Skip to main content

Ditraktir Nonton Raminten Cabaret Show, Ternyata Begini Rasanya!

Rintik hujan belum juga berhenti. Perlahan titik-titik hujan itu mulai berkurang volumenya. Warna langit  kelabu mulai menghilang. Jalanan Jogja mulai padat, maklum saja Jumat sore waktunya para perantau pulang ke kampung halaman dan para pekerja meninggalkan tempat mereka mendulang rupiah dan kembali ke rumah.
Rintik hujan tak mengurangi semangat saya tetap melajukan motor menuju kawasan yang paling ingin didatangi oleh wisatawan tetapi sangat dihindari oleh orang Jogja. Malioboro. Jika tidak terpaksa rasanya orang Jogja males ke sini 'kan?
Macet. Berjubel manusia. Tapi, bagi orang luar Jogja, Malioboro serasa magnet dengan kekuatan super kuat.
Sesampai di Malioboro hujan telah berhenti. Rupanya Tuhan tahu keinginan umatnya. Para wisatawan ingin menikmati Malioboro tentunya tanpa berbasah-basahan. Begitupun saya yang harus berjalan kaki dari Malioboro Mall menuju Mirota Batik. Dari ujung ke ujung ye kan.
Jumat yg lalu seorang teman, Mas Bagus dari Cepu sedang berulang tahun dan…

Pesona 3 Desa Adat di Timur Indonesia



desa adat Indonesia
Apa sih yang ada di benak kamu saat ngomongin wisata Indonesia?

Bali.
Pantai indah
Borobudur
Kraton Jogja.

Pasti nggak jauh-jauh dari itu kan.

Memang sih, wisata Indonesia terwakili akan indahnya pesisir, eksotisnya candi dan uniknya budaya tiap daerah di Indonesia. Wisata budaya memiliki daya tarik tersendiri gaes. Selain menyaksikan keindahan alam, keunikan arsitektur bangunan di desa adat kita juga bisa melihat langsung kebiasaan hidup masyarakat lokal hingga mengikuti ritual budaya. Kali ini saya ingin mengajak masbro, mbaksis untuk mengenal 3 desa adat yang hingga kini masih hidup dengan cara sangat tradisional, belum terjamah kamu gaya hidup modern dan menjaga kelestarian adat istiadat mereka.


Nah, biar pengetahuan geografi, antropologi kamu bertambah serta nggak kurang piknik yuk mengenal desa adat yang masih menjunjung tinggi budaya asli serta hidup jauh dari modernisitas:

1.  Desa adat Sade, Lombok Tengah

 





Desa adat Sade saat ini sedang ngehits dan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan asling ataupun domestik yang berkunjung ke Lombok. Dulu, Desa Adat Sade belum begitu terkenal tapi beberapa tahun belakangan wisatawan yang piknik ke Lombok pasti juga mengunjungi Desa Adat Sade dan tak lupa selfi di depan papan nama Desa Sade. ((Kamu juga khan?)).





Masbro, mbaksis. Desa  Adat Sade terletak di desa Rembitan, Pujut Lombok Tengah. Desa ini dihuni masyarakat suku Sasak yang nota bene adalah warga asli Lombok. Memasuki kawasan Desa Sade kita akan disuguhi pemandangan berbeda dengan desa pada umumnya. Suasana perkampungan asli pribumi Lombok sangat terasa, dari bentuk bangunan, pakaian adat serta ritual budaya.





Rumah di desa Sade masih sangat tradisional, beratapkan ijuk, kuda-kuda atap memakai bambu tanpa paku, dinding dari anyaman bambu dan masih beralaskan tanah gaes. 

Yang bikin wow nih gaes, warga desa adat Sade punya kebiasaan mengepel lantai menggunakan kotoran kerbau/sapi. Itu tuh yang warnanya kekuningan ((nggak usah dibayangin)). KOtoran sapi/kerbau dioleskan dialas rumah hingga merata dan pakai tangan. Catet, pakai tangan dan dicampur sedikit air biar lembek-lembek gitu. Menurut warga asli desa Sade lantai rumah menjadi lebih hangat dan dijauhi nyamuk.

Nah, pengen rumah kamu bebas nyamuk?

Boleh lho ngolesin kotoran sapi dirumah kamu. LOL

2.  Desa Adat Wae Rebo Manggarai

 




Kampung diatas awan, begitulah sebutan untuk desa adat Wae Rebo yang terletak di desa Satar, Kecamatan Satarmese, Manggarai Barat, Flores. Yang unik dari desa adat ini adalah rumah adat yang bernama Mbaru Niang. Rumah berbentuk kerucut yang didalamnya ada 4 tingkat dan ditinggali oleh 7 sampai 8 kepala keluarga. Jadi, walaupun terlihat kecil karena bentuknya yang mengerucut tapi Rumah Mbaru Niang ini sangat luas.

Desa adat ini masih menjaga kelestarian adat istiadat dan belum tersentuh pengaruh luar sama sekali. Kearifan lokal dengan melestarikan rumah Mbaru Niang terjaga hingga kini. Tahukah kamu gaes, di Wae Rebo hanya diperbolehkan berdiri 7 buah Mbaaru Niang. Masyarakat yang tidak tertaTidak ada sinyal HP dan masyarakat bermatapencaharian sebagai petani. Desa Wae Rebo berada di ketinggian 1200 mdpl. 

Hingga kini Wae Rebo masih menjaga kearifan lokal mereka yaitu menjaga kelestarian Mbaru Niang. Di Wae Rebo hanya diperbolehkan ada 7 Mbaru Niang. Masyarakat yang tidak tertampung diWae Rebo akan tinggal di Kampung Kombo yang berjarak sekitar 5 km dari Wae Rebo dan mendapat sebutan sebagai kampung kembaran Wae Rebo.

Ehm, unik sekali ya sobat Prima. Semoga kelestarian Mbaru Niang akan tetap ada hingga anak cucu kita nanti, agar mereka tahu betapa kaya negeri kita.



3.  Desa Adat Kampung Tarung, Sumba

sumber gambar : liputan6.com

Berada di tengah kota tidak membuat warga Suku Loli di Kampung Tarung melupakan adat istiadat yang dituruan oleh leluhur mereka. Kampung Tarung berada di Waikabubak, ibukota Sumba Barat namun desa adat ini tidak terpengaruh akan kemajuan perkotaan.

Setiap daerah memiliki adat tersendiri yang harus ditaati oleh warganya maupun penunjung. Begitupula jika kamu memasuki Kampung Tarung, sebelumya kamu harus meminta ijin dari Rato, sebutan pemuka adat suku Loli.



 
Kampung Tarung dipercaya sebagai tempat tinggal pertama leluhur Sumba yaitu Sudi Wonanyoba yang selalu menjaga pasangannya yang bernama Tarung. Keyakinan jika leluhur tertinggi menjaga yang lemah dan dijaga hingga sekarang. Kampung Tarung dijaga kesakralannya dan wisatawan tak berizin dilarang memasuki wilayah Kampung Tarung.

Kampung Tarung Memiliki Rumah Tahan Gempa 

 

Yang paling menarik dari Kampung Tarung adalah arsitektur bangunan serta tatanan desanya. Bangunannya indah sekaligus unik serta setiap bangunan memiliki filosofi sendiri-sendiri.

Rumah-rumah di Kampung Tarung disebut Uma, ditata memanjang dengan struktur persegi empat, bangunan berbentuk panggung yang ditopang oleh tonggak kayu. Kerangka utama bangunan Uma yaitu tiang turus (kambaniru ludungu) sebanyak 4 batang dan 36 batang tiang (kambaniru) dengan sambungan kayu mosa, kayu delomera dan kayu masela. DI tengah perumahan terdapat kuburan megalitik atau makam dari batu yang disebut Waruga. Tata letak tersebut menjadi simbol kosmologi lokal.

Ohya gaes, rumah Uma tidak menggunakan logam sama sekali tapi kekuatan bangunan teruji hingga sekarang dan tahan gempa. Sistem struktur yang sederhana ini karena suku Loli tidak mengenal alat pertukangan selain parang dan Kapak.


Satu lagi yang menarik dari Kampung Tarung yaitu budaya Merapu yang merupakan filsafat bagi suku Loli. Merapu memiliki ajaran memuja roh leluhur dan meyakini bahwa kehidupan ini hanya sementara. Sayang budaya Merapu mulai berkurang dan dilupakan oleh generasi sekarang.


***********

Sobat Prima, negeri kita sangat kaya akan budaya, keelokan alam dan keramahan masyarakat lokal. Sudah seharusnya kita mejadi masyarakat sadar wisata dan "nguri nguri kabudayan" serta tidak merusak alam sekitar. Pesona Indonesia, wujud pesona diri kita.

Comments

  1. Gila, keren abis, dari dulu saya pengen banget berkunjung ke tempat-tempat seperti ini...sayangnya jauhhhhh >_<

    ReplyDelete
  2. artikelnya sangat keren dan menarik mba, dan desanya memiliki ciri khas tersendiri baik adat maupun budayanya mba.

    ReplyDelete

Post a Comment

Hai kawan, terimakasih sudah mampir ya. Pembaca yang cantik dan ganteng boleh lho berkomentar, saya senang sekali jika anda berkenan meninggalkan jejak. Salam Prima :)

Popular posts from this blog

Villa Budi Luhur II , Villa Pilihan Keluarga di Sekipan Tawangmangu

Dah hari Jumat aja nih, weeked brooo, mari piknik biar awet muda ya. Kali ini saya mau membagi cerita piknik keluarga saya beberapa waktu yang lalu. Bukit Sekipan Tawangmangu bisa jadi pilihan kamu untuk berlibur bareng keluarga. Ada villa dengan view cantik, hutan pinus dibelakang rumah dan kebun strawberry di depannya. Nikmat apa yang saya dustakan coba.
Sedianya saya ingin berkeliling Semarang, bersama orangtua, keluarga saya dan adik-adik saya. Tapi hunting hotel koq harganya ga turun-turun dan Bapak saya enggan untuk berjalan jauh, akhirnya saya pengen ngadem aja di Tawangmangu.
Dah pada tahu kan, di Tawangmangu banyak villa cantik dan dekat obyek wisata Grojogan Sewu. Pasti sangat ramai, padahal saya pengen tempat yang sepi, tenang dan dingin. Ratusan hotel, villa dan penginapan berjajar di sekitar Tawangmangu, satu persatu villa saya hubungi dan Villa Budiluhur jadi pilihan saya. Pemilik menawarkan villanya yang baru, karena villa lama sudah dipesan orang lain. Jadilah saya be…

Pengen Baby Selalu Wangi? Ini Rahasianya Moms

Time flies so fast gaes, tak terasa anak mbarep saya sudah berusia lima tahun. Usia dimana "masa kritis" seorang anak telah terlampaui dan saya merasa sedikit lega. Kenapa dikatakan semasa balita merupakan masa kritis? Karena di usia bawah lima tahun seorang anak masih rentan terkena penyakit, masih membutuhkan penanganan ekstra dan perhatian khusus dari orang tua terutama Ibu.



Hari ini saya sangat bahagia, duo anak lanang sehat dan tumbuh dengan baik, walaupun yang mbarep agak langsingan sedang adiknya lebih gembul. Ya, namanya anak-anak berbeda dan unik. Keduanya amat saya sayangi dan cintai.


By the way busway ((siapa yg naik busway 'nyah)). Walaupun sekarang sudah tidak merasakan rempongnya punya bayi, tapi terkadang banyak hal yang berhubungan dengan bayi membuat saya kangen pengen megang bayi lagi (('sok bikin)). Jujur sih, saya pengen punya bayi lagi, tapi maunya cewek biar ada yang nurunin cantiknya saya ((hueex)), tapi sabar masa produktif saya masih beberapa…

11 Lagu Sedih Tentang Cinta Beda Agama

Hayoo, siapa yang belum pernah ngerasain patah hati. Sepertinya nggak ada yaaa, kecuali kamu belum pernah punya kekasih hati. Hahaha.  Saat lagi patah hati, paling enak 'tuh ya dengerin lagu sedih yang sesuai banget ama suasana hati yang mendayu-dayu. Puasin 'dah menangis berdarah-darah, apalagi terprovokasi lagu sedih yang membuat air mata tak henti mengalir. Karena, kalau lagi patah hati tapi berniat menghibur diri dengan mendengarkan lagu heppi tuh tetep kagak mempan. 
Mewek? Nggak papa koq. Asal kagak ada orang lain lihat atau orang yang kamu tangisi tahu. Bisa GeeR dia nanti. 
Ngomong-ngomong tentang patah hati atau putus cinta, banyak penyebabnya. Sebut saja, doi selingkuh, doi udah nggak cinta, doi dah bosen, doi dijodohin ortunya. Tapi, kalau menurut saya nih, putus cinta karena "perbedaan" itu yang bikin nyesek. Padahal keduanya saling mencintai. Tapi, tetep harus pisah. Nah lo!
Menjalani sebuah hubungan dengan perbedaan agama/keyakinan memang sangat berat …