Skip to main content

Ditraktir Nonton Raminten Cabaret Show, Ternyata Begini Rasanya!

Rintik hujan belum juga berhenti. Perlahan titik-titik hujan itu mulai berkurang volumenya. Warna langit  kelabu mulai menghilang. Jalanan Jogja mulai padat, maklum saja Jumat sore waktunya para perantau pulang ke kampung halaman dan para pekerja meninggalkan tempat mereka mendulang rupiah dan kembali ke rumah.
Rintik hujan tak mengurangi semangat saya tetap melajukan motor menuju kawasan yang paling ingin didatangi oleh wisatawan tetapi sangat dihindari oleh orang Jogja. Malioboro. Jika tidak terpaksa rasanya orang Jogja males ke sini 'kan?
Macet. Berjubel manusia. Tapi, bagi orang luar Jogja, Malioboro serasa magnet dengan kekuatan super kuat.
Sesampai di Malioboro hujan telah berhenti. Rupanya Tuhan tahu keinginan umatnya. Para wisatawan ingin menikmati Malioboro tentunya tanpa berbasah-basahan. Begitupun saya yang harus berjalan kaki dari Malioboro Mall menuju Mirota Batik. Dari ujung ke ujung ye kan.
Jumat yg lalu seorang teman, Mas Bagus dari Cepu sedang berulang tahun dan…

Teruntuk Sahabatku

[CURHAT] - Semalam saya bermimpi bertemu dengan sahabat lama saya. Nama kami panggilan kami hampir sama, hanya berbeda satu huruf. Sebut saja dia P. Sejak SD, SMP kami satu sekolah walaupun tidak selalu satu kelas. Rumah kami juga cuma beda kampung, hampir setiap sore saya main kerumahnya atau dia yang berkunjung ke rumah saya. 

Tak hanya di sekolah, tapi kami sering mengikuti kegiatan ekstra bersama. Bedanya, dia lebih cerdas dan lebih tinggi dari saya. Dan itu sebabnya saat SMA kami berpisah, dia sekolah di SMA favorit, sedang saya setengah favorit, hahaha.

Saat SMA kami memang tidak bersama, tapi saya sering bermain ke rumahnya, nonton konser bareng dan menikmati masa muda kami bersama-sama. Keluarga kami juga saling mengenal dengan sangat baik, Ibuk saya dan Ibuk P saat muda dulu juga teman dekat. Dia sering curhat tentang pacar-pacarnya dan sering menemani dia menelepon sang pacar di wartel dekat rumah. Intinya, dia sahabat baik saya.

Ahh, bercerita tentang sahabat kenapa saya menangis. Cengeng. 

Kami sama-sama menikmati masa kuliah di Jogja, pastinya beda kampus. Dia di kampus negeri ternama di Jogja, sedang saya cukup di swasta saja. IQ kami memang berbeda, tapi yang membuat kami dekat sejak kecil karena kami minoritas. Dan saya sangat menyayangi dia.

Di sela waktu luang, saya main ke kos dia atau janjian makan disuatu tempat. Pastinya saling curhat dan ngerumpi cantik, hehehe. Pernah janjian nonton konser Padi bareng, ohya kami sama-sama suka musik dan ngeband. 

Hubungan kami agak merenggang selepas kami lulus kuliah, dia bekerja di luar Jawa dan sangat jarang bertemu. Kadangkala, kami berkomunikasi via sms dan saat dia pulang kampung saya sempatkan untuk melepas kangen dengan menyambangi rumahnya.

Beberapa tahun tak saling kontak, tapi saya sering bertanya kabar dia dari Ibu. Dan mendengar dia baik-baik saja cukup menenangkan saya. Komunikasi kami makin intens semenjak ada facebook, saling komentar di page kami masing-masing.

Lama tak terdengar kabar, saya mendapat undangan pernikahan dari P. Saya senang akhirnya dia mendapat jodoh dan dia mendahului saya. Tapi itu bukan masalah, ketika itu saya sudah bertunanangan dengan mas bojo dan ikut menemani saya jagong. Sedih saat saya tidak bisa bersalaman dan mengucapkan selamat karena saya duduk terlalu jauh. Ohya, di tempat saya hajatan manten masih "piring terbang" tidak standing party. Tamu duduk hingga acara selesai, bisa salaman hanya saat pulang.

Jujur, saya sangat terpukul, sangat sedih karena dia telah meninggalkan keyakinan yang sejak kecil dia anut. Keyakinan yang selama ini menjadi salah satu sarana kami bersama, belajar agama bersama, mengikuti kegiatan agama bersama dan sungguh separuh hidup saya entah mengapa ikut terserabut menyadari kenyataan itu.

Benar, menganut keyakinan itu hak asasi setiap orang, tidak ada yang berhak memaksakan dan saya tidak berhak nggondeli. Hanya mengapa itu harus dia lakukan, demi cinta, demi mendapat jodoh? Jujur saya akui, mendapatkan pasangan yang seiman bagi kami memang tidak mudah, banyak godaan dan jika kita kuat pasti bisa melampauinya. Jangan bilang, ah saya gampang cari yang seiman. Godaan sangat berat sudah saya lampaui, yang orang lain belum tentu kuat menggenggam erat DIA.

Beberapa lama saya masih bertanya-tanya, kok bisa, kok segampang itu melepas sesuatu yang sudah mendarah daging. Saya berusaha menghibur diri, mungkin itu memang jodoh P dan mungkin dia sudah bahagia.

Yang membuat saya makin sedih, hubungan kami terputus. SMS saya tidak pernah terbalas, komentar saya di Facebook tidak direspon, seolah saya tidak dikenalnya, dia seperti menghindari saya. Apa salah saya? Saya tetap ingin menjadi temannya, saya juga tidak pernah menyinggung atau bertanya tentang keyakinannya, saya hanya bertanya kabar dan berkomentar tentang anak atau pekerjaan. Dan, komentar saya hanya angin lalu. 

Semalam, saya bermimpi tentang dia, bersama kedua anak dan suaminya. Saya masih tahu tentang kabar dia dari FB atau status di BBM ibuknya yang masih sering chat dengan saya via BBM. Saya senang dia bahagia dan karirnya semakin sukses.

Setelah bertahun-tahun melupakan hal itu, entah semenjak mimpi semalem, saya menjadi sangat sedih, tak hanya sedih, tapi saya menangis, setelah lama saya tidak menangis, mungkin terakhir saat baca novelnya Tere Liye.

Saya menangis, karena saya kembali teringat jika saya "kehilangan" sahabat saya dan benar-benar kehilangan dia karena dia tidak "sempat" lagi menjawab sms saya. Untung saat ini mas bojo sudah tidur, sehingga saya tidak perlu menjawab kenapa saya menangis saat ini. 

"Tuhan, semoga Engkau selalu menjaganya dan membuat dia bahagia, walaupun dia meninggalkanMu. Semoga dia selalu bahagia dengan jalan yang dia pilih"

Sahabatku, walaupun jalan kita berbeda, kau tetap temanku, didada kita tersimpan banyak kenangan masa kecil kita, banyak rahasia antara aku dan kamu, jika sekarang aku bukanlah temanmu, bukan sahabatmu dan mungkin sudah tidak mengenalku, kamu tetap sahabatku.

Jogja, 20 September 2015

Comments

Post a Comment

Hai kawan, terimakasih sudah mampir ya. Pembaca yang cantik dan ganteng boleh lho berkomentar, saya senang sekali jika anda berkenan meninggalkan jejak. Salam Prima :)

Popular posts from this blog

Villa Budi Luhur II , Villa Pilihan Keluarga di Sekipan Tawangmangu

Dah hari Jumat aja nih, weeked brooo, mari piknik biar awet muda ya. Kali ini saya mau membagi cerita piknik keluarga saya beberapa waktu yang lalu. Bukit Sekipan Tawangmangu bisa jadi pilihan kamu untuk berlibur bareng keluarga. Ada villa dengan view cantik, hutan pinus dibelakang rumah dan kebun strawberry di depannya. Nikmat apa yang saya dustakan coba.
Sedianya saya ingin berkeliling Semarang, bersama orangtua, keluarga saya dan adik-adik saya. Tapi hunting hotel koq harganya ga turun-turun dan Bapak saya enggan untuk berjalan jauh, akhirnya saya pengen ngadem aja di Tawangmangu.
Dah pada tahu kan, di Tawangmangu banyak villa cantik dan dekat obyek wisata Grojogan Sewu. Pasti sangat ramai, padahal saya pengen tempat yang sepi, tenang dan dingin. Ratusan hotel, villa dan penginapan berjajar di sekitar Tawangmangu, satu persatu villa saya hubungi dan Villa Budiluhur jadi pilihan saya. Pemilik menawarkan villanya yang baru, karena villa lama sudah dipesan orang lain. Jadilah saya be…

Pengen Baby Selalu Wangi? Ini Rahasianya Moms

Time flies so fast gaes, tak terasa anak mbarep saya sudah berusia lima tahun. Usia dimana "masa kritis" seorang anak telah terlampaui dan saya merasa sedikit lega. Kenapa dikatakan semasa balita merupakan masa kritis? Karena di usia bawah lima tahun seorang anak masih rentan terkena penyakit, masih membutuhkan penanganan ekstra dan perhatian khusus dari orang tua terutama Ibu.



Hari ini saya sangat bahagia, duo anak lanang sehat dan tumbuh dengan baik, walaupun yang mbarep agak langsingan sedang adiknya lebih gembul. Ya, namanya anak-anak berbeda dan unik. Keduanya amat saya sayangi dan cintai.


By the way busway ((siapa yg naik busway 'nyah)). Walaupun sekarang sudah tidak merasakan rempongnya punya bayi, tapi terkadang banyak hal yang berhubungan dengan bayi membuat saya kangen pengen megang bayi lagi (('sok bikin)). Jujur sih, saya pengen punya bayi lagi, tapi maunya cewek biar ada yang nurunin cantiknya saya ((hueex)), tapi sabar masa produktif saya masih beberapa…

11 Lagu Sedih Tentang Cinta Beda Agama

Hayoo, siapa yang belum pernah ngerasain patah hati. Sepertinya nggak ada yaaa, kecuali kamu belum pernah punya kekasih hati. Hahaha.  Saat lagi patah hati, paling enak 'tuh ya dengerin lagu sedih yang sesuai banget ama suasana hati yang mendayu-dayu. Puasin 'dah menangis berdarah-darah, apalagi terprovokasi lagu sedih yang membuat air mata tak henti mengalir. Karena, kalau lagi patah hati tapi berniat menghibur diri dengan mendengarkan lagu heppi tuh tetep kagak mempan. 
Mewek? Nggak papa koq. Asal kagak ada orang lain lihat atau orang yang kamu tangisi tahu. Bisa GeeR dia nanti. 
Ngomong-ngomong tentang patah hati atau putus cinta, banyak penyebabnya. Sebut saja, doi selingkuh, doi udah nggak cinta, doi dah bosen, doi dijodohin ortunya. Tapi, kalau menurut saya nih, putus cinta karena "perbedaan" itu yang bikin nyesek. Padahal keduanya saling mencintai. Tapi, tetep harus pisah. Nah lo!
Menjalani sebuah hubungan dengan perbedaan agama/keyakinan memang sangat berat …