Monday, 21 December 2015

Pengaruh atau Mempengaruhi?



Berbicara tentang obesitas (tunjuk perut sendiri) bisa terjadi karena masalah biologis atau memang kebiasaan makan yang kurang baik alias berlebihan. Kita sering melihat satu keluarga dengan anggota keluarganya mengalami masalah obesitas. Dari kedua orang tua hingga anak gendut semua. Ada yang bilang obesitas itu terjadi karena faktor keturunan. Padahal sebenarnya prosentase tersebut hanya sedikit, yang benar adalah karena faktor kebiasaan pola makan dalam keluarga yang menyebabkan obesitas.

Jika suami sering makan di luar rumah saat malam, istri pasti terpengaruh dan kelamaan menjadi gendut. Begitu pula dengan kebiasaan si Ibu yang suka ngemil saat dirumah. Anak-anak akan terpengaruh dan mengikuti kebiasaan Ibunya.

Tapi emang bener lho, anggota keluarga saya ukuran bodynya XL semua. Karena kami memang suka jajan. Suami saya dulunya tidak suka jalan-jalan atau pergi di tempat keramaian. Semenjak kenal saya terpengaruh jadi suka piknik dan gaul gitu :D.

Besarnya pengaruh lingkungan



Mungkin kita tidak merasa jika kita saling mempengaruhi antara satu dengan yang lain. Dari ilustrasi yang saya sampaikan diatas, pengaruh dari seseorang atau lingkungan berpotensi besar untuk merubah diri seseorang sesuai dengan keadaan dilingkungan tersebut.

Dari survei yang diadakan Harvard University tentang obesitas, menunjukkan jika potensi seserang terkena obesitas 57% jika dia memiliki teman yang obesitas, 40% peluang jika keluarganya mengalami obesitas dan 37%  apabila dia memiliki pasangan obesitas. (sumber Spirit Motivator). Yah, pantas saja, saya dan suami makin menggendut karena sama-sama saling mempengaruhi,

Hal ini menunjukkan jika kita amat mudah untuk dipengaruhi dan mempengaruhi teman, pasangan ataupun lingkungan. JIka kita hany terpengaruh  obesitas sih tidak begitu menjadi persoalan. Tapi jika kita terpengaruh kebiasaan buruk yang merubah jati diri serta membuatitu  kita menjadi jahat, itu sangat berbahaya.

Sering kita mendengar tentang korupsi berjamaah, dimana hampir semua anggota dalam sebuah perusahaan/kantor/instansi melakukan korupsi dari besar hingga kecil. Bahkan dianggap hal itu sudah menjadi kebiasaan dan baik-baik saja. Itu karena faktor penngaruh yang saya sampaikan diatas.

Kita dulunya seorang pekerja yang rajin, kemudian berpindah ke tempat kerja dengan habit buruk. Pekerjanya datang terlambat dan bekerja tidak produktif. Mau tidak mau. Percaya tidak percaya orang itu akan terpengaruh dan mengikuti kebiasaan buruk tersebut.


Mungkin ada segelintir orang yang tidak terpengaruh dan tidak tertular pengaruh itu. Tapi jika dihitung paling satu diantara seribu orang. Saya bukannya pesimis, tapi faktor pengaruh memang sangat besar. Orang itu mungkin berpikir jika yang lain saja datang terlambat, ongkang-ongkang kaki dapat gaji penuh, ngapain saya rajin. Nanti malah dikira sok.

Itulah mengapa ada pepatah Jawa yang mengatakan Ojo cedak kebo gupak. Jangan dekat-dekat kerbau yang nota bene kotor terkena lumpur. Jika kita bergaul dengan orang yang mempunyai kebiasaan buruk, lama-lama kita akan terkena juga.

Kenapa pengaruh cepat sekali menyebar?


Dari penelitian diatas bisa disimpulkan jika kita amat mudah dipengaruhi dan kita juga gampang mempengaruhi orang lain. Seperti rantai makanan yang tidak pernah putus. Kita dipengaruhi orang lain, kita mempengaruhi orang lain dan orang itu mempengaruhi yang lain.

Peluang menjadi orang yang rajin akan semakin besar jika kita mempunyai teman yang rajin, keluarga yang rajin dan pasangan yang rajin. Seseorang akan menjadi kreatif jika ia berada dikomunitas orang kreatif, dan sebaliknya jika teman, komunitas, pasangan kita pemalas dan pesimis kita juga akan menjadi seperti itu. Apabila kita hidup dilingkungan orang benar kita akan menjadi orang benar juga.


Contoh lain adalah seorang pecandu narkoba yang sedang menjalani rehabilitas. Selain dikarantina dan mendapat perawatan secara medis dan kejiwaan. Dia dilarang untuk bertemu dengan teman-teman sesama pecandu, begitupun saat sudah keluar dari pusat rehabilitasi. Pantangan terbesar dari keluarga adalah  mencegah dia kembali ke komunitas lamanya. Karena, begitu dia kembali ke komunitas atau sekedar bertemu dengan salah satu rekannya. Dia akan kembali mendapat pengaruh buruk untuk menggunakan narkoba lagi.

"Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri dijalan orang berdosa dan tidak duduk diantara kumpulan pencemooh"

Bagaimana cara agar tidak mendapat pengaruh buruk?

Salah satu cara terbebas dari pengaruh itu adalah  memutus mata rantai dan keluar dari komunitas tersebut.  Jika kita ingin menjadi pintar ya bergaul dengan orang-orang pintar, jika kita ingin lenih religius yang masuk dalam komunitas religius. Kalau pengen gendut gampang gok, bergaul saja sama saya. :))

Lihat ke diri kita. Sebenarnya kita ingin menjadi seperti apa? Jika ingin sukses ya bergaul dengan ororang sukses. Tidak bermaksud untuk memanfaatkan tapi mengambil sisi positif dan belajar menjadi sukses seperti dia. Orang sukses identik dengan pekerja keras, pasti orang itu akan mendorong kita untuk bekerja keras. Sebaliknya jika kita berdekatan dengan orang pemalas, pasti orang itu mengajak kita menjadi malas juga. Sebab, mau tidak mau, suka atau tidak kita pasti akan terpengaruh jika terus menerus bersama dia.

Cara kedua adalah mempertebal iman dan mempunyai prinsip yang kuat. Saat teman kantor melakukan korupsi kecil-kecilan dan mengajak kita, kembali pegang erat keyakinan dan prinsip. Jika hal itu tidak benar serta semakin mendekat kepada Allah.

Menjauhlah dari kumpulan orang fasik, dan hati-hatilah dengan lingkunganmu!

2 comments:

  1. Berada di kumpulan orang fasik memang berbahaya

    ReplyDelete
  2. Teman memang sangat bisa mempengaruhi dan terpengaruhi...

    ReplyDelete

Hai kawan, terimakasih sudah mampir ya. Pembaca yang cantik dan ganteng boleh lho berkomentar, saya senang sekali jika anda berkenan meninggalkan jejak. Salam Prima :)

Popular Posts