August, Why U so Long?


Dompet yang semakin menipis membuat saya agak khawatir. Namun, seketika kekawatiran saya lenyap. "Ah, sekarang 'kan sudah minggu ketiga, pasti Minggu depan sudah gajian. " Saya mulai lega, meskipun agak nggak yakin isi dompet masih cukup nggak ya untuk hidup seminggu ke depan. Yah, beginilah nasib pegawai gaes. Boros di awal bulan, ketap-ketip di akhir bulan.

"Pak Nur, gajian kapan sih?" tanya saya pada bendahara gaji kantor

"Seh suwi yo" Jawab pak Nur (masih lama ya)

"Mosok. Bukannya seminggu lagi, sekarang sudah minggu ketiga tho pak" bantah saya.

"Mbok dilihat tanggalannya. Tanggal satu itu kapan." Pak Nur kembali menjelaskan.

Spontan saya tengok kalender yang menempel di dinding belakang tempat duduk. Mata saya terbelalak, mulut mengangga dan keluhan panjang mengagetkan teman sebelah saya.

"Haaaaaaaa..... Tanggal satu masih dua minggu lagi" saya terduduk lemas.

"Tanggal satu itu hari Jumat mbak Prim, tanggal merah lagi, jadi gajiannya tanggal 4 September" ujar teman sebelah saya semakin menambah kekecewaan hati saya.

"Yung alah, ternyata gajian benar-benar dua minggu lagi"


***

Sobat Prima, mungkin kegalauan hati di bulan Agustus ini bukan cuma saya sendiri. Bagi karyawan yang gajian di awal bulan atau tanggal satu pasti juga merasakan kalau bulan Agustus ini begitu lama. Bayangkan, jika biasanya dalam satu bulan ada 30 atau 31 hari. Eh, di bulan Agustus ini jumlah harinya 34 gaes. Di kalender sih tertulis tiga puluh satu hari, tapi realitanya gajian yang seharusnya tanggal satu jadi mundur di tanggal 4 karena bertepatan dengan tanggal merah.

Kembali saya pandangi kalender berwarna dasar putih dengan tulisan angka berwarna biru dan merah yang sepertinya tersenyum mengejek kegalauan hati saya. Setengah hati saya menata perasaan dan mengingat-ingat kira-kira masih ada invoice yang belum cair atau enggak. Setidaknya jika invoice cair bisa untuk beli milktea Chatime favorit saya. Eh, buat beli beras ama telor dink. :D

Memang, di bulan Agustus ini ada lima minggu, jadi perkiraan saya minggu ketiga sebagai minggu terakhir itu salah besar. Masih ada minggu ke lima neng!

Pupus sudah harapan gajian seminggu lagi. Tak ada istilah untuk bermalas-malasan. Beberapa job yang lewat deadline segera saya kerjakan. Agar kerjasama berjalan mulus. Ah, dasar manusia. Ketika terdesak saja,  kembali menjadi rajin. LoL.

Meskipun dompet masih tebel. Iyak, isinya aneka kartu dan nota belanja. Gak ono duwek e. LoL. Bukan menjadi alasan kita nggak bisa bersenang-senang. Happy-happy dan menikmati hidup 'lur. Masih banyak cara untuk bahagia, meski nggak bisa ngemall atau belanja-belanji.

Mau tahu apa yang saya lakukan saat dompet menipis tapi tetap happy?

1. Minum teh panas bersama kesayangan




Sore hari, sepulang dari kantor segera mandi. Seduh segelas teh celup, goreng ubi ungu modal dikasih temen yang habis panen.  Walaupun stok uang di brankas menipis, tentunya di dapur masih ada gula dan teh celup Sariwangi tho. Nikmati secangkir teh panas yang uap panasnya masih mengepul dan ubi goreng hangat yang aromanya menusuk hidung. 

Semilir angin senja begitu menyejukkan hati. Rumah saya depannya kebon, jadi angin-angin nakal masih banyak bertebaran disini. Sesekali ngobrol satu dua kata sama Mas Bojo yang sibuk dengan smartphonenya. Memantau lapak batu akiknya.

Duo anak lanang yang gemar banget mengganggu teh manis saya. Jadi nggak kerasa, segelas besar teh manis ludes seketika. Sungguh kebersamaan seperti ini priceless gaes. Problemo dan kegalauan hati dari kantor karena 34 hari di bulan Agustus seketika lenyap. Apalagi kalau setiap menyesap teh manis, kemudian mata terpejam dan ada kamu di mataku. HADEW.

2. Mudik ke rumah ortu

warung gratis euy :D

Nah ini gaes, satu cara agar tetap bahagia meski dompet menipis. Lha gimana enggak, saat mudik atau pulang ke rumah orang tua banyak keuntungan yang didapat ((ya elah, emang jualan)). Pertama, makan gratis tentunya. Kedua, duo anak lanang dapat uang saku. Ketiga, siapa tahu pas weekend ortu lagi pengen jalan-jalan, lumayan kan ikut piknik. Lol. Keempat, pulang bawa sembako.

Hahahaha.

Plis, poin ke dua ini, DON'T TRY AT HOME yak! Tapi beneran lho, selain bisa melepas rindu, bersilahturahmi banyak yang bisa kita dapatkan saat kembali ke pelukan ibunda. Apalagi Ibuk saya punya toko di rumah. Jadi lah, duo anak lanang jajan gratisan, belum lagi kalau mau balik Ibuk pasti nanyain. Mau bawa ini nggak, berasmu masih ndak, punya itu nggak. Udah, biar cepet iyain ajah. Rejeki jangan ditolak. Pamali atuh! 

3. Piknik ke obyek wisata gratis


Entahlah, bawaan lahir kali ya. Saya dan Ibuk saya sering pusing kalau nggak keluar rumah. Bahkan suami sampai hapal, kalau udah janji mau kemana sama Ibuk saya dan batal, bisa berabe urusannya. Atau jika Ibuk saya sudah mengeluh inilah, itulah obatnya cuma diajak jalan. Kemana ajah. Nggak perlu yang jauh atau mahal.

Nah, seperti itulah juga saya. Bukan salah saya ;kan. Tapi salah Ibu mengandung dan menurunkan darah tukang jalan. ((sungkem sama simbok)).

Parahnya, hobi jalan menular ke anak dan suami. Hal itu tak menjadi masalah seandainya ada uang. Duit pas-pasan tapi pengen piknik, gimana tuh? Tenang, banyak jalan menuju Roma. Banyak tempat di Jogja yang gratis atau tiket masuknya gratis. 

Dulu nyuapin anakpun sampai candi :D

Deket rumah saya ada Candi Kalasan, Candi Gebang, Candi Sari, Candi Sojiwan atau kalau terlalu dekat cukup ke Candi Sambi Sari. Sepuluh menit dari rumah udah nyampe. Tiket masuk cuma 2000 atau malah gratis. Taman dengan rumput hijau memanjakan mata. Gasebo yang ada di sudut areal bisa jadi tempat duduk sembari melihat arca peninggalan nenek moyang. Atau cukup bawa cemilan, buku bacaan dan ajak anak-anak duduk dibawah pohon. 

Oke gaes, cukuplah menghitung hari. Mari menghitung kebahagiaan yang telah kita dapatkan. Berhenti bersungut-sungut dan mencaci maki bulan Agutus yang begitu lama ini. Cukuplah berdoa semoga September benar-benar Ceria.



Comments

  1. Kalo buatku yang belum gajian, dan masih sekolah, bulan agustus kemarin rasanya sama-sama aja hehehe.... Sepakat mbak, mari berdoa semoga september kali ini membahagiakan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enak mbak kalau masih sekolah, tinggal nodong orangtua. Hehehe

      Delete
  2. Hahahaha podoooo agustus suwe men
    Mana ultah raffi wingi kae -___- makanw ultane mundur akhir bln

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ketambahan pengeluaran yaa, semangat mbak pasti ada rejeki kok. Ktjup buat Rafi

      Delete
  3. Duhh toss, aku juga lagi megap-megap syur ni mba, moga ada rezekinyaa. Aamiin..keep cemumuut..wah rumahmu dekat Sambisari yo, asiknya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, deket candi2, kalau ke Jogja mampir ya

      Delete
  4. Hahahahaha nasib akhir bulan di dompet selalu tersisa 3M, marebu maratus mapuluh. Eh bener 34 hari, kok saya luput merhatiin kalender yah.

    ReplyDelete
  5. Hahaha sama bun. Klo gajian itu bener2 "Terima Kasih" ya. Terima lalu langsung Kasih k buat bayar ini bayar itu 😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahha...terima langsung dikasihin ke orang, yawis disyukurin bun daripada nggak ada yang dikasihkan.

      Delete
  6. Klo September...cepet mba.. Besok blm lama ambil gaji, eh..tau2 dah gajian lagi☺

    ReplyDelete
  7. Omg rumahmu sepertinya asyik bgt ya mba. Ada kebon, deket candi pula.. Seneng bgt anak2 mah bisa main di tempat begitu.

    Kalo gajian, aku bersyukur kantorku yg menganut sistem lbh cepet. Kita gajian tgl 25. Tp kalo tgl 25 itu merah, akan dimajuin jd tgl 24 nya.. Ga prnh mundur.. Itu yg aku syukurin dr bank asing ini :D.

    ReplyDelete
  8. ha, ah, betul juga kunjungan ke ortu asal rumahnay satu kota, kalau lain kota sih sama saja bohong ya

    ReplyDelete
  9. Itulah senengnya di Jogja. Banyak candi yg htm nya murmer hihi.. kangen Jogja deh jadinya ^^

    ReplyDelete
  10. wkkka yang ortunya buka toko ternyata enak juga ya. hoho. omg foto tahun berapa itu masih gendong bayi sampai candi, salut=)

    ReplyDelete

Post a Comment

Hai kawan, terimakasih sudah mampir ya. Pembaca yang cantik dan ganteng boleh lho berkomentar, saya senang sekali jika anda berkenan meninggalkan jejak. Salam Prima :)