Wednesday, 3 June 2015

Tersadar di Mercusuar Pantai Pandansari Bantul

Setelah puas menikmati Pantai Gua Cemara dan rasa sakit karena diPHP ama Bapak-Bapak kantor, saya dan teman yang lain mampir ke Menara Suar di Pantai Pandan Sari. Pas di sebelah timur Pantai Gua Cemara. Ide siapa coba, pastilah ide saya, yang lain mana tertarik, apalagi kalo mesti naik-naik gitu. 


Menara suar ini berada di dalam komplek kantor dengan beberapa rumah dinas. Ga pernah berharap dech ditugasin disini, sepi dan jauh dari peradaban,hehehe. Pintu pagar memang selalu ditutup, tapi jika anda ingin masuk kesini, silakan, dibuka untuk umum. Asal minta ijin pada Bapak penjaganya. 


Mercusuar digunakan sebagai petunjuk bagi pelaut-pelaut yang lepas sauh di pantai selatan.
Menurut Bapak penjaga setiap pukul setengah 6 sore, lampu mercusuar dinyalakan.  Jika Ibu-ibu lain memilih menunggu di mobil, maka saya tertarik untuk naik ke atas. Di temani Mas Dendi dan Mbak Fina serta Mbak Hartini, perlahan-lahan kami menaiki tangga dari besi. Satu pesan dari Bapak Penjaga, jika sampai atas jangan bersandar pada pagar besi karena sudah mulai rapuh. 

"OK Pak" kata saya


Ruangan dalam mercu suar tidak terlalu luas, mungkin sekitar 3,5 meter. Dengan tangga besi melingkar di tengahnya. Karena saya memang ga phobia ama ketinggian ya ayuk aja, perlahan-lahan menjejakkan kaki di tangga. Ruangan yang tertutup membuat suara terdengar menggema. Saya mendapat giliran naik terakhi kali, maklumlah junior walaupun badannya paling gede, hehhe. Ada 9 lantai yang mesti dilewati untuk sampai ke puncak mercusuar. Di lantai ke 4 saya menyalip mbak Fin dan Mb Hartini, sedang mas Dendi yang memang hobi panjat gunung dah hampir sampai di lantai 8. 

Menyerah di lantai ke 5
Sampai di lantai 5 mereka memutuskan untuk stop dan turun ke bawah, walaupun sudah saya support nampaknya mereka sudah kelelahan, saya naik sendirian dah. Suasananya sepi, bikin tengkuk merinding. Jadi ngebayangin kalo ada gempa gimana yaa..Dah parno aja. Sampai dilantai terakhir tangganya sudah tidak melingkar lagi, tapi tegak lurus seperti tangga biasa. Untuk naiknya lebih sulit karena licin. Nah , begitu sampai di anak tangga terakhir, saya pikir-pikir untuk naik ke atas, tidak ada pegangan sama sekali, hanya lantai yang licin dan dingin. Mungkin untuk naik saya bisa, tapi nanti turunnya dari lantai ke anak tangga piye, mana ga ada temen. Dan saya urung sampai di lantai teratas, dari lantai 9 saja angin lautnya terasa banget, apalagi di atas yang terbuka. Rambut sunsilk eike bisa kusut, hahaha.

Mercusuar setinggi 50 meter ini dibangun pada tahun 1997, pantas saja tangga mulai  berkarat dan rapuh. Menurut Bapak Penjaga, setelah lebaran baru ada proyek untuk merenovasi menara ini.


Pemandangan dari atas memang sangat indah, topografi Bantul terlihat dari sini. Ombak yang berkejar-kejaran di pantai selatan pun terekam jelas.  Walaupun tidak bisa sampai atas, tetep koq bisa melihat pemandangan diluar, karena tiap lantai ada sebuah jendela kaca berukuran kecil.





Dari atas sini, laut terlihat amat luas, seolah tak ada pembatasnya. Hanya langit biru di ujung sana. Betapa hebatnya Sang Pencipta, bisa melukilah  alam seindah ini. Manusia hanya satu partikel kecil yang dengan mudah tertiup angin atau dielan gelombang, saya sadar saya bukanlah apa-apa diantara hamparan dunia. Tapi kenapa saya begitu congkak? Seolah-olah sayalah yang paling hebat dan paling benar. Semoga hanya saya yang seperti itu.

Bantul, 29 Mei 2015

2 comments:

  1. Waktu kuliah dulu saya pernah naik ke mercusuar itu...

    ReplyDelete
  2. aku kenal deh bangunan ini samaa kaya film "pocong juga selfie" bener g sih :)

    ReplyDelete

Hai kawan, terimakasih sudah mampir ya. Pembaca yang cantik dan ganteng boleh lho berkomentar, saya senang sekali jika anda berkenan meninggalkan jejak. Salam Prima :)

Popular Posts