Sunday, 20 September 2015

Teruntuk Sahabatku

[CURHAT] - Semalam saya bermimpi bertemu dengan sahabat lama saya. Nama kami panggilan kami hampir sama, hanya berbeda satu huruf. Sebut saja dia P. Sejak SD, SMP kami satu sekolah walaupun tidak selalu satu kelas. Rumah kami juga cuma beda kampung, hampir setiap sore saya main kerumahnya atau dia yang berkunjung ke rumah saya. 

Tak hanya di sekolah, tapi kami sering mengikuti kegiatan ekstra bersama. Bedanya, dia lebih cerdas dan lebih tinggi dari saya. Dan itu sebabnya saat SMA kami berpisah, dia sekolah di SMA favorit, sedang saya setengah favorit, hahaha.

Saat SMA kami memang tidak bersama, tapi saya sering bermain ke rumahnya, nonton konser bareng dan menikmati masa muda kami bersama-sama. Keluarga kami juga saling mengenal dengan sangat baik, Ibuk saya dan Ibuk P saat muda dulu juga teman dekat. Dia sering curhat tentang pacar-pacarnya dan sering menemani dia menelepon sang pacar di wartel dekat rumah. Intinya, dia sahabat baik saya.

Ahh, bercerita tentang sahabat kenapa saya menangis. Cengeng. 

Kami sama-sama menikmati masa kuliah di Jogja, pastinya beda kampus. Dia di kampus negeri ternama di Jogja, sedang saya cukup di swasta saja. IQ kami memang berbeda, tapi yang membuat kami dekat sejak kecil karena kami minoritas. Dan saya sangat menyayangi dia.

Di sela waktu luang, saya main ke kos dia atau janjian makan disuatu tempat. Pastinya saling curhat dan ngerumpi cantik, hehehe. Pernah janjian nonton konser Padi bareng, ohya kami sama-sama suka musik dan ngeband. 

Hubungan kami agak merenggang selepas kami lulus kuliah, dia bekerja di luar Jawa dan sangat jarang bertemu. Kadangkala, kami berkomunikasi via sms dan saat dia pulang kampung saya sempatkan untuk melepas kangen dengan menyambangi rumahnya.

Beberapa tahun tak saling kontak, tapi saya sering bertanya kabar dia dari Ibu. Dan mendengar dia baik-baik saja cukup menenangkan saya. Komunikasi kami makin intens semenjak ada facebook, saling komentar di page kami masing-masing.

Lama tak terdengar kabar, saya mendapat undangan pernikahan dari P. Saya senang akhirnya dia mendapat jodoh dan dia mendahului saya. Tapi itu bukan masalah, ketika itu saya sudah bertunanangan dengan mas bojo dan ikut menemani saya jagong. Sedih saat saya tidak bisa bersalaman dan mengucapkan selamat karena saya duduk terlalu jauh. Ohya, di tempat saya hajatan manten masih "piring terbang" tidak standing party. Tamu duduk hingga acara selesai, bisa salaman hanya saat pulang.

Jujur, saya sangat terpukul, sangat sedih karena dia telah meninggalkan keyakinan yang sejak kecil dia anut. Keyakinan yang selama ini menjadi salah satu sarana kami bersama, belajar agama bersama, mengikuti kegiatan agama bersama dan sungguh separuh hidup saya entah mengapa ikut terserabut menyadari kenyataan itu.

Benar, menganut keyakinan itu hak asasi setiap orang, tidak ada yang berhak memaksakan dan saya tidak berhak nggondeli. Hanya mengapa itu harus dia lakukan, demi cinta, demi mendapat jodoh? Jujur saya akui, mendapatkan pasangan yang seiman bagi kami memang tidak mudah, banyak godaan dan jika kita kuat pasti bisa melampauinya. Jangan bilang, ah saya gampang cari yang seiman. Godaan sangat berat sudah saya lampaui, yang orang lain belum tentu kuat menggenggam erat DIA.

Beberapa lama saya masih bertanya-tanya, kok bisa, kok segampang itu melepas sesuatu yang sudah mendarah daging. Saya berusaha menghibur diri, mungkin itu memang jodoh P dan mungkin dia sudah bahagia.

Yang membuat saya makin sedih, hubungan kami terputus. SMS saya tidak pernah terbalas, komentar saya di Facebook tidak direspon, seolah saya tidak dikenalnya, dia seperti menghindari saya. Apa salah saya? Saya tetap ingin menjadi temannya, saya juga tidak pernah menyinggung atau bertanya tentang keyakinannya, saya hanya bertanya kabar dan berkomentar tentang anak atau pekerjaan. Dan, komentar saya hanya angin lalu. 

Semalam, saya bermimpi tentang dia, bersama kedua anak dan suaminya. Saya masih tahu tentang kabar dia dari FB atau status di BBM ibuknya yang masih sering chat dengan saya via BBM. Saya senang dia bahagia dan karirnya semakin sukses.

Setelah bertahun-tahun melupakan hal itu, entah semenjak mimpi semalem, saya menjadi sangat sedih, tak hanya sedih, tapi saya menangis, setelah lama saya tidak menangis, mungkin terakhir saat baca novelnya Tere Liye.

Saya menangis, karena saya kembali teringat jika saya "kehilangan" sahabat saya dan benar-benar kehilangan dia karena dia tidak "sempat" lagi menjawab sms saya. Untung saat ini mas bojo sudah tidur, sehingga saya tidak perlu menjawab kenapa saya menangis saat ini. 

"Tuhan, semoga Engkau selalu menjaganya dan membuat dia bahagia, walaupun dia meninggalkanMu. Semoga dia selalu bahagia dengan jalan yang dia pilih"

Sahabatku, walaupun jalan kita berbeda, kau tetap temanku, didada kita tersimpan banyak kenangan masa kecil kita, banyak rahasia antara aku dan kamu, jika sekarang aku bukanlah temanmu, bukan sahabatmu dan mungkin sudah tidak mengenalku, kamu tetap sahabatku.

Jogja, 20 September 2015

1 comment:

Hai kawan, terimakasih sudah mampir ya. Pembaca yang cantik dan ganteng boleh lho berkomentar, saya senang sekali jika anda berkenan meninggalkan jejak. Salam Prima :)

Popular Posts