Monday, 10 October 2016

#BatikIndonesia Harmonisasi Tradisi dan Inovasi




Jika ditanya baju apa yang harus saya miliki?

Pasti jawabannya batik. Karena selain menjadi seragam kantor saat hari Kamis, baju bermotif batik merupakan baju yang "fleksibel". Bisa digunakan untuk njagong manten, menghadiri acara resmi, ngemall bareng temen bahkan batik menjadi teman setia saat tidur. Iyess, daster batik kesayangan yang beli di Pasar Bringharjo beberapa tahun yang lalu masih awet saja hingga kini.

Ngomongin batik,  pasti kalian punya donk, entah itu dalam bentuk kemeja, gamis, kaos, baby doll, kain pantai, celana, tas atau sepatu. 

Punya kan? 

Jika kalian sampai nggak punya sama sekali, kebangetannya pake banget gaes. Sini ke Pasar Bringharjo bareng kaka' atau kalau nggak mau kayak emak-emak karena ke pasar,  mari ke Mirota Batik biar kekinian. Eh, kok jadi promo ya gaes.

Sobat Prima, bagi saya sendiri memiliki baju batik sudah menjadi keharusan. Bukan karena sekedar untuk seragam kantor ya gaes, tapi karena saya memang cinta batik. Memakai batik itu memiliki kesan eksotis, anggun dan filosofis. Hahaha, kok bisa? Bisa donk. 

1. Batik itu eksotis

Batik itu memiliki daya tarik tersendiri, ada kekhasan yang menjadi ciri tersendiri dan unik. Kain batik bisa dibilang unik karena walaupun banyak motifnya tapi khasnya berbeda pada tiap daerah. Saat kita melihat seseorang memakai kain batik pasti dia menjadi lebih menarik 'kan, daya tarik yang tidak pasaran dan bikin inner beauty kamu keluar lho.

2.  Batik itu anggun

Anggun disini bukan mbak Anggun yang nyanyi lagu "Mimpi" ya tapi anggun yang saya maksud berarti apik dan berwibawa. Kain batik yang kita kenakan akan mengubah kita menjadi sosok yang anggun. Jika biasanya style saya apa adanya, selebor, tomboy. Ketika memakai dress batik maka saya merasa menjadi perempuan yang anggun. Begitupun saat saya melihat pria memakai batik, ehem jadi makin gagah dan berwibawa. 

3.  Batik itu filosofis

Idola saya Bapak Presiden juga suka memakai baju batik, dalam kunjungan kenegaraan, menghadiri event beliau sering memakai batik. Kata Pak Jokowi setiap motif batik itu filosofis, memiliki arti khusus dan ada waktu penggunaannya. Saya ingat ketika acara mitoni anak pertama saya memakai 7 kain batik bergantian dengan motif yang berbeda. Setiap motif memiliki makna dan maksud tersendiri dan bagi saya budaya kita memang sangat mengagumkan.

Sejarah Batik dan Tradisi

Sumber gambar : modelbatikterbaru.com

Sobat Prima, kata pepatah "tak kenal maka tak sayang". Untuk bisa mencintai batik seutuhnya dan bukan karena ikut-ikutan, sudah seharusnya kita juga mengenal asal muasal batik, sejarah tentang batik dan tradisi batik.

Asal Muasal Kata Batik

Kata batik berasal dari bahasa Jawa “amba” yang mempunyai arti menulis dan “titik” yang berarti titik. Kata batik merujuk pada kain dengan corak atau gambar yang dihasilkan oleh bahan malam, yang digunakan untuk menahan masuknya bahan pewarna.

Sejarah Pembuatan Batik

 



Sejarah tentang batik ada beberapa versi dan saya akan membahas sejarah batik yang ada di Nusantara khususnya Jawa. Menurut GP. Rouffaer dalam Bukunya De Batik – Kunst menyebutkan bahwa asal mulanya Batik di Jawa adalah dari luar, dibawa oleh orang Kalinga Koromandel yang mula-mula datang sebagai pedagang kemudian menjadi imigran kolonisator  dan berpengaruh di Pulau Jawa. 

  • Bersumber dari Wikipedia G.P. Rouffaer juga melaporkan bahwa pola gringsing sudah dikenal sejak abad ke-12 di Kediri, Jawa Timur. Dia menyimpulkan bahwa pola seperti ini hanya bisa dibentuk dengan menggunakan alat canting, sehingga ia berpendapat bahwa canting ditemukan di Jawa pada masa sekitar abad 12.
  •  Dalam literatur Eropa, teknik batik ini pertama kali diceritakan dalam buku History of Java (London, 1817) tulisan Sir Thomas Stamford Raffles. Ia pernah menjadi Gubernur Inggris di Jawa semasa Napoleon menduduki Belanda. Pada 1873 seorang saudagar Belanda Van Rijekevorsel memberikan selembar batik yang diperolehnya saat berkunjung ke Indonesia ke Museum Etnik di Rotterdam dan pada awal abad ke-19 itulah batik mulai mencapai masa keemasannya. Sewaktu dipamerkan di Exposition Universelle di Paris pada tahun 1900, batik Indonesia dikenal oleh masyarakat internasional.

Sobat Prima, dari sejarahnya batik telah berusia ratusan tahun. Mengalami pasang surut, perkembangan teknik hingga munculnya berbagai motif dengan makna khusus. Jika dulu batik diproduksi menggunakan canting  dengan teknik tulisan tangan, semenjak industrialisasi dan globalisasi batik di buat dengan teknik otomatisasi yaitu dengan cara dicetak dan dicap.

Tradisi Batik 

 

sumber gambar : virmansyah.info

Mengacu dari usia batik yang sudah ratusan tahun ada di Jawa pastinya juga menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat di Jawa, bahkan tradisi batik telah menyebar di seluruh nusantara hingga munculnya Batik Bali, Batik Aceh, Batik Kalimantan, Batik Minahasa bahkan Batik Papua.

Tradisi Batik di Jawa berhubungan erat dengan Kraton Solo dan Jogja. Munculnya Perjanjian Giyanti pada tahun 1755 yang menyebabkan perpecahan Kerajaan Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Segala macam tatanan adi busana diserahkan oleh Keraton Surakarta pada Keraton Yogyakarta, termasuk batik. Tak heran jika sejak saat itu hingga sekarang Yogyakarta menjadi kiblat budaya begitu juga dengan perkembangan batik.

Apa sih Jogja International Batik Biennale itu? 

 



Hingga sekarang Yogyakaartatelah mendapat predikat sebagai Kota Batik Dunia yang diberikan World Craft Council (WCC) sejak 2014. Support dari Pemda DIY untuk melestarikan batik pun cukup besar. Pekan depan Pemda DIY akan  menggelar Jogja International Batik Biennale (JIBB) 2016, di Gedung Jogja Expo Center, Jalan Janti, Banguntapan, Bantul, pada 12-16 Oktober 2016.

JIBB merupakan event tahunan yang diadakan oleh Pemda DIY.  Koleksi museum batik dari seluruh penjuru Tanah Air  akan ditampilkan di event kece ini gaes.Sepertinya kalian harus menjadwalkan untuk datang ke acara ini.

Para pecinta batik, pengrajin, fashion stylist, pecinta seni dan kamu semua wajib datang gaes, karena berbegai acara yang semuanya berbau batik ada di hajatan besar itu.Symposium batik, pameran, kompetisi, fashion walk, dan karnaval serta gala dinner di Candi Boko.

Bahkan workshop internasional membatik akan diikuti oleh peserta dari Afrika, Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Peserta simposium dan workshop di Hotel Royal Ambarukmo dan Jogja Expo Center ditargetkan sekitar 600 orang dan sepertiganya berasal dari luar negeri.

Siap datang? Harus!
 
Membatik merupakan pekerjaan yang mulia

Semenjak perjanjian Giyanti tahun 1755 yang melahirkan Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta,segala macam tata adibusana termasuk di dalamnya adalah batik,diserahkan sepenuhnya oleh Keraton Surakarta kepada Keraton Yogyakarta. Hal inilah yang kemudian menjadikan Keraton Yogyakarta menjadi kiblat perkembangan budaya,termasuk pula khazanah batik.

Today Deal $50 Off : https://goo.gl/efW8Ef
Bagi masyarakat kraton Jawa membatik merupakan suatu bentuk pengabdian kepada raja. Selain itu membatik digunakan sebagai sumber mata pencaharian dan merupakan pekerjaan esklusif hingga munculnya batik cap yang dikerjakan oleh pria.

Dok Pri



Berdasarkan coraknya ada beberapa jenis batik yaitu batik Kraton, batik Cuwiri, batik Sudagaran, batik Petani, batik Tambal dan beberapa jenis lainnya. Dari namanya kita tahu corak batik tertentu di pakai oleh golongan tertentu pula. Seperti Batik Kraton yang hanya boleh dikenakan oleh raja, permasuri, putra putri dan kerabat kraton, sedang corak batik petani digunakan oleh para petani.


Tradisi Batik Kraton


Aneka motif batik kraton


Batik Kraton dibuat dan digunakan di sekitar kraton, motif dan penggunaannya pun diatur oleh kraton. Proses pembuatan batik kraton sangat rumit dan sering membutuhkan ritual khusus. Batik Kraton memiliki nilai filosofi tinggi dari proses sejarah penciptaanya yang biasanya motif batik kraton diciptakan langsung oleh raja, permaisuri atau putri kraton yang mengandung falsafah hidup tersendiri bagi pemakainya. Batik   tulis  pada awalnya diciptakan     di lingkungan kraton  dengan perhitungan makna filosofis yang dalam. Sekarang batik telah keluar dari benteng dan menjadi milik semua orang, dengan sistem produksi massal baik itu dengan teknik cetak ataupun cap.


Siapkah kamu melestarikan warisan budaya?

 
Bangga memakai batik


Batik bukan hanya milik orang Jawa, tapi juga milik seluruh daerah di Indonesia. Kain batik memiliki kisah akulturasi antar suku dan budaya. Kita patut berbangga karena UNESCO memasukkan batik dalam Daftar Representasi Budaya Warisan Manusia pada 2 Oktober 2009 yang lalu.  Batik nasional mendapat penghargaan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity). Sejak itu setiap tanggal 2 Oktober  ditetapkan menjadi Hari Batik Nasional, seluruh masyarakat, khususnya yang berkarier di instansi pemerintahan diwajibkan memakai batik sebagai seragam pada hari tertentu.

Jokowi dan bos Google (sumber gambar :terasbintang.com)


Sobat Prima, pengakuan terhadap batik merupakan pengakuan internasional terhadap budaya Indonesia. So, jika masyarakat luar negeri tidak malu menggunakan batik, para bule dengan bangga memakai batik. Bahkan CEO Google beserta stafnya memakai baju batik saat menyambut Presiden Jokowi di San Fransisco. Kita sebagai "pemilik" batik sudah seharusnya "nguri-uri" melestarikan dan menjaga keberadaan batik jangan sampai hilang dan musnah atau malah diklaim oleh negara lain.


Lestarikan Tradisi, Inovasi Tiada Henti 





Siapa yang bertugas melestarikan batik?

Pastinya bukan hanya tanggung jawab pemerintah, bukan tugas pak presiden, bukan tugas pengrajin batik atau tugas menteri pariwisata. Batik merupakan warisan budaya, saya ibaratkan batik adalah sebuah rumah warisan dari orang tua kita, sudah seharusnya jika kita sendiri bersama anggota keluarga yang lain yang menerima warisan untuk menjaga dan merawat rumah itu.

Warisan merupakan tanda kasih dari leluhur dan sebagai tanda bakti kepada mereka, kita dengan suka cita akan merawatnya sepenuh hati. Lalu apa saja yang bisa kita lakukan untuk melestarikan tradisi peninggalan leluhur itu:

1. Kita sendiri memakai batik

Batik merah ini favorit saya, merupakan batik Madura.

Tak perlu menyuruh orang pakai batik, percuma banyak bicara tapi kita sendiri tidak mempraktekkannya.

2. Mengenalkan batik pada anak

mas Nathan pede memakai batik

Kita mendapat batik dari generasi pendahulu dan sudah menjadi kewajiban kita untuk menurunkan warisan budaya ini pada generasi mendatang, pada anak-anak kita. Setiap minggu saat ke gereja duo anak lanang memakai batik.  Begitupun di sekolah Nathan, karena tidak memakai seragam saat upacara memakai batik.


3. Membeli  batik langsung pada pengrajin 


Saya lebih senang membeli batik langsung ke pengrajinnya. Harga lebih murah, pilihannya banyak dijamin asli. Saya bersama teman kantor biasanya langsung ke daerah Wijirejo Pandak Bantul. Sentra batik di Bantul. Ada banyak pengrajin batik yang terkenal sejak dulu. Kalau saya suka ke Batik mbak Ida karena kepunyaan temen jadi harga bersahabat.

Baca juga :  Desa Wijirejo sentra Batik di Bantul

4. Pelajaran Membatik Pada Anak Sekolah

sumber gambar :nasional.republika.com

Membatik itu tidak mudah sehingga dibutuhkan perjuangan untuk belajar. Sekarang di sekolah-sekolah ada pelajaran tambahan membatik menggunakan canting. Saya sangat mengapresiasi program ini, anak-anak akan bisa membatik dan bisa menjadi penerus pengrajin batik.

5. Pemakaian batik di hari tertentu



Batik akan semakin terkenal jika banyak orang mengenakannya, begitupun pemerintah mewajibkan pegawainya memakai baju batik di hari tertentu. Tak hanya itu pemerintah daerah juga mengharuskan memakai baju adat di event tertentu. Di lingkungan pemda Bantul pada hari 20 setiap bulannya diwajibkan memakai pakaian adat Gagrak Ngayogyokarto. Saya dan teman-teman kompak memakai kebaya dengan bawahan kain batik.

6. Inovasi


Dulu, batik hanya digemari kaum tua-tua, anak muda enggan memakai batik karena dalam anggapan mereka memakai batik itu kuno. Sekarang batik disukai semua kalangan, dari anak-anak hingga dewasa. Berbagai lapisan masyarakat juga memakai batik sebagai busana favorit. 

Adanya inovasi membuat suatu hal memiliki nilai tambah dan lebih menarik. Tak hanya corak batik yang makin beragam dan eye catching, tapi para designer telah mengciptakan design baju batik style modern.

Batik "Naik Kelas" Berkat Inovasi

Batik sekarang menjadi suatu produk yang kekinian, digemari banyak orang dan batik tak hanya dijual di pasar seperti dulu itu karena adanya inovasi. Aneka batik kreasi dipajang di mall mewah, bahkan Denny Wirawan bersama Bakti Budaya Djarum Foundation membawa wastra Indonesia ke panggung fashion dunia, Fashion Gallery New York Fashion Week (FGNYFW) 2016 melalui lini etniknya Balijava dengan koleksi Batik Kudus.

Lantas apakah inovasi saja cukup?

 

Jawabnya tidak, tradisi harus dijaga agar tetap lestari dan warisan budaya sampai pada generasi berikutnya. Begitupun inovasi diperlukan agar anak muda bisa menerima budaya  itu dan batik bisa mengikuti perkembangan jaman.

Sobat Prima, keberadaan batik hingga sekarang merupakan kerja keras dari para pengrajin. Kita tahu jika batik tekstil atau batik printing semakin marak di pasaran. Apalagi kain batik tekstil itu diimport bukan produk dalam negeri.  Kain batik tekstil tidak diproses seperti batik yang dikerjakan dengan teknik canting dan malam atau lilin, dan batik berupa makna yang terkandung di dalamnya.

Sobat, jika saya boleh memberi saran ada baiknya jika kita membeli batik langsung pada pengrajinnya. Jangan membeli tekstil motif batik atau batik print, filosofi batik terdapat dalam proses pembuatannya. Begitupun dengan corak batik yang memiliki pesan khusus. 

Dulu, pengrajin batik jumlahnya banyak, tapi makin kesini jumlahnya menipis dan hanya yang memiliki modal besar yang bisa bertahan dalam persaingan dengan tekstil. Kemunculan produk printing yang relatif murah dan proses produksinya sangat cepat mulai menyaingi pemasaran batik tulis dan batik cap. Satu persatu industri batik di Laweyan Solo mengalami kebangkrutan dan pada tahun 2000an jumlah industri batik di laweyan hanya menyisakan kurang dari 20 saja. Begitupun dengan sentra batik lain seperti Pekalongan. Sumbangsih kita secara tidak langsung akan melestarikan batik jika kita membeli ke pengrajin. Mereka tetap bisa meneruskan usahanya dan batik akan tetap lestari.

Bayangkan jika konsumen memilih batik tekstil buatan pabrik yang harganya memang jauh lebih murah, tidak ada konsumen yang membeli batik tulis atau batik cap yang dibuat langsung oleh pengrajin. Bisnis mereka akan bangrut, tak ada lagi yang memproduksi batik dan keberadaan batik yang menjadi warisan budaya dunia akan hilang.

Ohya gaes, satu lagi saran boleh ya. Kain batik memiliki makna berbeda pada tiap corak. Ada pakem/aturan dalam pemakaian kain batik. So, boleh kok berinovasi dan berkreasi agar batik berkembang tapi tetap ingat jika kita juga harus melestarikan batik sesuai pakemnya.


*************************

Batik Indonesia adalah warisan adiluhung yang harus dijaga, dirawat dan dikembangkan agar generasi penerus tahu Indonesia punya batik, agar anak cucu nanti tahu Batik Sidomukti dikenakan saat menikah bukan tanpa arti. Tapi corak Batik Sidomukti memiliki makna simbol pengharapan dan doa yang dituangkan dalam ornamen pengisi dan sen-isennya. Sido berarti terkabul harapan/keinginan. Mukti berarti kebahagiaan , berkuasa, disegani dan tidak kurang sesuatu. Leluhur memakai batik Sidomukti karena agar dengan harapan terbaik bagi penganten dan dilambangkan dalam batik.
Sobat Prima, Batik Indonesia adalah harmonisasi dari tradisi dan inovasi, mari kita rawat warisan itu dengan menyelaraskan antara tradisi dan inovasi.  Jangan lupa lestarikan tradisi, terus berinovasi dan jangan melupakan pakem.


Sumber Referensi :
  1. https://id.wikipedia.org/wiki/Batik
  2. http://mudaindonesia.com/pelestarian-batik-sebagai-warisan-budaya-nasional/
  3. http://akucintanusantaraku.blogspot.co.id/2014/01/kebermaknaan-batik-kraton-motif-batik.html
  4. http://www.tribunnews.com/tribunners/2016/02/15/batik-indonesia-go-internasional-di-new-york-fashion-week

9 comments:

  1. Toosss, batik warna merah memberi kesan anggun dan mewah.

    ReplyDelete
  2. Saya fans batik, mbak. Punya banyak koleksi batik. Mama mertua saya malah fans garis keras. Banyak banget koleksi batiknya. Kayaknya tiap jenis batik punya. Kalo saya sih gak terlalu liat jenisnya. Lebih memilih karena suka motifnya dan bahannya. Batik memang eksotis. :)

    ReplyDelete
  3. Betul, batik itu aman aja dipake kemana-mana.
    Apalagi desain baju batik sekarang macem-macem. Pas pulak dipakai sama yang muda-muda.
    Wah, jadi malu nih, koleksi batik paling banyak punyaku itu daster #tutupmuka

    ReplyDelete
  4. Suka banget sama batik tulisnya jogja mba prim. rekan-rekan kerja yang dari luar jogja pun juga seneng banget setiap kita bagi souvenir batik. dan sampe ada juga yang rela balik ke jogja untuk borong batik, tak hanya kain tapi daster dan syall yang jadi favorit.

    ReplyDelete
  5. Mak kayaknya dirimu emang cocok bgt ya pake meraah...ayu menggelegar *liat foto kutubaru* ;D

    ReplyDelete
  6. Batik zaman sekarang cakep-cakep yaa motif dan modelnya, nyaman pula dipakai..

    ReplyDelete
  7. Waaa cantik banget pakai kebaya jumputan. Aku pengin jalan2 ke desa2 batik di Bantul. Cikal bakalnya batik Jogja.

    ReplyDelete
  8. Setuju banget Mbak Prim, kalo batik butuh dan harus dilestarikan dengan inovasi-inovasi yang dinamis :)

    ReplyDelete
  9. Saya waktu kecil sering takut dipakein batik sama bapak. Anggepannya selalu batik itu untuk orangtua dan terasa panas waktu dipakai.
    Tapi begitu udah gede jadi tahu kalau kain batik itu banyak yang adem, dan sekarang malah jadi lebih sering batikan kalau ke acara semi formal :D

    ReplyDelete

Hai kawan, terimakasih sudah mampir ya. Pembaca yang cantik dan ganteng boleh lho berkomentar, saya senang sekali jika anda berkenan meninggalkan jejak. Salam Prima :)

Popular Posts