Monday, 22 June 2015

Mari, Berani Bermimpi!

Beberapa hari yang lalu, saya ngobrol ringan ama Ibuk saya. Beliau bercerita kalau mimpi beliau sama dengan mimpi anak bungsunya, adik saya yang paling kecil.
"Lho koq tahu mimpine Adam buk?" Tanya saya pada Ibuk
"Taulah, Ibuk baca dari 100 cita-cita hidupnya" Jawab Ibuk saya.

Setelah saya telusuri, ternyata Ibuk membaca 100 cita-cita hidup adik saya yang dia tulis saat OSPEK masuk UGM dulu. Karena Ibuk menemukan kertas itu di tas goni, bersama pernak pernik masa OSPEK dulu. 

Saya penasaran dan pengen tahu, mimpi adik saya apa aja sih n apa impian terpendam Ibuk saya.


Wow, banyak sekali ya cita-citanya. Ga nyangka ternyata si ragil berani bermimpi, semoga kelak tercapai 'le. Dan salah satu mimpi Ibuk saya ada di point ke tujuh, yaitu bisa ke Vatikan, Roma , Italia. Ah, mengetahui mimpi beliau saya jadi terharu, Ibuk saya ternyata ingin sekali mengunjungi kota suci itu. Tempat dimana PAUS tinggal, tempat dimana pusat gereja Katholik. Saya saja tidak pernah berpikiran sampai ke sana, dan impian Ibu saya melampaui impian anaknya. 

Saya tidak pernah meng"underestimated" impian Ibuk. Saya yakin, suatu saat beliau akan ke sana, entah dapet rejeki nomplok, hasil menabung, ke sana bareng anak bungsunya yang mimpinya sama atau mungkin saya yang akan mengantar Ibuk ke Roma. 

Mimpi adalah masa depan yang kita ciptakan sekarang

Saya sangat percaya kekuatan mimpi, cita-cita. Karena tanpa mimpi, jalan kita ke depan tanpa tujuan. Yah, dijalani seadanya. Pun, jika mimpi itu terlalu tinggi, bahkan terkadang kitapun tak yakin dengan mimpi itu, biarlah alam yang menjawab.

Mimpi yang menjadi kenyataan rasanya seperti sebuah keajaiban

"Ah, pesawat wira-wiri diatas rumah, pengen naik pesawat lagi" suatu sore saya berbicara pada diri saya sendiri. Dan keesokan paginya ada tugas mendadak ke Ibukota dan otomatis harus naik pesawat. Entah hal itu sebuah mimpi atau keinginan sesaat. Tapi, terkadang Tuhan memang suka memberi kita surprised, kejutan bagi kita. 

Pun, saat tahun 90an iklan mobil Panther sering diputar ditipi, dengan tagline cring cring cring, model iklannya Bapak-bapak kurus tinggi, Ibu saya selalu berkomentar besok pengen mobil seperti itu dan langsung diejek Bapak saya "Mbok rasah ngimpi". Bapak saya bukan tipe pemimpi, mungkin untuk bercita-cita saja beliau tidak berani. Dan mungkin "greget" antara Ibuk dan Bapak berbeda.

Bapak saya tidak sepenuhnya salah, beliau berpikir realistis, bagaimana mungkin punya mobil, keadaan keluarga saja "elit" a.k.a ekonomi sulit, satu tulang punggung dengan gaji minimalis menanggung satu istri dan 4 anak usia sekolah. Rasanya sangat sulit, motor saja keluaran lama bagaimana mungkin bisa punya mobil dengan harga puluhan juta.

Bermimpilah dalam-dalam, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu

itu kata Arai dalam novel Sang Pemimpi karangan Andrea Hirata. Dan benar saja, Tuhan memeluk erat mimpi Ibuk dan menjadikan mimpi itu nyata. Ibuk memang tidak bisa membeli mobil, tapi anaknya yang bekerja di LN membeli mobil Panther dan digunakan untuk keperluan sehari-hari oleh Bapak dan Ibuk saya. Lain cerita, bisa bekerja di LN pun impian terbesar seorang anak STM yang tanpa menunggu lama, setelah lulus terbang ke Korsel dan mencari segenggam berlian disana.

Mudahnya mimpi yang menjadi kenyataan

Saat mimpi terwujud, banyak orang dengan mudahnya meniadakan perjuangan kita, melihat seolah-olah mimpi yang terwujud seperti jatuhnya buah durian. Mimpi juga butuh proses dan perjuangan di balik itu. Kerja keras dan kerja keras itu yang dibutuhkan untuk mewujudkan mimpi, dan tentunya DOA. Untuk bermimpipun kita membutuhkan keberanian, apalagi untuk mewujudkannya.

Itu hanya secuil pengalaman, masih banyak mimpi yang telah terwujud dan belum terwujud. Dari seratus mimpi adik saya, ada dua point yang menggelitik hati saya. Yaitu mempunyai rumah singgah dan bisa krama inggil. Dia menginginkan suatu saat nanti mempunyai rumah singgah, rumah sosial tempat berbagi dengan orang lain yang tidak mampu dan bisa menguasai bahasa Jawa halus, boso kromo yang semakin dihindari oleh anak muda, bahkan 98% anak-anak ataupun anak muda keturunan Jawa tidak bisa boso Kromo Inggil.


Ahhh, semoga kelak mimpi-mimpimu tercapai dek dan antarlah Ibuk ke Roma, kalo bisa mbak nebeng, hahahaha.....  Sayapun tak mau kalah, ada banyak mimpi berseliweran di kepala. Mimpi yang reality ataupun diawang-awang.

Temans Aprint, pastinya kalian punya banyak sekali mimpi ataupun cita-cita. Banyak hal yang ingin kalian raih, possible or impossible, tergantung keyakinanmu. Nah, kira-kira mimpi terbesarmu apa aja sih?

11 comments:

  1. sudah kuduga mimpi yang itu. keep share dream sista!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Isohe mimpi yo mimpi sik sakdurunge dilarang,haha

      Delete
  2. ikutt SAR -_-

    Semangattt, Mbak, semoga tercapaii

    ReplyDelete
  3. semoga semua cita-citanya tercapai ya mba :)

    ReplyDelete
  4. mimpinya banyak dan ditulis lagi, kereeen

    ReplyDelete
  5. dulu cita-cita saya pingin jadi tentara,apadaya sekolah cuma sd saja.
    kini betul,cita-cita saya cuma impian belaka....hihihi

    met siang mba prima

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pastinya mas Reo ga cocok jadi tentara, malah jadi bos kan,hehe

      Delete
  6. Saya yakin mimpi akan menjadi salah satu penyemangat utk meraih cita2 / mewujudkan mimpi, mbak... Semoga mimpi ibuk, adik & mimpi mbak akan terwujud yaa... Insya Allah.. :)

    ReplyDelete

Hai kawan, terimakasih sudah mampir ya. Pembaca yang cantik dan ganteng boleh lho berkomentar, saya senang sekali jika anda berkenan meninggalkan jejak. Salam Prima :)

Popular Posts