tapi saya nggak punya lahan. Rumah petak cuma tersisa teras kecil yang juga sudah tertutup keramik. Lantas saya menanam dimana?

Belum lagi kekawatiran tangan saya yang "panas" nanti tanaman yang saya tanam mati. Lagian saya ngga paham nanem-nanem gitu. Ntar kalau pada mati, piye? Kasihan malahan. Ternyata ngga cuma orang patah hati yang galau, mo nanem pohon aja juga galau. LoL

Lirik Kita harus menanam kembali satu saja sangat berarti untukmu menggelitik hati saya. Hingga saya pun mengajak teman-teman kantor untuk beli tanaman. Pak Nur yang selalu setia menemani para ibu-ibu kantor pergi, mengantar  kami ke penjual tanaman di daerah Bugisan. Disana ada beberapa penjual tanaman dan kebetulan salah satunya saudara Pak Nur. Jadi kami dapat harga spesial.


Finnally, saya beli beberapa tanaman hias. Bukan yang bunga-bunga. Saya memang pengen yang daun-daun saja biar seger gitu. Beli beberapa dan saya taruh di teras rumah. Beberapa hari kemudian dapet rejeki ajak pak Nur lagi, eh beli taneman lagi, dan lagi. Hingga tiba-tiba di hari kesekian saya bawa taneman pulang pak suami komentar "Kok beli taneman terus kenapa eh, ikut ikut temen apa yang jual ganteng?"



Wakakakakaka. Keanehan yang terjadi pada diri saya kontan membuat mas bojo juga penasaran. Mungkin dalam hatinya, kesambet apa ini kesayanganku kok pulang kantor bawa taneman terus. 



Daripada cerita panjang lebar tentang saya yang terinspirasi dari lagu Nosstress yang terkesan absurd, saya cerita aja jika pengen beli juga kayak teman-teman kantor. Kalau temen kantor pada beli anggrek yang mahal, saya cukup beli daun-daun hijau saja yang penting seger.



Dan doi maklum :))

Mungkin sudah sebulan ini "anak-anak" saya  yang warnanya hijau nongkrong di teras rumah. Beberapa bahkan sudah tumbuh daun baru, dan saya excited melihatnya. Dari daun kecil yang lama-lama membesar, dari daun yang menggulung di sorenya dan paginya sudah terkembang lebar dengan warna hijau muda yang menyegarkan. 



Saya jadi fresh dan entah, ada sensasi tersendiri  saat menyiram mereka. Pulang kantor saya siapin ember dan nyalain kran hingga air penuh. Menyiram setiap "anak" dengan hati tersenyum. Dilanjutkan dengan menyapu samping rumah yang sebelumnya jarang saya sapu. Hehehe. Ada nilai plusnya ya berkebun itu, jadi rajin bersih-bersih juga.

Btw. saya punya mimpi suatu saat bisa punya tanah yang agak luas dan saya berjanji pada diri sendiri untuk tidak menutup semua tanah dengan bangunan. Cukup setengah saja, dan biarkan setengahnya tetap menjadi kebun dengan segala habitatnya.

Boleh minta AMIN ciiin :))  

Inspirasi bisa datang dari mana saja, dari siapa saja, mungkin karena saya memang sangat suka musik, jadi saya lebih mudah  terinfluence dengan musik yang apik. Siapaun inspirator kalian, apapun inspirasi yang kalian dapatkan, lakukan saja jika semua itu baik.

Terimakasih Nosstress, lewat musik kalian saya merasakan bersatunya dengan alam.

 

So, teman-teman semua mari kita harus menanam kembali. Hijau saat ini dan nanti. Kita harus menanam kembali. Satu saja sangat berarti untukmu. Tanam saja. Tanam sajalah

 

Comments