Tuesday, 29 December 2015

Pengalaman Pertama Menerima Raport Si Kecil



Akhir semester merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh para orang tua , terutama yang putranya bersekolah. Tak hanya menunggu mereka libur untuk diajak piknik bareng #akyubanget, tapi dag dig dug menanti nilai akhir selama satu semester ini. Laporan dari guru  kepada wali murid tentang hasil belajar putra masing-masing.

Begitupun saya, anak lanang saya sudah masuk TK A  selama satu semester dan baru tahun ini bersekolah. Sebelumnya dia memang tidak ikut PAUD, setelah 4 tahun langsung saya masukkan ke TK Eksperimantal Mangunan sekolah pilihan dia sendiri.

Tanggal 18 Desember 2015 merupakan hari pengambilan raport di sekolah anak saya. Jumat itu saya menyempatkan diri datang ke sekolah untuk mengambil raport bersama suami. Terpaksa ijin terlambat ke kantor demi mengambil dan mendengarkan sendiri perkembembangan Si Mas di sekolahan dari Ibu Guru.  Walaupun bekerja, kepentingan anak tetap yang nomer satu. Apalagi setiap hari Si Mas diantar jemput Bapaknya, ntar digosipin ama Mama-mama yang lain, dikira saya wanita karir beneran. Hahahaha.

Undangan mengambil raport dari jam 07.00 - 09.00, saya sengaja datang agak pagian, berharap tidak menunggu terlalu lama so datang ke kantor tidak terlalu siang. Sesampai di sekolah, sudah ada beberapa wali murid  yang menunggu di depan kelas. Setahu saya, saat mengambil rapor walimurid duduk bersama didalam kelas, mendapat pembinaan dari guru kemudian dipanggil satu persatu. Tapi di TK Mangunan berbeda, orang tua menunggu di luar kelas dan satu persatu menemui guru dan mendapat penjelasan yang cukup lama.


Walaupun sudah sering naik panggung #mainlenong, entah kenapa saya merasa begitu nervous dan jantung berdegap kencang. Berasa mau ujian skripsi saja. Saat mau menemui Bu Rumai dan Bu Dewi guru kelas anak saya, saya merasa takut. Maklum, kali ini merupakan pengalaman pertama saya menerima raport. Jangan-jangan nilai anak saya jelek, jangan-jangan.... berbagai kekawatir muncul di benak saya.

Saya berusaha mengendalikan emosi dan menenangkan diri. Ibu Rumai kemudian menjelaskan perkembangan Mas selama satu semester ini. Dia yang dulunya pemalu , sekarang sudah bermain bersama dengan teman-temannya. Walau masih di kelompok kecil.  Saya sudah cukup puas dengan pencapaian si Mas, toh saat ini dia baru 4,5 tahun.  Masih waktunya bermain dan bersenang-senang. 








Raport di TK Mangunan berbentuk map dengan pembatas plastik. Bukan buku raport seperti TK saya jaman dulu. Semua pelajaran di perinci tiap kegiatan dan perkembangan dari anak. Saya langsung bisa memantau, ketrampilan apa yang belum dikuasai anak dan kelebihan apa yang dia miliki. Saat ini yang menjadi ganjalan saya, Mas belum mau ikut senam dan menari. Dia selalu berkata jika dia tidak suka menari ataupun senam. Sampai saat ini saya belum bisa membujuknya. Apalagi sekolah memberi kebebasan dan tidak ada paksaan, mau ikut senam atau tidak, tergantung anak masing-masing.


Tak hanya raport, tapi semua prakarya yang dia buat selama 6 bulan akan diserahkan kepada orang tua siswa. Satu amplop coklat berisi buah tangan Mas dan raport saya terima dengan senang. Saya buka beberapa bungkusan plastik. Ada pelajaran mewarnai, membuat garis, menempel dll. Satu barang yang membuat saya terharu adalah frame foto kami berempat. Terbuat dari kardus susu, kemudian ditempel foto dengan hiasan biji-biji beras merah pada gambar-gambar di sekeliling foto.




Ahh, saya meleleh melihat frame foto itu. Si Mas yang suka bikin rumah berantakan, nakalin adiknya, bikin tensi naik karena kengeyelannya #miripsaya ternyata bisa membuat "sesuatu". Hal sederhana bagi orang lain, tapi bagi saya sangat istimewa. Saya yang terlalu kawatir dia nggak bisa ngapa-ngapain di sekolah. Dan merasa bahagia dengan barang lucu itu. Meskipun Ibu Guru menjelaskan jika dia masih dibantu saat membuat prakarya, saya maklum karena dia memang belum mandiri sepenuhnya. Tapi saya yakin, ke depan pasti dia akan semakin membuat Ibunya bangga. 

Nah, sobat Aprint bagaimana dengan nilai raport putra kalian? Memuaskan bukan. Jika belum, ajak mereka untuk duduk bersama dan membicarakan kesulitan apa di sekolah. Jangan dulu menjudge anak bodoh hanya karena ada nilai pelajaran mereka yang jeblok. Ingat, setiap anak istimewa. Mereka pasti punya kelebihan dibalik kekurangan mereka. Dan, hari gini jangan menilai anak pintar hanya dari nilai eksak saja. Seperti matematika, IPA, Bahasa Inggris. Banyak kecerdasan lain seperti kecerdasan berbahasa, olahraga, menulis, berkomunikasi yang jika dikembangkan dan didukung pasti akan membuat anak-anak sukses di kemudian hari.

Saya jadi ingat dengan pernyataan Deddy Corbuzier, mentalis/pesulap terbaik di negeri ini. Dia sangat berterima kasih dengan ayahnya yang memberi kebebasan dia untuk mengembangkan dan belajar sulap, tidak memarahi dia saat mendapat nilai yang buruk dan memaksa dia kuliah di jurusan yang ayahnya kehendaki. Karena jika dia dilarang mendalami ilmu sulap, bisa jadi dia hanya menjadi sarjana biasa, tidak istimewa dan terkenal atau sukses. Tidak akan ada Deddy Corbuzier banyak mendapat predikat di bidang magician international. So, support your kid to learn what they love.



9 comments:

  1. Aih nancep banget pesan terakhirnya. Sama sewaktu ngambil raport SD Chila kemaren degdegan juga. Syukur Alhamdulillah nilainya bagus semua. Duuh meleleh deh walau nggak dapat ranking kalau nilanya memuaskan tetap bangga dan bahagia secara Chila baru 6 tahun terus teman2nya 7 tahun. Beda setahun kalau buat anak-anak mah jauh banget.

    Btw, Mas Nathan keren banget deh umur 4.5 tahun udah bisa bikin prakarya begitu.

    ReplyDelete
  2. Aku ngga ngambil rapot kemarin, mbaak, karena anakku udah ngga mau sekolah :D

    ReplyDelete
  3. Jadi anak pinter ya Mas.... ini foto apas ke Bali bukan mak Prim?

    ReplyDelete
  4. sejauh ini raport masih bagus. antusias biasanya kalau menerima raport pertama ya

    ReplyDelete
  5. ngambil rapor memang saat yag berkesan ya mak. seneng pasti rasanya liat laporan hasil belajarnya juga hasil prakarya dia. aku aja berasa amazing banget waktu itu. eh aku juga ada loh kisah ngambil rapor anak di blog. selamat ya mak, semoga si kecil makin cerdas.

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah nilai raport anak saya masih aman mbak...hehe.. :)

    ReplyDelete
  7. anakku msh PAUD sih mba, jd raportnya ya gitu deh... Aku sndiri juga tipe ibu yg ga mw maksa ankku mempelajarin sesuatu yg dia ga suka... kalo memang dia fokus ama 1 subjek, ya udh, aku juga bakal support.. kmrn sih isi raportnya ga bgs2 amat :D.. fylly dibilang blm bisa fokus kalo disuruh mewarnai gambar, dan hasilnya juga msh kluar2... aku sih ga gitu masalahin ya... ya namanya anak 3 thn wajar klo blm rapi soal ngegambar -__-.. justru aku curiga ama temen2nya yg udh bisa rapi, jgn2 malah dibantuin ama ortunya PR Ngegambar di rumah ;p

    ReplyDelete
  8. Oh ngeyel nya mirip ibu nya, berarti bener ini anak ibu nya bukan anaktetangga hahahaha

    ReplyDelete

Hai kawan, terimakasih sudah mampir ya. Pembaca yang cantik dan ganteng boleh lho berkomentar, saya senang sekali jika anda berkenan meninggalkan jejak. Salam Prima :)

Popular Posts