Skip to main content

Ditraktir Nonton Raminten Cabaret Show, Ternyata Begini Rasanya!

Rintik hujan belum juga berhenti. Perlahan titik-titik hujan itu mulai berkurang volumenya. Warna langit  kelabu mulai menghilang. Jalanan Jogja mulai padat, maklum saja Jumat sore waktunya para perantau pulang ke kampung halaman dan para pekerja meninggalkan tempat mereka mendulang rupiah dan kembali ke rumah.
Rintik hujan tak mengurangi semangat saya tetap melajukan motor menuju kawasan yang paling ingin didatangi oleh wisatawan tetapi sangat dihindari oleh orang Jogja. Malioboro. Jika tidak terpaksa rasanya orang Jogja males ke sini 'kan?
Macet. Berjubel manusia. Tapi, bagi orang luar Jogja, Malioboro serasa magnet dengan kekuatan super kuat.
Sesampai di Malioboro hujan telah berhenti. Rupanya Tuhan tahu keinginan umatnya. Para wisatawan ingin menikmati Malioboro tentunya tanpa berbasah-basahan. Begitupun saya yang harus berjalan kaki dari Malioboro Mall menuju Mirota Batik. Dari ujung ke ujung ye kan.
Jumat yg lalu seorang teman, Mas Bagus dari Cepu sedang berulang tahun dan…

Mendidik Anak Menyukai Bisnis Keluarga Ala Sukanto Tanoto


Sukanto Tanoto dan istrinya, Tinah Bingei Tanoto, memiliki cara tersendiri dalam memperkenalkan bisnis keluarga kepada anak-anaknya. Dengan langkah khusus itu, mereka berharap tumbuh rasa cinta terhadap usaha yang dikelola oleh keluarganya.

Sukanto Tanoto    merupakan pendiri sekaligus chairman Royal Golden Eagle (RGE). Perusahaan itu merupakan korporasi kelas internasional yang bergerak dalam pemanfaatan sumber daya alam.

Didirikan pada 1973, Royal Golden Eagle mempunyai lingkup bidang usaha beragam. Mereka memiliki anak-anak perusahaan yang bergerak dalam industri pulp and paper, kelapa sawit, selulosa spesial, viscose fibre, dan pengembangan energi.

Sukanto Tanoto memulai Royal Golden Eagle dari nol. Ia yang merintis dan membesarkannya hingga berkembang menjadi perusahaan dengan aset senilai 18 miliar dollar Amerika Serikat. Kini grup yang berdiri dengan nama awal Raja Garuda Mas tersebut juga sanggup membuka lapangan kerja untuk sekitar 60 ribu karyawan.

Bersama istrinya, Tinah Bingei Tanoto, memiliki empat orang anak. Mereka adalah Andre Tanoto, Belinda Tanoto, Imelda Tanoto, dan Anderson Tanoto.

Sebagai orang tua, Sukanto Tanoto ingin memperkenalkan pekerjaan yang ditekuninya kepada anak-anaknya. Ia berharap bisa membuka mata anaknya supaya tahu persis bisnis yang dikerjakannya selama ini.

Cara yang dilakukan oleh Sukanto Tanoto sungguh unik. Ia bersama istrinya kerap mengajak anak-anaknya untuk datang langsung dan mengisi liburan ke sejumlah perkebunan dan pabrik RGE.

“Ketika mereka masih di Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar, kami menghabiskan seminggu atau dua minggu di pabrik. Sekarang mereka telah terbiasa dengan suasana perusahaan sehingga membuat segalanya lebih mudah bagi mereka,” ujar Sukanto Tanoto kepada Globe Asia.

Langkah yang dilakukan oleh Sukanto Tanoto terbilang janggal. Biasanya liburan identik dengan bepergian ke tempat-tempat wisata. Namun, Sukanto Tanoto dan istrinya memilih mengajak putra putrinya ke pabrik.

Keduanya sengaja melakukannya supaya anak-anaknya memahami pekerjaan orang tuanya. Hal itu diharapkan bisa menumbuhkan rasa cinta terhadap bisnis keluarga. Namun, lebih penting, Sukanto Tanoto dan istrinya ingin menanamkan semangat kerja keras kepada anak-anaknya.
Putusan itu ternyata disambut baik oleh anak-anak Sukanto Tanoto. Kini setelah dewasa, mereka tetap mengingat momen-momen ketika berlibur di pabrik atau perkebunan Royal Golden Eagle.

Anderson Tanoto misalnya. Hingga sekarang ia masih mengenangnya karena masa itu dirasanya begitu berkesan.

“Saya menghabiskan empat atau lima masa liburan di Kerinci, Riau, di perkebunan. Bagi anak kecil, bisa berada di alam, momen itu terasa menyenangkan. Saya juga terkagum-kagum melihat bangunan-bangunan besar, mengenakan helm proyek, serta berkeliling lewat kanal dan sungai,” kenang Anderson Tanoto seperti dipaparkan oleh CNBC.



Bukan hanya Anderson Tanoto yang merasa senang diajak berlibur ke pabrik RGE. Belinda Tanoto tak kalah girang. Ia bahkan merasa hal itu sangat membantunya untuk menumbuhkan ikatan emosional dengan Royal Golden Eagle.

“Saat tumbuh besar, kami selalu ke kembali lapangan dan perkebunan. Jadi, kami selalu punya jalinan emosi yang besar dengan bisnis ini,” papar Belinda Tanoto.

Misi Sukanto Tanoto dan istrinya terlihat tercapai. Anak-anaknya tumbuh dan memiliki kedekatan emosional dengan Royal Golden Eagle. Diam-diam, ini juga cara bagi Sukanto Tanoto untuk mempersiapkan suksesi pemegang tampuk kendali bisnis RGE pada masa depan.

Hal itu diakui oleh Sukanto Tanoto. Menurutnya istrinya yang berpikir panjang tentang proses suksesi. Dalam wawancara dengan Globe Asia pada 2015, ia menyatakan memang mulai mempersiapkan penerusnya di Royal Golden Eagle.

“Saya memulai perencanaan suksesi sekitar sepuluh tahun lalu. Tapi istri saya sudah memulainya sejak dua puluh tahun lalu. Jadi, saya sangat beruntung memilikinya,” ujar Sukanto Tanoto.
             

MEMBEBASKAN LANGKAH ANAK


Buah nyata dari pengenalan bisnis keluarga yang dilakukan oleh Sukanto Tanoto terlihat dari jejak langkah anak-anaknya. Putra-putrinya tertarik untuk berkiprah di Royal Golden Eagle.

Salah satunya diperlihatkan oleh Anderson Tanoto. Ia memang tertarik mengelola bisnis Royal Golden Eagle. Saat ini merupakan salah satu direkturnya.

Meski begitu, Sukanto Tanoto tidak memberi keistimewaaan kepada anak-anaknya. Jika memang ingin berkarier di Royal Golden Eagle, putra putri Sukanto Tanoto tetap harus merintis karier dari bawah. Bahkan, sebelumnya mereka harus punya pengalaman kerja terlebih dulu di luar RGE.

Akibatnya, selepas kuliah, Anderson Tanoto pernah bekerja sebagai konsultan di Bain & Company. Sementara itu, Belinda Tanoto juga menjalani karier sebagai analis di Morgan Stanley terlebih dulu sebelum bergabung dengan Royal Golden Eagle.

Namun, kebijakan yang diminta oleh Sukanto Tanoto itu dirasa bermanfaat. Putra putrinya merasa dirinya jadi punya bekal tambahan sebelum berkarier di Royal Golden Eagle. Salah satunya dirasakan secara nyata oleh Belinda Tanoto.

“Saya belajar banyak bagaimana menjalin hubungan dengan stakeholder dari Tiongkok. Hal itu berguna dan terpakai ketika saya menjadi salesperson untuk bisnis keluarga di Shangdong, Tiongkok,” ucap Belinda Tanoto.

Kendati demikian, Sukanto Tanoto dan istrinya tidak mau memaksa anak-anaknya supaya terjun ke Royal Golden Eagle. Mereka tetap membebaskan putra dan putrinya dalam memiliki karier masing-masing.

Kini, tidak semua putra dan putri Sukanto Tanoto bergabung mengelola Royal Golden Eagle. Putra pertamanya, Andre Tanoto, memilih untuk menjalankan bisnis trading dan investasinya sendiri. Sementara, satu putri Sukanto Tanoto lebih suka beraktivitas bersama Tanoto Foundation yang didirikannya.

“Saya yakin pertama kali mereka harus diberi kesempatan, stimulan, dan peluang untuk mengembangkan potensinya. Jika mereka ingin bekerja dan hatinya memang ada di sana, hasil pekerjaannya pasti akan sangat bagus,” ujar Sukanto Tanoto.

Putra dan putri Sukanto Tanoto juga menyadari bahwa status sebagai anak pendiri perusahaan tidak membuat mereka istimewa. Mereka tetap harus bekerja keras merintis karier dari bawah. Bahkan, mereka justru wajib membuktikan kemampuannya terlebih dulu sebelum meraih sebuah posisi.

Mereka sadar suksesi di Royal Golden Eagle tidak berdasar keturunan, namun karena kemampuannya. “Bagi kami, rencana suksesi adalah perencanaan bisnis. Itu bukanlah sekadar memiliki anggota keluarga yang mengelola perusahaan. Ini tentang siapa yang terbaik dalam menjalankan perusahaan. Kami tidak membedakan antara manajer profesional dan anggota keluarga yang bekerja di dalam perusahaan. Semua lebih terkait kapabilitas dibanding asal muasal siapa dia,” ujar Anderson Tanoto.

Oleh karena itu, pendekatan profesional dilakukan oleh Sukanto Tanoto ketika berdiskusi dengan anak-anaknya dalam pengelolaan RGE. Ia akan menawarkan ide terlebih dulu. Baru setelah itu, putra putrinya meresponsnya.

“Sekitar 50 tahun lalu ketika saya baru memulai bisnis ini, anak-anak hanya diperintah untuk melakukan sesuatu. Sekarang saya harus menjual ide dan meyakinkannya kepada mereka. Masing-masing dari mereka memiliki kekuatan dan kelemahan tersendiri. Jadi, saya berharap mereka mampu bekerja sama,” ujar Sukanto Tanoto.

Sukanto Tanoto telah menikmati buah dari langkahnya memperkenalkan bisnis keluarga kepada anak-anaknya. Di antara mereka kini ada yang tertarik untuk bekerja di RGE untuk mengelola bisnis keluarga.

Comments

Popular posts from this blog

Villa Budi Luhur II , Villa Pilihan Keluarga di Sekipan Tawangmangu

Dah hari Jumat aja nih, weeked brooo, mari piknik biar awet muda ya. Kali ini saya mau membagi cerita piknik keluarga saya beberapa waktu yang lalu. Bukit Sekipan Tawangmangu bisa jadi pilihan kamu untuk berlibur bareng keluarga. Ada villa dengan view cantik, hutan pinus dibelakang rumah dan kebun strawberry di depannya. Nikmat apa yang saya dustakan coba.
Sedianya saya ingin berkeliling Semarang, bersama orangtua, keluarga saya dan adik-adik saya. Tapi hunting hotel koq harganya ga turun-turun dan Bapak saya enggan untuk berjalan jauh, akhirnya saya pengen ngadem aja di Tawangmangu.
Dah pada tahu kan, di Tawangmangu banyak villa cantik dan dekat obyek wisata Grojogan Sewu. Pasti sangat ramai, padahal saya pengen tempat yang sepi, tenang dan dingin. Ratusan hotel, villa dan penginapan berjajar di sekitar Tawangmangu, satu persatu villa saya hubungi dan Villa Budiluhur jadi pilihan saya. Pemilik menawarkan villanya yang baru, karena villa lama sudah dipesan orang lain. Jadilah saya be…

Pengen Baby Selalu Wangi? Ini Rahasianya Moms

Time flies so fast gaes, tak terasa anak mbarep saya sudah berusia lima tahun. Usia dimana "masa kritis" seorang anak telah terlampaui dan saya merasa sedikit lega. Kenapa dikatakan semasa balita merupakan masa kritis? Karena di usia bawah lima tahun seorang anak masih rentan terkena penyakit, masih membutuhkan penanganan ekstra dan perhatian khusus dari orang tua terutama Ibu.



Hari ini saya sangat bahagia, duo anak lanang sehat dan tumbuh dengan baik, walaupun yang mbarep agak langsingan sedang adiknya lebih gembul. Ya, namanya anak-anak berbeda dan unik. Keduanya amat saya sayangi dan cintai.


By the way busway ((siapa yg naik busway 'nyah)). Walaupun sekarang sudah tidak merasakan rempongnya punya bayi, tapi terkadang banyak hal yang berhubungan dengan bayi membuat saya kangen pengen megang bayi lagi (('sok bikin)). Jujur sih, saya pengen punya bayi lagi, tapi maunya cewek biar ada yang nurunin cantiknya saya ((hueex)), tapi sabar masa produktif saya masih beberapa…

11 Lagu Sedih Tentang Cinta Beda Agama

Hayoo, siapa yang belum pernah ngerasain patah hati. Sepertinya nggak ada yaaa, kecuali kamu belum pernah punya kekasih hati. Hahaha.  Saat lagi patah hati, paling enak 'tuh ya dengerin lagu sedih yang sesuai banget ama suasana hati yang mendayu-dayu. Puasin 'dah menangis berdarah-darah, apalagi terprovokasi lagu sedih yang membuat air mata tak henti mengalir. Karena, kalau lagi patah hati tapi berniat menghibur diri dengan mendengarkan lagu heppi tuh tetep kagak mempan. 
Mewek? Nggak papa koq. Asal kagak ada orang lain lihat atau orang yang kamu tangisi tahu. Bisa GeeR dia nanti. 
Ngomong-ngomong tentang patah hati atau putus cinta, banyak penyebabnya. Sebut saja, doi selingkuh, doi udah nggak cinta, doi dah bosen, doi dijodohin ortunya. Tapi, kalau menurut saya nih, putus cinta karena "perbedaan" itu yang bikin nyesek. Padahal keduanya saling mencintai. Tapi, tetep harus pisah. Nah lo!
Menjalani sebuah hubungan dengan perbedaan agama/keyakinan memang sangat berat …