Skip to main content

Ditraktir Nonton Raminten Cabaret Show, Ternyata Begini Rasanya!

Rintik hujan belum juga berhenti. Perlahan titik-titik hujan itu mulai berkurang volumenya. Warna langit  kelabu mulai menghilang. Jalanan Jogja mulai padat, maklum saja Jumat sore waktunya para perantau pulang ke kampung halaman dan para pekerja meninggalkan tempat mereka mendulang rupiah dan kembali ke rumah.
Rintik hujan tak mengurangi semangat saya tetap melajukan motor menuju kawasan yang paling ingin didatangi oleh wisatawan tetapi sangat dihindari oleh orang Jogja. Malioboro. Jika tidak terpaksa rasanya orang Jogja males ke sini 'kan?
Macet. Berjubel manusia. Tapi, bagi orang luar Jogja, Malioboro serasa magnet dengan kekuatan super kuat.
Sesampai di Malioboro hujan telah berhenti. Rupanya Tuhan tahu keinginan umatnya. Para wisatawan ingin menikmati Malioboro tentunya tanpa berbasah-basahan. Begitupun saya yang harus berjalan kaki dari Malioboro Mall menuju Mirota Batik. Dari ujung ke ujung ye kan.
Jumat yg lalu seorang teman, Mas Bagus dari Cepu sedang berulang tahun dan…

Soto Gedhek Cungkrungan, Bukan Sekedar Pengobat Lapar, Tapi Pengobat Rindu



Mengobati kerinduan tentulah dengan jalan bersua. Bertemu secara langsung. Lalu gimana kalau kangen sama  masa lalu 'kan waktu nggak bisa diputar dan kita nggak punya mesin waktu yang bisa mengantar ke jenjang waktu yang kita rindukan?

Seperti saat ini, saya begitu merindukan masa kecil dan kenangan-kenangan yang menyertai kebahagiaan saya sepanjang kanak-kanak.

"Yank, aku pengen soto deket pengadilan, nanti pas pulang mampir ya" setengah merayu saya meminta suami untuk mampir ke warung soto langganan saya semasa kecil.

"Yoh" Jawab suami saya.

Dua hari menghabiskan akhir minggu di tempat Ibu belum memuaskan "kerinduan" saya. Masih ada yang kurang. Ternyata saya kangen makan soto ayam langganan kami 25 tahun yang lalu. Warung soto di tahun 90an belum sebanyak sekarang. Dimana setiap sudut desa, pinggir jalan atau di kota bisa dengan mudah kita temukan warung soto. Jenis sotopun semakin beragam, dari soto ayam, soto sapi, soto kudus, soto lentok dan mungkin masih ada jenis soto lain.



Seingat saya salah satu soto legendaris di Klaten adalah Soto Gedhek Sungkur. Berada di jalan Jogja Solo tepatnya di Sungkur atau dekat Pengadilan Klaten. Jika kita dari timur warung soto ada di sebelah kiri. Soto itu ada sebelum saya lahir. Entah tahun berapa berdirinya secara pasti saya juga kurang tahu.

Memang tidak setiap hari saya sekeluarga jajan soto di warung Soto Gedhek Sungkur. Kulineran di masa lalu jadi sebuah momen yang istimewa, hanya makan soto sekalipun. Makan diluar rumah menjadi momen yg spesial tak seperti orang sekarang yang hobi jajan dan juarang sekali masak (tunjuk hidung sendiri). Lol.

Beruntung saya punya suami yg baik, selalu menuruti permintaan istri. Entah, karena beneran manut atau karena takut nggak dapat jatah malemnya. Lol. Mobil berhenti pas di depan warung. Tempat parkir yang terbatas membuat suami harus memarkir agak jauh. Motor-motor berjajar di depan warung. Rupanya lahan yang makin sempit karena jalan yang terus diperlebar membuat warung Soto Gedhek tak memiliki lahan parkir yang luas. Tetangga kanan kiri rupanya enggan memberi ruang parkir, rambu bergambar huruf P yang dicoret sudah menjadi pertanda jelas. Dilarang parkir.




Saya sudah lupa kapan terakhir ke sini. Mungkin sudah sepuluh atau dua puluh tahun nggak menikmati soto Gedhek. Soto gedhek memang terkenal karena gedheknya (dinding bambu). Meskipun bangunan luar sudah berubah tapi gedhek masih ada di bagian luar.  Saya rindu gedhek ternyata :D



Soto Gedhek merupakan soto ayam dengan kuah yang bening. Kaldu dari ayam kampungnya begitu terasa. Kentang yang diiris tipis, digoreng hingga kering menambah cita rasa tersendiri. Aroma cengkeh membuat soto gedhek punya rasa khas. Sayang porsi nasinya cuma sedikit. Padahal mangkoknya gede. Lol.




Sesuap demi sesuap  nasi soto mengobati kerinduan saya. Aprin kecil duduk manis sembari tak henti menggoyangkan kaki  nampak menikmati soto dengan gembira. Bapak dan adik saya juga lahap menyantap soto panas mereka. Ingatan saya melayang ke 25 tahun yang lalu. Sepulang dari gereja Bapak bablas ke Klaten dan mengajak kami sarapan soto di warung Soto Gedhek. Kami hanya bertiga karena dulu kami cuma punya 1 motor. Ibuk tidak diajak karena tidak muat boncengan berempat.

Hanya makan soto menjadi sebuah kemewahan bagi kami. Berteman lauk tempe goreng dengan ukuran besar. Tepung tipis yang menyelimuti dan sensasi kriuknya tak berubah hingga sekarang. Ayam kampung goreng nampak begitu menggoda. Soto Gedhek memang menghadirkan ayam kampung asli sebagai sajian utama. Baik itu sebagai kaldu ataupun lauk.




Ruangan yang dulu terasa besar sekarang nampak sempit. Bagi Aprin kecil warung soto itu besar, bisa muat banyak orang tapi bagi saya sekarang yang ukuran badannya mungkin 5x lebih besar terasa kurang lega.

Tak banyak yang berubah dari warung Soto Gedhek. Mungkin hanya dinding-dinding tua sudah dicat ulang dan dikeramik. Beragam kalender dari macam-macam toko tertempel di dinding. Jam dinding berwarna biru dengan tulisan VIVA menarik perhatian saya. Sebuah toserba legendaris pada jamannya. Sewaktu masih SD toko VIVA menjadi toserba paling lengkap dan paling laris. Saya agak lupa toko Laris sudah ada belum ya. Toko VIVA berada di sebelah utara masjid Klaten. Sekarang menjadi Matahari. Sebelum Matahari dibangun sempat berjaya toko VIVA disana.



Sampai sekarang warung Soto Gedhek Sungkur masih ramai pengunjung. Entah itu musafir yang sedang lewat jalan Jogja-Solo, pelanggan yang rutin sarapan disini, atau pengunjung yang tak hanya ingin mengobati rasa laparnya tapi juga menjadi pengobat rindu.

Kenangan kulineran bersama Bapak memang sudah terobati. Tapi kerinduan akan masa kecil yang bahagia, Bapak yang galak tapi sangat menyayangi kami akan tetap ada di hati. Rindu itu akan tetap ada, karena rindu adalah candu.

Comments

  1. Nuwun infonya Mbak. Selama ini klo lewat Klaten ke timur jarang lewat di depan pengadilan, seringnya ngambil jalan-jalan desa. Nggak ngeh kalau ada warung soto ini.

    ReplyDelete
  2. wooww otentik banget, kalau ke klaten harus mampir

    ReplyDelete
  3. Makan soto kalo nggak ada tempe goreng tepung rasanya kurang sip gitu haha....

    ReplyDelete
  4. Wah boleh nih, saya punya temen yang rumahnya di belakang pengadilan. Kapan2 main dan minta di traktir soto gedhek ini ah. Makasih tan Prima....

    ReplyDelete
  5. Sotonya berarti dah lama banget dong ini ya. Aku juga suka banget sama soto. Tapi suka aneh kalau bikin sendiri ga pernah enak hehe

    ReplyDelete
  6. Aisshhh kebetulan 28 okt nanti aku mau k solo. Mau mampir ah k klaten nyobain sotonya :D. Suka nyobain soto bening gini. Rasanya sueegerr :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Hai kawan, terimakasih sudah mampir ya. Pembaca yang cantik dan ganteng boleh lho berkomentar, saya senang sekali jika anda berkenan meninggalkan jejak. Salam Prima :)

Popular posts from this blog

Villa Budi Luhur II , Villa Pilihan Keluarga di Sekipan Tawangmangu

Dah hari Jumat aja nih, weeked brooo, mari piknik biar awet muda ya. Kali ini saya mau membagi cerita piknik keluarga saya beberapa waktu yang lalu. Bukit Sekipan Tawangmangu bisa jadi pilihan kamu untuk berlibur bareng keluarga. Ada villa dengan view cantik, hutan pinus dibelakang rumah dan kebun strawberry di depannya. Nikmat apa yang saya dustakan coba.
Sedianya saya ingin berkeliling Semarang, bersama orangtua, keluarga saya dan adik-adik saya. Tapi hunting hotel koq harganya ga turun-turun dan Bapak saya enggan untuk berjalan jauh, akhirnya saya pengen ngadem aja di Tawangmangu.
Dah pada tahu kan, di Tawangmangu banyak villa cantik dan dekat obyek wisata Grojogan Sewu. Pasti sangat ramai, padahal saya pengen tempat yang sepi, tenang dan dingin. Ratusan hotel, villa dan penginapan berjajar di sekitar Tawangmangu, satu persatu villa saya hubungi dan Villa Budiluhur jadi pilihan saya. Pemilik menawarkan villanya yang baru, karena villa lama sudah dipesan orang lain. Jadilah saya be…

Pengen Baby Selalu Wangi? Ini Rahasianya Moms

Time flies so fast gaes, tak terasa anak mbarep saya sudah berusia lima tahun. Usia dimana "masa kritis" seorang anak telah terlampaui dan saya merasa sedikit lega. Kenapa dikatakan semasa balita merupakan masa kritis? Karena di usia bawah lima tahun seorang anak masih rentan terkena penyakit, masih membutuhkan penanganan ekstra dan perhatian khusus dari orang tua terutama Ibu.



Hari ini saya sangat bahagia, duo anak lanang sehat dan tumbuh dengan baik, walaupun yang mbarep agak langsingan sedang adiknya lebih gembul. Ya, namanya anak-anak berbeda dan unik. Keduanya amat saya sayangi dan cintai.


By the way busway ((siapa yg naik busway 'nyah)). Walaupun sekarang sudah tidak merasakan rempongnya punya bayi, tapi terkadang banyak hal yang berhubungan dengan bayi membuat saya kangen pengen megang bayi lagi (('sok bikin)). Jujur sih, saya pengen punya bayi lagi, tapi maunya cewek biar ada yang nurunin cantiknya saya ((hueex)), tapi sabar masa produktif saya masih beberapa…

11 Lagu Sedih Tentang Cinta Beda Agama

Hayoo, siapa yang belum pernah ngerasain patah hati. Sepertinya nggak ada yaaa, kecuali kamu belum pernah punya kekasih hati. Hahaha.  Saat lagi patah hati, paling enak 'tuh ya dengerin lagu sedih yang sesuai banget ama suasana hati yang mendayu-dayu. Puasin 'dah menangis berdarah-darah, apalagi terprovokasi lagu sedih yang membuat air mata tak henti mengalir. Karena, kalau lagi patah hati tapi berniat menghibur diri dengan mendengarkan lagu heppi tuh tetep kagak mempan. 
Mewek? Nggak papa koq. Asal kagak ada orang lain lihat atau orang yang kamu tangisi tahu. Bisa GeeR dia nanti. 
Ngomong-ngomong tentang patah hati atau putus cinta, banyak penyebabnya. Sebut saja, doi selingkuh, doi udah nggak cinta, doi dah bosen, doi dijodohin ortunya. Tapi, kalau menurut saya nih, putus cinta karena "perbedaan" itu yang bikin nyesek. Padahal keduanya saling mencintai. Tapi, tetep harus pisah. Nah lo!
Menjalani sebuah hubungan dengan perbedaan agama/keyakinan memang sangat berat …