Skip to main content

Yuk, Walking Tour di Kotagede

Matahari beringsut ke ufuk barat. Belum tenggelam sepenuhnya karena sinarnya masih terasa menyengat di kulit. Kami berempat sudah sampai di sebuah homestay di kawasan Kotagede. Disana sudah ada beberapa teman peserta Kotagede Walking Tour yang akan turut serta menjelajahi area Kotagede. Pastinya dengan berjalan kaki. Judulnya saja sudah walking tour. LoL
Tepat pukul 3 sore walking tour dimulai. Perjalanan diawali dari Lapangan Karang Kotagede, kemudian menyusuri gang-gang  kecil yang hanya bisa dilewati oleh pejalan kaki. Peserta walking tour  sekitar 10 orang termasuk saya, mas bojo dan duo anak lanang. Suami sempat bertanya ulang, apakah serius mau ikut jalan kaki dan gimana kalau anak-anak kecapekan? Spontan saya jawab dengan yakin. "Ya jadilah pak' e" 
Begitulah suami saya yang sering males-malesan kalau diajak jalan kaki agak jauh. Jadinya perlulah sesekali dikerjain diajak jalan agak jauh. Itung-itung olahraga. Hehehehe.
Temen saya, Adimas yang menjadi guide walki…

Saat Harus Bikin Ketupat Sendiri [Kehilangan part 1]



"Sampun waktunipin imsak bapak-bapak, ibu-ibu, sedherek sedoyo"

"Imsaaaaaaaaak"

"Ällahuakbar..... "

Suara adzan subuh membangunkan saya. Lebih tepatnya membuat saya benar-benar bangun. Sedari tadi pukul empat saya sudah mulai terjaga, meski masih awang-awangen untuk bangun. Di hari Sabtu saya lebih bisa bersantai dalam hal bangun pagi, berbeda jika weekday dimana pukul 4 saya sudah harus berjibaku dengan dapur dan sumur.

Sekarang bulan Ramadhan, hari raya Idul Fitri tinggal 13 hari lagi. Dalam kesunyian seperti ini saya teringat jika tak ada lagi Mamak, mertua kesayangan saya. Hampir 7 bulan beliau telah meninggalkan kami, anak-anak, menantu dan cucu-cucu beliau.

Jika ada yang bertanya kenapa saya tidak pernah menuliskan moment ketika beliau sakit dan meninggal, bukan karena beliau tidak berati bagi saya tapi jujur setiap mengetikkan kata mamak dan mengingat beliau saya hanya bisa menangis.  Begitupun sekarang, baru menulis pengantar hidung saya sudah penuh dengan ingus dan mata sembab.

Sampai sekarang pun saya tak pernah berlama-lama berada di rumah Mamak, paling sekedar mengambil motor saja. Bukannya takut, rumah yang sekarang tak berpenghuni itu masih berasa ada aura Mamak. Jika saya masuk ke rumah rasa-rasanya seperti ada yang manggil "Nduk, reneo"

Saya merasakan kesedihan yang amat sangat jika masuk ke rumah itu. Rumah yang menjadi rumah saya semenjak menikah dan meninggalkan rumah orang tua saya. Berada di rumah itu saya hanya merasa kehilangan dan kesedihan.

Mamak sangat berarti bagi saya.

Meski bukan perempuan yang melahirkan saya. Kami saling mengenal semenjak terikat menjadi menantu dan mertua sejak 8 tahun yang lalu. Walaupun bukan perempuan yang merawat saya tetapi waktu 8 tahun yang terasa singkat menjadi waktu yang sangat panjang dan menjadikan Mamak sosok Ibu bagi saya.

Beliaulah yang merawat saya dengan sabar ketika saya bedrest dan muntah tiada henti saat mengandung. Mamaklah yang mengasuh duo anak lanang sedari bayi. Mungkin mamak juga menjadi Ibu bagi duo anak lanang karena selama hampir 9 jam saya meningalkan mereka, Mamaklah yang menemani. Apalagi 4 tahun pertama suami tugas keluar kota dan hanya pulang 2 minggu sekali.

Menjelang lebaran seperti ini rasa kehilangan semakin besar. Lebaran dimana mamak akan menyiapkan ketupat dan opor yang begitu lezat. Menantunya ini tinggal duduk manis sambil lihat tivi. Jika saya mencoba membantu, saya hanya "diusir". 

"Udah sana momong anak saja" kata Mamak

Malam takbiran ketupat sudah siap, opor ayam kampung tersaji di meja dan sambal goreng kentang sangat menggoda untuk dinikmati.

"Uwis, gek dho maem" Mamak menyuruh kami semua menikmati ketupat lebaran yang masih panas.

Pagi harinya saudara-saudara suami akan datang berduyun-duyun ke rumah, karena Bapak (suami mamak) merupakan anak tertua dikeluarganya. Meskipun kami Nasrani tetapi budaya lebaran, silaturahmi dan sungkem juga kami anut seperti masayarakat Jawa lainnya.

Besok, di hari Lebaran rumah bakal sepi, saya dan suami yang harus sowan ke rumah paklik bulik, silaturahmi. Tak ada lagi yang tertua di rumah kami.

Lebaran tanpa ketupat dan opor serasa ada yang kurang, yah walaupun kebiasaan itu baru 8 tahun ini saya ajalani. Di Klaten ketupat opor dimasak sepekan setelah hari raya, disana ada hari bakdo kupat. Saat lebaran juga masak opor sih tapi tanpa ketupat.

Sekarang saya sedang berpikir, besok pas lebaran saya mau masak ketupat atau tidak. Jujur, untuk sekedar masa opor ayam dan sambal goreng saya bisa. Sebagai anak perempuan tertua dari 3 laki-laki sejak kecil saya sudah terbiasa masak. Yah, meski rasanya gitu deh, tapi bukinya adek-adek saya doyan :)

Ibuk saya sendiri selalu membuat ketupat saat bakdo kupat tapi saya hanya membantu memasukkan beras ke dalam ketupat. Saya belum pernah memasak sendiri ketupat mulai dari 0 hingga matang. Takaran dan ukuran beras serta caranya hanya tahu setengah-setengah. Jelas saya belum berani turun tangan sendiri membuat ketupat.

Bingung. Sampai sekarang saya masih galau mau bikin ketupat dan teman-temannya di hari raya lebaran besok atau enggak. Tetapi, suami sangat suka makan ketupat dan opor ditemani emping goreng. Rasanya kok dia bakal kecewa jika tak ada ketupat di hari besar itu. Dan mungkin dia akan semakin teringat akan Mamaknya.

Ehm, mumpung masih ada waktu rasanya saya harus segera memutuskan untuk membuat ketupat sendiri atau pesan lontong ditempat saudara sedangkan opor dan sambal goreng saya masak sendiri. Jika mau bikin ketupat sendiri saya harus kursus ke tempat ibu dan menanyakan dengan detil cara membuat ketupat yang enak.

Ehm, teman-teman sendiri gimana, sudah mempersiapkan apa nih buat lebaran? Kalau di tempat kalian di hari raya harus ada ketupat nggak sih?


Comments

  1. I feel you MakMa. Meskipun Ibuk alm sudah pergi hampir 4 th yang lalu, Ramadhan begini selalu bikin aku melow. Semoga kita selalu dikuatkan ya

    ReplyDelete

Post a Comment

Hai kawan, terimakasih sudah mampir ya. Pembaca yang cantik dan ganteng boleh lho berkomentar, saya senang sekali jika anda berkenan meninggalkan jejak. Salam Prima :)

Popular posts from this blog

Pengen Baby Selalu Wangi? Ini Rahasianya Moms

Time flies so fast gaes, tak terasa anak mbarep saya sudah berusia lima tahun. Usia dimana "masa kritis" seorang anak telah terlampaui dan saya merasa sedikit lega. Kenapa dikatakan semasa balita merupakan masa kritis? Karena di usia bawah lima tahun seorang anak masih rentan terkena penyakit, masih membutuhkan penanganan ekstra dan perhatian khusus dari orang tua terutama Ibu.



Hari ini saya sangat bahagia, duo anak lanang sehat dan tumbuh dengan baik, walaupun yang mbarep agak langsingan sedang adiknya lebih gembul. Ya, namanya anak-anak berbeda dan unik. Keduanya amat saya sayangi dan cintai.


By the way busway ((siapa yg naik busway 'nyah)). Walaupun sekarang sudah tidak merasakan rempongnya punya bayi, tapi terkadang banyak hal yang berhubungan dengan bayi membuat saya kangen pengen megang bayi lagi (('sok bikin)). Jujur sih, saya pengen punya bayi lagi, tapi maunya cewek biar ada yang nurunin cantiknya saya ((hueex)), tapi sabar masa produktif saya masih beberapa…

Villa Budi Luhur II , Villa Pilihan Keluarga di Sekipan Tawangmangu

Dah hari Jumat aja nih, weeked brooo, mari piknik biar awet muda ya. Kali ini saya mau membagi cerita piknik keluarga saya beberapa waktu yang lalu. Bukit Sekipan Tawangmangu bisa jadi pilihan kamu untuk berlibur bareng keluarga. Ada villa dengan view cantik, hutan pinus dibelakang rumah dan kebun strawberry di depannya. Nikmat apa yang saya dustakan coba.
Sedianya saya ingin berkeliling Semarang, bersama orangtua, keluarga saya dan adik-adik saya. Tapi hunting hotel koq harganya ga turun-turun dan Bapak saya enggan untuk berjalan jauh, akhirnya saya pengen ngadem aja di Tawangmangu.
Dah pada tahu kan, di Tawangmangu banyak villa cantik dan dekat obyek wisata Grojogan Sewu. Pasti sangat ramai, padahal saya pengen tempat yang sepi, tenang dan dingin. Ratusan hotel, villa dan penginapan berjajar di sekitar Tawangmangu, satu persatu villa saya hubungi dan Villa Budiluhur jadi pilihan saya. Pemilik menawarkan villanya yang baru, karena villa lama sudah dipesan orang lain. Jadilah saya be…

Kolam Renang Water Park Tirta Taman Sari Bantul

Kolam Renang Taman Tirtasari Bantul - Hayoo siapa suka berenang? Pasti banyak orang yang hobi berenang atau hanya sekedari ciblon main air, termasuk saya. Di kota besar banyak terdapat kolam renang di hotel atau water boom dengan fasilitas super lengkap. Bahkan, sebulan yang lalu ada water boom yang di klaim sebagai water boom terbesar se Jawa Tengah. Jogja Bay nama tempat itu.


Kali ini saya tidak akan membahas tentang Jogja Bay, tapi kolam renang di Bantul. Sebuah water park yang tidak terlalu besar, tapi lumayanlah untuk ukuran kota kecil seperti Bantul. Walaupun sederhana tapi sederhana, waterpark Tirta Tamansari ini selalu ramai pengunjung. Di hari libur banyak pengunjung bersama keluarga. Sedangkan saat hari biasa atau bukan hari libur, para siswa dari TK hingga SMA belajar berenang disini.

Bayangin aja, tiket masuk Waterpark Tirta Tamansari Bantul ini cuma 6000 IDR di hari biasa dan 8000 IDR di hari libur. Mulai anak berusia 2 tahun harus membeli tiket masuk dan  walaupupun pen…