Friday, 7 August 2015

Pekan ASI Sedunia : Wanita Bekerja Tetap Bisa Memberikan ASI Ekslusif


Stok ASI saya buat si kecil

ASI adalah makanan wajib bagi seorang bayi, esklusif diberikan hingga  bayi berusia 6 bulan. Itu berarti, sejak lahir si bayi hanya minum ASI tanpa tambahan minuman apapun termasuk air putih selama 6 bulan ke depan.

Pemberian ASI kepada bayi itu mutlak dan sudah menjadi kewajiban seorang Ibu untuk memberikan ASInya kepada si bayi. Tak hanya kewajiban, tapi sudah menjadi kodrat jika seorang wanita yang memiliki bayi untuk menyusui bayinya. Terkecuali wanita dengan kelainan tertentu yang menyebabkan terkendalanya pemberian ASI. Semisal si Ibu mengidap penyakit yang berat sehingga terpaksa mengganti ASI dengan sufor.

Namun, pada kenyataannya ada hambatan kekinian yang menyebabkan seorang Ibu tidak bisa memberikan ASInya secara esklusif apalagi sampai dua tahun. Wanita Bekerja, ya, alasan itu bisa digunakan sebagai alasan atau penghambat bagi Ibu untuk memberikan ASInya karena dia harus bekerja di luar rumah. Hal itu terjadi karena si Ibu memang sudah berencana tidak menyusui, faktor lingkungan yang tidak mendukung, faktor biologis si Ibu yang tidak memungkinkan untuk menyusui dan karena malas. Bener lho, ada ibu yang tidak menyusui anaknya karena malas. Ada saudara yang mempunyai bayi, sejak lahir tidak disusui padahal dia tidak bekerja sehingga bisa 24 jam bersama bayinya. Menurut dia menyusui itu merepotkan  dan lebih keren pake susu formula. Ehmmm.... jujur saya sedih dan teganya dia seperti itu. Tapi  dilanjutkan dengan alasan ASInya sedikit. Ohya, ASI pertama kali keluar memang sangat sedikit karena perut bayi baru lahir dan hanya membutuhkan minum sedikit sekali.

Tentang pentingnya ASI saya kira tidak perlu saya jabarkan, anda bisa googling atau membaca dari media massa atau keterangan dari bidan/dokter. Pastinya sangat penting dan utama bagi bayi. Ibu yang stay at home atau tidak bekerja di luar pastinya lebih mudah menyusui bayinya, bayi haus tinggal "sel" dan bayi minum sepuasnya. Berbeda dengan seorang Ibu yang harus bekerja dan meninggalkan bayinya di rumah. Akan ada banyak kendala, seperti yang saya sebutkan diatas. 

Begitupun saya saat melahirkan anak pertama di tahun 2011 yang lalu. Sepulang dari RS saya bingung, susu formula apa yang akan saya berikan pada anak saya jika saya bekerja nanti. Saat itu saya belum pernah mendengar dan tidak tahu tentang ASIP atau ASI Perah. Saya bertanya pada teman dunia maya lewat facebook dan ada seorang teman yang malah memberi tahu tentang ASIP dan melarang saya memberikan susu formula. Berkat mbak Icha dan Muslikah teman saya di FB yang mensupport untuk memberikan ASI.

Saya terkejut dan heran, apa iya ASI bisa diperas/diperah. Karena menurut cerita Ibu saya, ASI payudara berisi darah dan jika diperas akan keluar darah. Ahh betapa bodohnya saya saat itu yang masih percaya mitos-mitos. Kemudian saya bertekad memberikan ASI selama saya bisa. Tanpa memberikan susu formula. Saya mencari informasi tentang ASIP, cara memerah, cara menyimpan dan cara memberikan ASIP pada bayi.

Tapi, saya tahu informasi tentang ASIP hanya beberapa hari sebelum cuti melahirkan saya berakhir, saya tida bisa nyetok dan hanya punya beberapa botol, sehingga saya memberikan ASIP secara kejar tayang yang berarti, perahan hari itu diminum di hari berikutnya. Dan jujur, hal itu membuat saya sport jantung tiap hari. Dimana saat di kantor saya harus memerah ASI yang banyak bagi bayi saya, saya harus memerah 3 kali. Sehingga saya menghindari pekerjaan di lapangan dan memilih ngendon di kantor. Karena jika saya tidak memerah sesuai waktunya, stok ASIP bagi bayi saya esok hari akan berkurang dan pastilah dia rewel karena kurang minum. 

Dengan keyakinan dan tekad, saya berjuang mendapatkan ASIP yang cukup bagi si kecil. Cooler bag, pompa, botol kaca selalu saya bawa ke kantor, agak repot sih bawa perintilan. Tapi demi anak its no problem. Dimana saya memerah? Di toilet. Yes, jika toilet terkunci lebih dari 10 menit, teman dikantor sudah tahu jika ada saya di dalamnya. 

Saya terpaksa memerah ASIP di toilet karena memang tidak ada tempat lain lagi, beruntungnya toilet di kantor lumayan bersih, sehingga saya tidak perlu menutup hidung saat memerah ASI. Tidak takut kemasukan kuman? JUjur saja iya, tapi gimana lagi, toh saya memerah menggunakan pompa dan ASI langsung masuk ke botol tanpa terkena udara luar. Saya yakin aja dan pasrah. Kenyataannya anak saya jarang sakit, sewaktu bayi pernah panas pilek sekali saat umur 7 bulan. Itupun karena Bapak dan mbahnya flu berat sehingga dia ketularan.

Perjuangan memberikan ASI Ekslusif tak hanya saat memerah, tapi minimnya dukungan dari pihak keluarga. Bahkan saya sempat bersitegang dengan mertua yang menilai saya salah dan malah merepotkan dengan memberikan ASIP. Kenapa ga pake susu formula aja lebih praktis menurut beliau. Saya sih maklum, karena bagi dia memerah ASI itu hal yang sama sekali baru. Tapi lama kelamaan beliau mendukung juga.

Bagaimana Cara Pemberian ASIP?
Sebaiknya disendokin atau menggunakan cangkir khusus, sehingga si bayi langsung minum dari gelasnya. Tapi, bagi saya cara itu semakin merepotkan mertua saya, dimana ASIP diberikan dengan cara dihangatkan dulu, sudah ribet apalagi harus menyuapi pastilah membutuhkan kesabaran. Menggunakan botol dotlah cara terpraktis, walau ada yang bilang menyebabkan bingung puting. Tapi saya bersyukur kedua anak saya, tetep nenen langsung ke saya saat saya dah di rumah. Diminumin pakai dot sama sekali ga mau. Itu berarti dia tidak bingung puting.

Saat anak kedua saya sudah lebih paham dan persiapan matang, dua bulan sebelum cuti sudah memerah dan nyetok puluhan botol di kulkas. Hepi donk, seneng donk, ga kejar tayang lagi. Walaupun hanya sampai 1,5 tahun saya bersyukur bisa memberikan ASIP pada kedua anak lanang. Kenapa ga sampai dua tahun?
Pengennya sih gitu, tapi saat anak pertama saya berusia 1,5 tahun saya hamil lagi dan teler, ga doyan makan sehingga ASI berkurang dan dia saya sapih. Saat anak kedua, saya sapih sebelum dua tahun karena ada masalah di mulutnya hingga saya terpaksa menyapih.

Ceritanya di Lidah Tergigit



Pekan ini dari tanggal 1-7 Agustus 2015 merupakan Pekan ASI Sedunia atau World Breastfeeding Week 2015. Yuk, berikan ASI pada bayi kita. Yakin pasti kita bisa! Atau sosialisasikan tentang ASIP bagi perempuan pekerja yang tidak tahu atau belum paham tentang ASI perah. Slalu support Ibu menyusui dan dorong kantor atau pabrik untuk menyediakan tempat untuk memerah serta sedikit kelonggaran waktu bagi perempuan yang mempunyai bayi untuk memerah ASI di pabri katau kantor.






Kedua bayi ASI saya yang montok dan slalu sehat. Salam ASI.

5 comments:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  2. Anak anak semuanya asi ekslusif. Sayang si Ncit ga bisa lanjut karena kesundul adeknya. beruntung si Ncip bisa sampe 2 tahun. Nah bapaknya nih yang sampe tua belum bisa disapih... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lha sama, anak saya yg pertama jg cuma nyampe 1,5 tahun, kesundul adekke. HObi sundul sundulan ki yaa

      Delete
  3. mantap, Mak. Saya selalu salut dengan ibu bekerja yang tetap berjuang memberi ASI bagi anak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Demi si kecil mbak, agak repot dikit gapapa

      Delete

Hai kawan, terimakasih sudah mampir ya. Pembaca yang cantik dan ganteng boleh lho berkomentar, saya senang sekali jika anda berkenan meninggalkan jejak. Salam Prima :)

Popular Posts