Skip to main content

Buang Khawatir Bersama GOJEK

Era digital sungguh membahagiakan banyak orang. Terutama saya yang merasa sangat dimanjakan dengan kemajuan teknologi digital. Keberadaan teknologi digital membuat banyak hal menjadi lebih mudah. Misalkan saja dalam urusan transportasi. Sebulan sekali saya ada tugas luar dari kantor. Dulu sebelum ada ojek online, suami saya harus kerepotan mengantar saya ke bandara atau stasiun. Jika waktunya siang hari mungkin tak masalah, namun seringnya saya harus berangkat malam atau sampai di Jogja malam. Itu sungguh merepotkan karena jika sudah lebih dari jam 8 anak-anak biasanya sudah tidur. 
Sungguh saya tak tega jika melihat anak-anak harus ikut mengantar dan tidur di mobil, kemudian pas pulang mereka sadar sudah nggak ada mamaknya, bakal bikin perang dunia III.  Hahahaha.
Sepertinya saya harus berterima kasih pada penemu dan pemilik GOJEK yang sudah mengembangkan aplikasi yang sangat berguna ini. Saya bisa memesan mobil ataupun motor dengan mudah, diantarkan sampai lokasi tujuan tanpa repot…

Pentingnya Keluarga Harmonis Bagi Psikologi Anak



Keseringan melihat serial Criminal Minds dan Law n order membuat saya jadi banyak tahu teknik pembunuhan berdarah dingin dengan cara diluar nalar. Kebanyakan pelaku mempunyai sisi psikologis yang "berbeda" dengan orang kebanyakan. Dan menyimpan masa lalu kelam atau pernah merasakan perlakuan yang tidak manusiawi juga semasa kecil. Intinya para pelaku mayoritas berasal dari keluarga yang kurang harmonis atau orang tua yang kejam.

Semua orang pasti pernah bertengkar, begitupun dengan orang tua saya. Semasa kecil pernah beberapa kali saya mendengar merka bertengkar, cekcok mulut hingga terdengar oleh kami anak-anaknya. Rasanya? Sungguh tidak mengenakkan, sedih, kecewa, takut bercampur aduk. Itu hanya beberapa kali dan terekam jelas hingga dewasa. Itulah makanya saya tidak heran jika dalam keluarga broken home ada beberapa yang anak-anaknya terjerumus ke hal negatif seperti narkoba dan kenakalan remaja. Kondisi keluarga yang isinya berantem dan tak ada kedamaian pasti menjadikan si anak stres dan tidak tahan menanggung beban.

Keluarga harmonis menjadi batu pondasi dan landasan hidup bagi seorang anak. Karena keluargalah tempat mereka belajar, hidup, mendapat tauladan serta mendapat curahan kasih sayang. Apabila dari dasar mereka tidak punya itu bagaimana kehidupan selanjutnya?

Saya dan suami sadar betul akan pentingnya keluarga harmonis dan dengan sekuat tenaga menjaga keharmonisan. Tak hanya yang penting utuh tapi benar-benar menyelaraskan agar anak merasa tenang dan psikologis mereka tidak terganggu. Dengan cara apa? Mengerem ego masing-masing.

Broken Home bisa terjadi karena banyak hal tapi yang utama biasanya karena:

 

  1. Perceraian, terjadi akibat disorientasi antara suami istri dalam membangun rumah tangga; 
  2. Kebudayaan bisu, ketika tidak adanya komunikasi dan dialog antar anggota keluarga; 
  3. Ketidakdewasaan sikap orangtua, karena orangtua  hanya memikirkan diri mereka daripada anak; dan 
  4. Orangtua yang kurang rasa tanggung jawab dengan alasan kesibukan bekerja. Mereka hanya terfokus  pada materi yang akan didapat dibandingkan dengan melaksanakan tanggung jawab di dalam keluarga (“Kehidupan Anak Broken Home,” 2012). 


Penyebab tambahan yang memicu terjadinya broken home, yaitu: 

(a) perang dingin dalam keluarga, karena adanya perselisihan atau rasa benci; 

(b) kurang mendekatkan diri pada Tuhan, yang membuat orangtua tidak dapat mendidik anaknya dari segi keagamaan; 

(c) masalah ekonomi, yang tidak jarang menjadi sebab pertengkaran maupun berakhir dengan perceraian;  dan 

(d) masalah pendidikan, kurangnya pengetahuan suami ataupun istri terhadap keluarga mereka sendiri (“Kehidupan Anak Broken Home,” 2012).

Ngomongin tentang broken home pasti bikin sedih dan berharap tidak akan terjadi pada kita, karena dampak psikologis pada anak sangat buruk Dampak paling utama yang akan melekat sampai anak tersebut dewasa adalah dampak psikologis. Seorang anak dapat berkembang dengan baik jika kebutuhan psikologisnya juga baik.  

Walaupun tidak semua anak dari kelarga broken home mengalami dampak psikologis yang buruk, ada yang anaknya memang kuat atau si anak tetap mendapat kasih sayang dan perhaian walaupun hanya dari satu orang tua.

Ciri-ciri anak yang mengalami dampak psikologis dari broken home, antara lain:
 
(a) ketakutan yang berlebihan, 
(b) tidak mau berinteraksi dengan sesama, 
(c) menutup diri dari lingkungan, 
(d) emosional, 
(e) sensitif, 
(f) temperamen tinggi, dan 
(g) labil. 
 
Sobat Prima , dampak psikologis yang diterima seorang anak berbeda-beda tergantung usia atau tingkatan perkembangan anak dan tidak semua keluarga broken home itu buruk, setiap keluarga memiliki permasalahan sendiri dan tidak semua orang berpandangan bahwa broken home adalah hal yang negatif. 
 
Bisa saja  broken home adalah jalan yang terbaik bagi keluarganya. Dan broken home bukan akhir segalanya, masih ada banyak solusi agar anak tetap bahagia, ada beberapa cara untuk meminimalisir atau mengatasi broken home, antara lain (a) mendekatkan diri kepada Tuhan, (b) berpikir dan berperilaku positif, (c) saling berbagi, dan (d) mencari kegiatan positif (“Broken Home dan Cara Mengatasinya,” 2013). 
 
Ohya, pengaruh psikologis pada anak bukan hanya terjadi jika orang tua bercerai tapi broken home juga disebabkan karena keluarga "bisu" atau orang tua yang terlalu sibuk sehingga anak haus kasih sayang. Nah lo, menyikapi hal ini saya berusaha untuk tetap menomor satukan keluarga. Walaupun waktu terbatas, asal kualitas bagus anak tidak akan kekurangan kasih sayang.  Cara yang saya lakukan pun sederhana saja :
1.  Sering berkomunikasi dan "bertanya" pada anak
2.  Sering kontak fisik, pelukan, ciuman, atau elus-elus punggung saat mereka mau tidur efektif membuat mereka nempel pada saya walaupun jam bertemu terbatas
3.  Makan bersama
4.  Terkadang "memanjakan" mereka tapi juga memberi tanggung jawab
5.  Sering jalan-jalan bareng
 
Sobat Prima, peran keluarga untuk membentuk psikologi anak sangat penting, karena dalam keluargalah anak mendapat, ketenangan, keamanan, kenyamanan  dan kebahagiaan. Memang tak semua keluarga broken home mencetak anak yang terjerumus ke hal negatif, banyak juga yang memiliki prestasi membanggakan. Tapi alangkah lebih bijaksana jika kita bisa mewujudkan keluarga yang harmonis demi menjaga perkembangan psikologi anak?


  

Comments

  1. Aku sudah mulai menerapkannya, Mbak. Rutin ajak anak jalan2 biar nggak sumpek. :)

    ReplyDelete
  2. Jadi anak dalam keluarga Broken Home memang rasanya sakit. Kepercayaan pada orang lain jadi nggak ada. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener mbak, pasti ada "rasa" yang kurang tapi semoga anak broken home tetap merasa bahagia ya mbak.

      Delete
  3. Semoga kita tidak menjadi orang tua yang membuat anak tertekan. :'D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar mbak, semoga kita menjadi orang tua yang baik untuk anak anak ya :)

      Delete
  4. Bener mbak, anak-anak yang bahagia didapat dalam keluarga yang harmonis dalam artian hubungan suami dan istri baik.
    untuk itulah saya dan suami terus belajar dan memperbaiki diri agar dampaknya tidak berimbas pada anak kalau pas lagi bertengkar

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bertengkarnya ngumpet kalau enggak via sms saya :)

      Delete
  5. kini orang tua mulai paham...walau pun mereka bercerai..tetap mendampingi anak bergiliran..agar anak gak kehilangan kasih sayang..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, sekarang walaupun deforce tetap berusaha memberi perhatian dan kasih sayang sepenuhnya bagi anak .

      Delete
  6. Makasih artikelnya mba, berusaha mengeratkan bonding dengan anak dan lebih sabar ni :*

    ReplyDelete
  7. Membangun keluarga harmonis memang syarat mutlak agar anak2 kita tumbuh sehat dan bahagia, moga kita semua dimudahkan ya Mbak jadi ortu yg baik buat anak, aamiin.

    ReplyDelete

Post a Comment

Hai kawan, terimakasih sudah mampir ya. Pembaca yang cantik dan ganteng boleh lho berkomentar, saya senang sekali jika anda berkenan meninggalkan jejak. Salam Prima :)

Popular posts from this blog

Pengen Baby Selalu Wangi? Ini Rahasianya Moms

Time flies so fast gaes, tak terasa anak mbarep saya sudah berusia lima tahun. Usia dimana "masa kritis" seorang anak telah terlampaui dan saya merasa sedikit lega. Kenapa dikatakan semasa balita merupakan masa kritis? Karena di usia bawah lima tahun seorang anak masih rentan terkena penyakit, masih membutuhkan penanganan ekstra dan perhatian khusus dari orang tua terutama Ibu.



Hari ini saya sangat bahagia, duo anak lanang sehat dan tumbuh dengan baik, walaupun yang mbarep agak langsingan sedang adiknya lebih gembul. Ya, namanya anak-anak berbeda dan unik. Keduanya amat saya sayangi dan cintai.


By the way busway ((siapa yg naik busway 'nyah)). Walaupun sekarang sudah tidak merasakan rempongnya punya bayi, tapi terkadang banyak hal yang berhubungan dengan bayi membuat saya kangen pengen megang bayi lagi (('sok bikin)). Jujur sih, saya pengen punya bayi lagi, tapi maunya cewek biar ada yang nurunin cantiknya saya ((hueex)), tapi sabar masa produktif saya masih beberapa…

Villa Budi Luhur II , Villa Pilihan Keluarga di Sekipan Tawangmangu

Dah hari Jumat aja nih, weeked brooo, mari piknik biar awet muda ya. Kali ini saya mau membagi cerita piknik keluarga saya beberapa waktu yang lalu. Bukit Sekipan Tawangmangu bisa jadi pilihan kamu untuk berlibur bareng keluarga. Ada villa dengan view cantik, hutan pinus dibelakang rumah dan kebun strawberry di depannya. Nikmat apa yang saya dustakan coba.
Sedianya saya ingin berkeliling Semarang, bersama orangtua, keluarga saya dan adik-adik saya. Tapi hunting hotel koq harganya ga turun-turun dan Bapak saya enggan untuk berjalan jauh, akhirnya saya pengen ngadem aja di Tawangmangu.
Dah pada tahu kan, di Tawangmangu banyak villa cantik dan dekat obyek wisata Grojogan Sewu. Pasti sangat ramai, padahal saya pengen tempat yang sepi, tenang dan dingin. Ratusan hotel, villa dan penginapan berjajar di sekitar Tawangmangu, satu persatu villa saya hubungi dan Villa Budiluhur jadi pilihan saya. Pemilik menawarkan villanya yang baru, karena villa lama sudah dipesan orang lain. Jadilah saya be…

Kolam Renang Water Park Tirta Taman Sari Bantul

Kolam Renang Taman Tirtasari Bantul - Hayoo siapa suka berenang? Pasti banyak orang yang hobi berenang atau hanya sekedari ciblon main air, termasuk saya. Di kota besar banyak terdapat kolam renang di hotel atau water boom dengan fasilitas super lengkap. Bahkan, sebulan yang lalu ada water boom yang di klaim sebagai water boom terbesar se Jawa Tengah. Jogja Bay nama tempat itu.


Kali ini saya tidak akan membahas tentang Jogja Bay, tapi kolam renang di Bantul. Sebuah water park yang tidak terlalu besar, tapi lumayanlah untuk ukuran kota kecil seperti Bantul. Walaupun sederhana tapi sederhana, waterpark Tirta Tamansari ini selalu ramai pengunjung. Di hari libur banyak pengunjung bersama keluarga. Sedangkan saat hari biasa atau bukan hari libur, para siswa dari TK hingga SMA belajar berenang disini.

Bayangin aja, tiket masuk Waterpark Tirta Tamansari Bantul ini cuma 6000 IDR di hari biasa dan 8000 IDR di hari libur. Mulai anak berusia 2 tahun harus membeli tiket masuk dan  walaupupun pen…