Skip to main content

Buang Khawatir Bersama GOJEK

Era digital sungguh membahagiakan banyak orang. Terutama saya yang merasa sangat dimanjakan dengan kemajuan teknologi digital. Keberadaan teknologi digital membuat banyak hal menjadi lebih mudah. Misalkan saja dalam urusan transportasi. Sebulan sekali saya ada tugas luar dari kantor. Dulu sebelum ada ojek online, suami saya harus kerepotan mengantar saya ke bandara atau stasiun. Jika waktunya siang hari mungkin tak masalah, namun seringnya saya harus berangkat malam atau sampai di Jogja malam. Itu sungguh merepotkan karena jika sudah lebih dari jam 8 anak-anak biasanya sudah tidur. 
Sungguh saya tak tega jika melihat anak-anak harus ikut mengantar dan tidur di mobil, kemudian pas pulang mereka sadar sudah nggak ada mamaknya, bakal bikin perang dunia III.  Hahahaha.
Sepertinya saya harus berterima kasih pada penemu dan pemilik GOJEK yang sudah mengembangkan aplikasi yang sangat berguna ini. Saya bisa memesan mobil ataupun motor dengan mudah, diantarkan sampai lokasi tujuan tanpa repot…

Jangan Buang Makanan Lagi!

Kumparan. Beberapa hari yang lalu saya membaca berita tentang tingginya angka bunuh diri petani di India karena gagal panen akibat perubahan cuaca sehingga mereka tidak dapat membayar hutang pembelian tanah, pupuk, dan bibit. 


Meskipun tidak seekstrim ini, permasalahan petani (dan peternak) di Indonesia pun tidak jauh berbeda. Mereka butuh biaya untuk mengelola sawah, ladang, kebun, dan ternak. Sementara itu mereka juga bergantung pada iklim yang tidak dapat diprediksi.
Orang-orang inilah yang menyediakan pangan untuk kita makan, bekerja keras dalam jangka waktu tidak pendek, dengan hasil yang tidak seberapa.
Lalu bayangkan ketika kerja keras tersebut, bukannya dihargai dengan cara menghabiskan makanan yang disediakan, malah dibuang-buang.




Menurut data survei Economist Intelligence Unit tahun lalu, di Indonesia, satu orang pertahun membuang/menyisakan 300 kg makanan. Selain persoalan distribusi dan mafia, salah satu sumber masalahnya juga karena individu seperti kita ini, mengambil makanan lebih dari kebutuhan lalu tidak menghabiskannya.
Jika saja kita menyadari bahwa dalam setiap butir nasi, setiap kerat daging, setiap helai daun lalapan itu ada kerja keras manusia, ada pengorbanan hidup makhluk, ada sumbangan energi dari matahari dan sumbangan nutrisi dari bumi, tentu kita akan lebih menghargai makanan dan tidak akan membuang-buangnya.
Mari mulai menghargai makanan kita.
Sumber : kumparan.com 
#karyauntukperubahan
#art4humanity

Comments

  1. iya...sedih banget kalo liat orang buang-buang makanan. Kalo di rumah kadang aku ngabisin makanan anak-anak...itupun kalo makannya ga di aduk aduk, kalo udah tercampur semua agak gimana gitu...hihihi

    ReplyDelete
  2. benci bangettt kalo aku ke resto2 trutama all you can eat, dan melihat orang ambil makanan banyak2, tp kemudian ga diabisin :(... berasa pengen ngirim tuh orang ke somalia sana biar dia tau gmn rasanya kelaperan ...

    ReplyDelete
  3. membuang makanan, disamping itu mubazir juga namnya tidak mensukuri nikmat dari Tuhan..

    ReplyDelete
  4. Makanlah secukupnya, bener banget mbak. jangan buang makanan... nanti ayamnya mati. hehehe

    ReplyDelete
  5. Susah bangte ngajarin anak soal ini mba, kalau jaman saya kecil dulu aja dibilang nanti nasinya nangis aja nurut he he he , makanan pasti dihabiskan..

    ReplyDelete
  6. Wah, mba baru baca aja udah sedih. Betapa beratnya ya jadi petani apalagi sekarang lahan pertanian juga semakin sempit. Membuat permasalahan para petani bertambah juga

    ReplyDelete
  7. Iya loh masih banyak yang buang makanan. Kadang di resto2 itu makanan masih banyak nggak dihabiskan, ditinggal pulang gitu aja. Suka gemez.
    Anak-anak kuwanti-wanti jangan buang makanan. Dulu waktu anak-anak kecil, klo mereka makan nggak habis, ya aku yg ngabisin hahaha. Jadi deh badan tambah ndut :D

    ReplyDelete
  8. Gunung Kidul juga mulai kekeringan tu. Dulu angka bunuh diri disana sangat tinggi. Semoga kali ini pendapatan pariwisata yg melonjak bisa digunakan utk penanggulangan kekeringan.

    ReplyDelete
  9. iyaa nih, kalo gak suka kenapa harus diambil gitu ya...

    ReplyDelete

Post a Comment

Hai kawan, terimakasih sudah mampir ya. Pembaca yang cantik dan ganteng boleh lho berkomentar, saya senang sekali jika anda berkenan meninggalkan jejak. Salam Prima :)

Popular posts from this blog

Villa Budi Luhur II , Villa Pilihan Keluarga di Sekipan Tawangmangu

Dah hari Jumat aja nih, weeked brooo, mari piknik biar awet muda ya. Kali ini saya mau membagi cerita piknik keluarga saya beberapa waktu yang lalu. Bukit Sekipan Tawangmangu bisa jadi pilihan kamu untuk berlibur bareng keluarga. Ada villa dengan view cantik, hutan pinus dibelakang rumah dan kebun strawberry di depannya. Nikmat apa yang saya dustakan coba.
Sedianya saya ingin berkeliling Semarang, bersama orangtua, keluarga saya dan adik-adik saya. Tapi hunting hotel koq harganya ga turun-turun dan Bapak saya enggan untuk berjalan jauh, akhirnya saya pengen ngadem aja di Tawangmangu.
Dah pada tahu kan, di Tawangmangu banyak villa cantik dan dekat obyek wisata Grojogan Sewu. Pasti sangat ramai, padahal saya pengen tempat yang sepi, tenang dan dingin. Ratusan hotel, villa dan penginapan berjajar di sekitar Tawangmangu, satu persatu villa saya hubungi dan Villa Budiluhur jadi pilihan saya. Pemilik menawarkan villanya yang baru, karena villa lama sudah dipesan orang lain. Jadilah saya be…

Pengen Baby Selalu Wangi? Ini Rahasianya Moms

Time flies so fast gaes, tak terasa anak mbarep saya sudah berusia lima tahun. Usia dimana "masa kritis" seorang anak telah terlampaui dan saya merasa sedikit lega. Kenapa dikatakan semasa balita merupakan masa kritis? Karena di usia bawah lima tahun seorang anak masih rentan terkena penyakit, masih membutuhkan penanganan ekstra dan perhatian khusus dari orang tua terutama Ibu.



Hari ini saya sangat bahagia, duo anak lanang sehat dan tumbuh dengan baik, walaupun yang mbarep agak langsingan sedang adiknya lebih gembul. Ya, namanya anak-anak berbeda dan unik. Keduanya amat saya sayangi dan cintai.


By the way busway ((siapa yg naik busway 'nyah)). Walaupun sekarang sudah tidak merasakan rempongnya punya bayi, tapi terkadang banyak hal yang berhubungan dengan bayi membuat saya kangen pengen megang bayi lagi (('sok bikin)). Jujur sih, saya pengen punya bayi lagi, tapi maunya cewek biar ada yang nurunin cantiknya saya ((hueex)), tapi sabar masa produktif saya masih beberapa…

Kolam Renang Water Park Tirta Taman Sari Bantul

Kolam Renang Taman Tirtasari Bantul - Hayoo siapa suka berenang? Pasti banyak orang yang hobi berenang atau hanya sekedari ciblon main air, termasuk saya. Di kota besar banyak terdapat kolam renang di hotel atau water boom dengan fasilitas super lengkap. Bahkan, sebulan yang lalu ada water boom yang di klaim sebagai water boom terbesar se Jawa Tengah. Jogja Bay nama tempat itu.


Kali ini saya tidak akan membahas tentang Jogja Bay, tapi kolam renang di Bantul. Sebuah water park yang tidak terlalu besar, tapi lumayanlah untuk ukuran kota kecil seperti Bantul. Walaupun sederhana tapi sederhana, waterpark Tirta Tamansari ini selalu ramai pengunjung. Di hari libur banyak pengunjung bersama keluarga. Sedangkan saat hari biasa atau bukan hari libur, para siswa dari TK hingga SMA belajar berenang disini.

Bayangin aja, tiket masuk Waterpark Tirta Tamansari Bantul ini cuma 6000 IDR di hari biasa dan 8000 IDR di hari libur. Mulai anak berusia 2 tahun harus membeli tiket masuk dan  walaupupun pen…