End of Black Era - Ternyata Sineas Indonesia Bisa Bikin Film Fiksi Fantasi Keren

Apa yang bisa kamu harapkan dari film pendek apalagi berdurasi hanya dua belas menit? Sepertinya nothing ya gaes, kecuali film pend...

Wednesday, 19 July 2017

Serunya Parade Bocah Dolanan di Mataram Culture Festival 2




"Buk besok Sabtu masih libur, kita jalan-jalan yuk" seperti weekend sebelumnya anak lanang selalu mengajak jalan-jalan.

"Ke Malioboro saja ya mas" ajak saya ke Mas

"Ngapain Buk" tanya Mas.

"Lihat festival dolanan bocah mas, nanti jalan-jalan sambil lihat anak-anak mainan" jawab saya.


Mas penasaran dan bertanya lagi "Kayak dolanan bocah di sekolahan kemaren itu ya?"

"Iya mas, yang mas nari ama nyanyi Sluku-Sluku Bathok sama temen-temen itu, nah di Malioboro nanti dolanan bocahnya ada banyak" pelan-pelan saya menjelaskan pada Mas tentang dolanan bocah tradisional.

"Oke Buk, besok ke Malioboro, ajak adek ama Bapak juga ya" dengan wajah berbinar Mas menyetujui ajakan saya menghabiskan weekend di Malioboro.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 


Tepat pukul setengah dua siang saya sekeluarga sampai di Malioboro. Kendaraan sengaja saya parkir di belakang Pasar Bringharjo, karena spot terakhir parade dolanan bocah di depan Pasar Bringharjo, jadi ketika pulang nanti saya nggak perlu berjalan ke arah utara menelusuri jalan Malioboro lagi.

Beruntung matahari siang itu (Sabtu, 15 Juli 2017) tidak begitu terik. Kami berjalan menuju kantor Dinas Pariwisata DIY, di mana acara Parade Bocah Dolanan dimulai. Sampai disana sudah banyak anak-anak yang sudah berdandan menggunakan baju tradisional dan siap memperagakan dolanan bocah di tiap spot sesuai jadwal.

DINPAR DIY Menggelar Mataram Culture festival 2




Ohya pemirsah, Sabtu siang itu Dinas Pariwisata Propinsi DIY menggelar acara bertajuk Mataram Culture Festival 2. Acara dibagi dalam dua sesi, yang pertama Parade Bocah Dolanan yang dimulai dari jam 13.30-16.30 kemudian dilanjutkan sesi kedua dengan acara yang tak kalah istimewa yaitu Mataram Art Performance yang berlangsung dari sore hingga malam harinya di Monumen Serangan Umum 1 Maret.

Saya memilih datang di acara pertama yaitu Parade Bocah Dolanan, selain menyaksikan berbagai dolanan bocah tradisional yang pastinya menarik, saya juga bisa mengenalkan aneka dolanan bocah pada duo anak lanang. Sedih juga menyaksikan fenomena sekarang dimana anak-anak lebih lekat pada gadget ataupun perangkat komputer dengan segala aktivitas digital dibanding bermain bebas selayaknya anak-anak, terlebih memainkan mainan bocah asli budaya sendiri yang sewaktu saya kecil (( 25 tahun yang lalu)) masih menjadi permainan yang sangat digemari.


Beruntungnya saya bisa menyaksikan Parade Bocah Dolanan, duo anak lanang excited banget melihat anak-anak yang hepi banget memainkan Egrang, Lompat Bambu, Lompat Tali, Jamuran dan beberapa dolanan bocah lainnya. Di sekolah anak lanang juga sering pentas dolanan bocah tapi ada beberapa dolanan yang belum pernah diajarkan di sekolah, yaitu Egrang dan Icipili Mitirimin.  Tak hanya saya sekeluarga yang tertarik dengan parade bocah dolanan, turis domestik dan asingpun banyak yang berinteraksi dengan bocah-bocah itu dan turut bermain.

Saya sangat mendukung festival budaya seperti ini, tentunya agar warisan budaya tidak hilang dan Malioboro semakin punya daya tarik yang istimewa. Dolanan bocah dengan kostum yang menarik tanpa meninggalkan budaya Jogja sangat atraktif dan menarik wisatawan dan sangat mendukung progam revitalisasi kawasan Malioboro sebagai ruang publik dan ekspresi kota.

Parade Bocah Dolanan menggunakan sistem geser, sehingga apabila satu dolanan selesai dimainkan sekitar 20 menit, kemudian bergeser ke titik selanjutnya hingga spot terakhir di depan pasar Beringharjo.

Nah Sobat Prima, yuk ikuti jalan-jalan saya menelusuri Malioboro dan  melihat parade bocah dolanan bersama anak lanang ya.


Parade bocah dolanan dimulai di depan kantor Dinas Pariwisata DIY, banyak wisatawan yang sudah melingkar berdesak-desakan begitu rombongan anak-anak yang memakai kebaya lurik dan jarik membawa egrang dan dengan kompak berjalan diatas egrang diiringi tabuhan gendang yang iramanya bikin siapapun pengen bergoyang. 

Tak...tung..tak...tung...tak..dung...tak...tung..tak..tung...plak... 

Suara gendang semakin kencang dan anak-anak yang bermain egrang semakin bersemangat, berjalan berputar, berjajar dan sesekali kaki mereka terlepas dari pijakan egrang, tapi tak mengurangi kegembiraan mereka. Anak lanang agak terheran-heran, kok kakak-kakak itu bisa berjalan di atas egrang dan memang dia belum pernah melihat dan menyentuh egrang secara langsung. Kemana saja saya selama ini, wong Jowo tapi lupa mengajarkan mainan tradisional ke anak sendiri. ((tepok jidat))

Spot kedua di depan kantor DPRD DIY beberapa anak dolanan Bathok. Bathok dalam bahasa Indonesia adalah tempurung kelapa. Tengahnya di lubangi dan diberi tali, ujungnya ditarik dan kaki menapak diatas bathok kemudian berjalan. Dolanan bathok juga sudah jarang ditemukan, padahal bahan dan cara pembuatannya sangat sederhana. 


Delapan anak gadis nampak cantik dengan kostum berwana hijau serta riasan tipis di wajah mereka. Sebelum dolanan Lompat Bambu dimulai saya sempat ngobrol dengan mereka. Mereka berasal dari Gunung Kidul bergabung dari beberapa SMP. Salut ya, meskipun dari kabupaten terjauh dan terpencil dari Jogja mereka antusias menyemarakkan parade bocah dolanan dan turut melestarikan dolanan bocah warisan budaya lokal.

Empat buah bambu diperlukan untuk memainkan dolanan Lompat Bambu ini. Empat orang memegang dua ujung bambu dan empat anak yang lain berlompat serta menari diantara bambu yang saling dipukulkan. Pastinya diperlukan kejelian agar kaki tidak terjepit diantara dua bambu ya gaes. Permainan ini melatih fisik serta otak. Saya jadi ingat semasa SD dan aktif di Pramuka pasti ada permainan lompat bambu dan gayeng banget bisa lompat-lompat sembari bercanda bersama teman.



Di titik ke empat ada adik adik kecil yang asyik bermain jamuran. Kalau dolanan ini favorit saya sewaktu kecil. "Jamuran yo gegethok, jamur opo yo gegethok, siro gage jamur opo...." Satu anak duduk jongkok sementara yang lain menyanyikan lagu jamuran dengan berputar mengelilingi yang jaga.  Di desa dolanan Jamuran masih sering dimainkan, khususnya nak-anak cewek. 



Di depan Kepatihan anak-anak dari Kampung Langenastran asyik bermain lompat tali. Mengenakan jarit dan mahkota daun membuat mereka terlihat Jogja Banget. Identitas sebagai orang Jogja melekat erat dari kain batik yang dimodifikasi seperti rok agar mereka tetap lincah bergerak.



Uding merupakan salah satu permainan lompat tali, dimana pemain melompat diantara tali karet yang diputar bersamaan oleh dua anak yang "jaga". Sedangkan lompat tali ada beberapa tingkatan dari yang terendah hingga tertinggi. Apabila anak yang mendapat kesempatan melompati malah menyentuh tali karet maka dia "kalah" dan bertugas berdiri melewati tali.


Di depan Ramayana duo anak lanang menyempatkan diri berpoto di depan patung ayam jago. Nampaknya patung jago berwarna-warni itu belum lama di pasang di depan Ramayana. Atau saya yang kurang update akan Malioboro.  

Dakon (gambar ilustrasi)

Dolanan bocah selanjutanya yaitu Dakon di mainkan di depan Ramayana dan terakhir permainan Icipili Mitirimin di depan Pasar Beringharjo. Sayang, perjalanan mengikuti parade bocah dolanan terhenti di spot keenam. Duo anak lanang mulai lelah dan pengen beristirahat. Dibalik wajah lelah mereka, ada kegembiraan dan pengalaman baru.

Di dunia anak-anak yang erat dengan dunia bermain mereka menemukan beberapa permainan yang mengajarkan mereka berlatih sportifitas, melatih fisik, mengasah kecerdasan, bekerjasama, mengolah emosi jika mereka mengalami kekalahan dan nguri-uri budaya Jawa melalui permainan.

Saya juga kembali diingatkan akan kenangan masa kecil yang penuh kegembiraan dengan permainan tradisional yang pastinya gratis tapi bikin hepi. Saya semakin banyak referensi permainan tradisional anak yang mulai saya lupakan. Tugas saya selanjutnya, menemani anak-anak bermain Jamuran, Egrang, Engklek, Lompat Bambu, Dakon, Bathok dan Lompat Tali.

Sedikit menyesal saya tidak bisa mengikuti acara Mataram Culture Festival sesi kedua Monumen Serangan Umum 1 Maret. Acara  yang dimulai pukul 18.00 WIB dan terbuka untuk umum ini  mempertontonkan dua sesi sendratari serta santap malam bersama dalam format Kembul Dhahar/Kenduri.

Tepat pukul setengah lima, kami berempat meninggalkan Malioboro. Pulang membawa kenangan, ide permainan anak dan "tugas" saya membantu duo anak lanang melestarikan dolanan bocah. Membawa mereka menikmati dunia bermain dengan bergerak, berbudaya dan bergembira. Semoga festival budaya seperti Mataram Culture Festival semakin sering digelar terutama parade bocah dolanan, agar budaya lokal tidak tergerus dengan budaya asing.

Salam Budaya.



9 comments:

  1. Salam budaya jg mbak. Bagus nih eventnya, saya melewatkan. Hiks. Semoga permainan anak yg kyk gini ttp eksis dan tak tergantikan

    ReplyDelete
  2. Aku dah niat mau kesini lo. Tapi anakku malah mbangkong, bangun siang banget. Jam 15.00 aku lewat sini udah rame bgt. Aku males kalau nggak bisa parkir di mall. Hahaaa pdahal seru ya acaranya. Aku suka.

    ReplyDelete
  3. Aku dari dulu pengen bisa main egrang, Mak Prim, tapi sampai sekarang gak bisa-bisa. Mending bathok-lah daripada egrang hehehe

    ReplyDelete
  4. Aku kok telat ngerti event ini ya :(

    ReplyDelete
  5. Betul mbak, sebagai orang tua kita memang sangat prihatin bahwa anak-anak lebih kenal dengan gadget dibanding dengan mainan anak-anak seperti yang kita mainkan saat kecil...

    ReplyDelete
  6. Wuah duo anak lanang imut banget.
    Jadi inget nih dolanan zaman aku kecil dulu. Btw dolanan Icipili Mitirimin itu seperti apa ya? kok baru tau.

    ReplyDelete
  7. Parade bocah dolanan ini seru banget ya. Kalau anakku dibawa lihatbpasti seneng. Anak sekarang harus dibawa ke acara begini, supaya menyukai dan mengenal mainan tradisional ya.

    ReplyDelete
  8. dolanan jaman dulu emang mengasyikkan yaa

    ReplyDelete
  9. Kecuali lompat bambu, semuanya sudah pernah saya mainkan di masa kecil saya, mbak. Oh ya, selain kemajuan teknologi, sekarang juga lahan kosong itu semakin berkurang, dipake semua buat pembangunan. Orangtua butuh kerjasama dari pemerintah supaya anak-anak ora dolanan henfon wae :)

    ReplyDelete

Hai kawan, terimakasih sudah mampir ya. Pembaca yang cantik dan ganteng boleh lho berkomentar, saya senang sekali jika anda berkenan meninggalkan jejak. Salam Prima :)