Skip to main content

Buang Khawatir Bersama GOJEK

Era digital sungguh membahagiakan banyak orang. Terutama saya yang merasa sangat dimanjakan dengan kemajuan teknologi digital. Keberadaan teknologi digital membuat banyak hal menjadi lebih mudah. Misalkan saja dalam urusan transportasi. Sebulan sekali saya ada tugas luar dari kantor. Dulu sebelum ada ojek online, suami saya harus kerepotan mengantar saya ke bandara atau stasiun. Jika waktunya siang hari mungkin tak masalah, namun seringnya saya harus berangkat malam atau sampai di Jogja malam. Itu sungguh merepotkan karena jika sudah lebih dari jam 8 anak-anak biasanya sudah tidur. 
Sungguh saya tak tega jika melihat anak-anak harus ikut mengantar dan tidur di mobil, kemudian pas pulang mereka sadar sudah nggak ada mamaknya, bakal bikin perang dunia III.  Hahahaha.
Sepertinya saya harus berterima kasih pada penemu dan pemilik GOJEK yang sudah mengembangkan aplikasi yang sangat berguna ini. Saya bisa memesan mobil ataupun motor dengan mudah, diantarkan sampai lokasi tujuan tanpa repot…

Yuk, Kembali Berbahasa Jawa

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya

Kata pepatah diatas bermakna, lain daerah lain adatnya, lain daerah juga beda bahasanya. Jangankan bahasa, ada banyak dialek dalam satu bahasa. Seperti bahasa Jawa, antara orang Solo dan Jogja cara ngomong dan kosakatanya juga ada perbedaan. Bahkan sama-sama Jogja, antara Kalasan dan Bantul sudah berlainan. Apalagi dengan Klaten, tempat kelahiran saya, semakin berbeda.

Saat di kantor saya biasa menggunakan bahasa Jawa, dan terkadang saat berbincang dengan kawan, mereka bingung dan tidak mengerti dengan apa yang saya katakan. Bahkan sering, ada kata-kata yang membuat saya ditertawai orang sekantor, karena aneh dan lucu kata mereka.

Berikut saya tuliskan beberapa kata yang hanya orang Klaten ke timur yang tahu :
Oglangan : Mati lampu/listrik padam
Sayak     :  Rok
Jiblok     :  Jatuh
Lenang   :  Lanang
Tili-tili     :  Basah kuyup

Disamping ada perbedaaan kosakata, ada perbedaan dialek juga. Orang Jogja slalu mengakhiri kalimat dengan akhiran 'je dan sekarangpun saya fasih ngomong jawa dengan akhiran je.
Contoh :
Klaten : Arep nendie
Jogja   :Arep nendi je

Sekarang, bahasa daerah semakin dipinggirkan, kebanyakan orang apalagi anak muda lebih senang menggunakan bahasa Indonesia, walaupun berbicara dengan sama-sama orang Jawa. Boleh dibilang hal ini memprihatinkan, karena setelah budaya dan adat semakin dihilangkan dengan alasan tak sesuai ajaran agamalah  atau tergerus budaya barat atau Korea. Bahasa Jawapun semakin langka digunakan.

Sejak kecil saya lebih sering berbahasa Indonesia dengan anak saya, dan saat ini terkadang anak saya tidak mengerti apa yang saya maksud saat kami ngobrol menggunakan bahasa Jawa. Disitu kadang saya merasa sedih. Saya sadar, itu adalah kekeliruan yang besar dan itu salah saya. Kenapa saya tidak mengenalkan Bahasa Ibu yaitu bahasa Jawa sepenuhnya kepada si kecil. Atau kadang menggunakan bahasa campur-campur,Indonesia Jawa Inggris.

Sekarang, saya berusaha selalu menggunakan bahasa Jawa saat ngobrol dengan anak saya, sebisa mungkin bahasa Jawa alus/kromo. Dan penggunaan bahasa Jawa alus juga berpengaruh terhadap tingkah laku dia. Lebih sopan dan jarang teriak-teriak lagi.


Kadang, saya merasa geli saat berbicara dengan seseorang yang sama-sama orang Jawa tapi memakai bahasa Indonesia. Ini diluar acara resmi Saat tahu lawan bicara saya wong Jowo, saya biasanya melanjutkan obrolan dengan bahasa Jawa. Tapi, seringnya si dia tetep pake bahasa Indonesia sedang saya ngomong Jowo. Mungkin yang mendengar pembicaraan kami ketawa, tanya jawab dengan dua bahasa berbeda. 

Yoo ayooo, yang ngerasa wong Jowo, ya Jawa Tengah, Jogja, Jawa Timur, kembali berbahasa Jawa dan mengenalkan kepada generasi penerus. Walau kadang diejek medok, ya biarlah kita memang wong Jowo yang medok. Janganlah bahasa Jawa hilang di bumi Indonesia, ga malu sama orang asing yang belajar budaya dan bahasa Jawa?

Semoga kita tidak jadi Wong Jowo tapi ilang Jawane.

salam Prima.

Comments

Popular posts from this blog

Pengen Baby Selalu Wangi? Ini Rahasianya Moms

Time flies so fast gaes, tak terasa anak mbarep saya sudah berusia lima tahun. Usia dimana "masa kritis" seorang anak telah terlampaui dan saya merasa sedikit lega. Kenapa dikatakan semasa balita merupakan masa kritis? Karena di usia bawah lima tahun seorang anak masih rentan terkena penyakit, masih membutuhkan penanganan ekstra dan perhatian khusus dari orang tua terutama Ibu.



Hari ini saya sangat bahagia, duo anak lanang sehat dan tumbuh dengan baik, walaupun yang mbarep agak langsingan sedang adiknya lebih gembul. Ya, namanya anak-anak berbeda dan unik. Keduanya amat saya sayangi dan cintai.


By the way busway ((siapa yg naik busway 'nyah)). Walaupun sekarang sudah tidak merasakan rempongnya punya bayi, tapi terkadang banyak hal yang berhubungan dengan bayi membuat saya kangen pengen megang bayi lagi (('sok bikin)). Jujur sih, saya pengen punya bayi lagi, tapi maunya cewek biar ada yang nurunin cantiknya saya ((hueex)), tapi sabar masa produktif saya masih beberapa…

Villa Budi Luhur II , Villa Pilihan Keluarga di Sekipan Tawangmangu

Dah hari Jumat aja nih, weeked brooo, mari piknik biar awet muda ya. Kali ini saya mau membagi cerita piknik keluarga saya beberapa waktu yang lalu. Bukit Sekipan Tawangmangu bisa jadi pilihan kamu untuk berlibur bareng keluarga. Ada villa dengan view cantik, hutan pinus dibelakang rumah dan kebun strawberry di depannya. Nikmat apa yang saya dustakan coba.
Sedianya saya ingin berkeliling Semarang, bersama orangtua, keluarga saya dan adik-adik saya. Tapi hunting hotel koq harganya ga turun-turun dan Bapak saya enggan untuk berjalan jauh, akhirnya saya pengen ngadem aja di Tawangmangu.
Dah pada tahu kan, di Tawangmangu banyak villa cantik dan dekat obyek wisata Grojogan Sewu. Pasti sangat ramai, padahal saya pengen tempat yang sepi, tenang dan dingin. Ratusan hotel, villa dan penginapan berjajar di sekitar Tawangmangu, satu persatu villa saya hubungi dan Villa Budiluhur jadi pilihan saya. Pemilik menawarkan villanya yang baru, karena villa lama sudah dipesan orang lain. Jadilah saya be…

Kolam Renang Water Park Tirta Taman Sari Bantul

Kolam Renang Taman Tirtasari Bantul - Hayoo siapa suka berenang? Pasti banyak orang yang hobi berenang atau hanya sekedari ciblon main air, termasuk saya. Di kota besar banyak terdapat kolam renang di hotel atau water boom dengan fasilitas super lengkap. Bahkan, sebulan yang lalu ada water boom yang di klaim sebagai water boom terbesar se Jawa Tengah. Jogja Bay nama tempat itu.


Kali ini saya tidak akan membahas tentang Jogja Bay, tapi kolam renang di Bantul. Sebuah water park yang tidak terlalu besar, tapi lumayanlah untuk ukuran kota kecil seperti Bantul. Walaupun sederhana tapi sederhana, waterpark Tirta Tamansari ini selalu ramai pengunjung. Di hari libur banyak pengunjung bersama keluarga. Sedangkan saat hari biasa atau bukan hari libur, para siswa dari TK hingga SMA belajar berenang disini.

Bayangin aja, tiket masuk Waterpark Tirta Tamansari Bantul ini cuma 6000 IDR di hari biasa dan 8000 IDR di hari libur. Mulai anak berusia 2 tahun harus membeli tiket masuk dan  walaupupun pen…