Wednesday, 3 December 2014

Perempuan Pemaaf itu, Ibuku


                                               

Siang itu, aku pulang sekolah seperti biasanya. Tapi, sesampai di rumah, ada hal yang tak biasa kutemui. Di depan rumah ada  sedikit keramaian, dari jauh terlihat Ibuku sedang  berbicara dengan yabeberapa orang Bapak-bapak. Semakin dekat, terdengar jika mereka berbicara dengan nada tinggi, apalagi seorang Bapak yang mengenakan baju doreng-doreng, dia berbicara sambil  menunjuk-nunjuk Ibuku. Wajah Ibu terlihat takut dan sedih, setelah orang  itu pulang baru Ibu bisa tersenyum melihat kedatanganku.

Saat itu, aku masih kelas 5 SD. Melihat orang marah-marah dan berteriak seperti itu benar-benar membuat saya trauma dan takut. Saat aku bertanya apa yang terjadi, Ibu saya hanya tersenyum dan bilang kalau tidak ada apa-apa, dan itu urusan orang tua, kata Ibu.

Setelah Bapak pulang, Ibu bercerita tentang  kejadian itu, sambil belajar, aku menguping pembicaraan mereka. Ternyata orang yang datang tadi siang adalah anak angkat tetangga sebelah rumah yang datang dari Jakarta. Dan beberapa perangkat desa. Orang itu meminta dapur, sumur serta  kamar mandi kami yang berada di belakang rumah untuk di bongkar karena  menurut versi orang yang datang tadi siang, tanah itu termasuk dalam wilayah tanah yang dia beli dari Budeku.

Disamping rumahku, ada sebuah bangunan yang juga kami gunakan. Nenek mewariskan bagian depan untuk Ibu dan bagian belakang untuk Bude, karena Bude juga mendapat tanah di tempat lain. Nenek sudah meninggal lama sejak Ibuku masih kecil, dan Bude meminta tukaran lokasi, Bude dapat tanah di depan dan Ibu saya mendapat yang belakang. Sebagai adik yang baik, Ibu nurut saja dengan Mbakyunya.  Dari situ terlihat siapa yang “nakal”. Ibu saya yang seharusnya mendapat bagian tanah di pinggir jalan raya besar, ditukar dengan tanah yang di belakang, yang pasti nilai jualnya sangat berbeda. Tapi Ibu tak pernah berpikiran sejauh itu, minta ditukar ya OK aja, toh dia Mbakyunya.  Tapi, dengan kedatangan orang itu, Ibu jadi bingung, kok jatah tanah yang katanya buat dia malah dijual sama Budeku.  Bapak juga sedikit marah dan bingung dengan kejadian itu. Dan meminta Ibu untuk tenang dan besok ditanyakan langsung dengan mbakyunya.

Beberapa hari kemudian, Ibu memberanikan untuk bertanya sama Budeku,  tapi  yang terjadi malah Bude saya marah-marah dan sepertinya memihak orang itu.  Dan semenjak kejadian itu Bude seperti memusuhi Ibu saya, bahkan anak-anak nya yang sedari kecil di asuh Ibuku juga tidak mau bertegur sapa dengan kami sekeluarga.  Pasti Ibu terpukul, sedih dan sangat kecewa, perlakuan yang dia terima sungguh tak pernah  dia bayangkan akan berakhir seperti itu. Saat itu saya tak mengerti apa yang terjadi, baru semenjak SMA saya sadar, lho bukannya seharusnya Ib u saya yang marah dan tidak terima, ini kok malah kebalik.

Selain dibenci oleh Bude dan sekeluarga, Bapak dan Ibu masih diteror  oleh Bapak-bapak berbaju doreng itu. Setelah melewati  beberapa kali pertemuan, tetap saja tidak menghasilkan kesepakatan. Orang itu menuntut gang disebelah kiri rumah menjadi bagiannya, dan dapur beserta sumur dibelakang rumah menjadi milik dia.

Ibu saya berusaha menelusur riwayat tanah itu sebelum menjadi milik Nenek saya. Dan beruntung Ibu itu masih ada, walaupun sudah sepuh beliau masih ingat jelas, jika dia menjual rumah itu beserta sumur dan dapur yang ada di belakang rumah walaupun tidak dimasukkan dalam sertifikat. Karena jaman dulu, tidak seperti sekarang, yang tercatat cuma 150 meter dan dapur, senthong(kamar tempat menyimpan bahan pokok) beserta sumur menjadi bonus, itu kata si pemilik rumah sebelumnya. 

Selain dengan pemilik rumah itu, Ibu juga bertanya dengan aparat desa dan warga yang sudah sepuh di desaku. Dan versi mereka sama, jika rumah itu dibeli nenek saya lengkap beserta dapur, sumur dan sebuah kamar.

Singkat cerita, Ibu saya tetap kalah, kami kehilangan dapur dan sumur kami. Bahkan gang disamping rumah juga “dipek” (dimiliki) orang itu, dan meminta semua akses ke gang ditutup. Sehingga semua jendela dan pintu ke samping ditutup tembok. Dan rumah saya gelap tanpa jendela.

Saat itu, aku dan ketiga adikku yang masih kecil sering merasa ketakutan dengan kehadiran orang tadi yang selalu marah-marah dan memojokkan Ibu, apalagi saat siang Bapak tidak dirumah.  Tetangga-tetangga bersimpati dengan keluargaku, apalagi ternyata banyak orang yang mengalami kejadian serupa. Tanahnya “direbut” dengan cara yang nakal oleh orang itu. Dan tetanggaku mendoakan yang hal yang buruk  pada orang itu, dan mempunyai panggilan khusus bagi orang itu yaitu Jendral Dekok.  Dekok dalam bahasa jawa artinya cekung atau bengkok. Dan sepertinya panggilan itu bermakna negatif.

Jujur, aku benci dengan orang itu dan ikut-ikutan sering memanggil  orang itu dengan sebutan Jendral Dekok. Tapi Ibu memarahiku dan aku tidak boleh menghina orang, apalagi yang lebih tua. Sungguh, Ibuku terlalu sabar menghadapi orang seperti itu.

Masalah dapur dan sumur yang dicaplok orang Ibu tidak terlalu ambil pusing, toh kami bisa membangun lagi disamping kanan rumah, tapi kehilangan seorang mbakyu yang sedari kecil bersama, itu merupakan pukulan yang berat. Tidak dianggap dan dikenal, bahkan ada salah satu anaknya yang mendamprat Ibu dan menyalahkan Ibuku. Padahal sebelumnya Mas itu sangat baik padaku dan Ibuku.

Beberapa tahun berlalu, dan Bude tetap membenci Ibu sekeluarga. Bapakku biasa saja dan membalas kebencian itu juga dengan kebencian, tapi tidak dengan Ibuku, setiap lebaran Ibu masih menyempatkan datang dan meminta maaf dengan Mbakyunya, walaupun ditanggapi dengan dingin dan sinis. Beruntung pakdeku masih bersikap ramah. Bude memang terkenal sangat galak, dan keluarganya terhitung “priyayi”. Tak banyak orang yang berani memasuki pekaragan dan rumahnya. Setiap ada orang punya hajat dan harus m engantar makanan ke rumah Bude, pasti saya yang disuruh untuk mengantar, yang lain tidak berani, takut disemprot.

Pada suatu hari Bude saya mantu, punya hajat menikahkan salah satu putrinya. Dan Ibu sama sekali tidak diundang dan diberi tahu. Padahal semua warga kampung jagong ke gedung dan dan sudah disewain bis untuk transportasi. Saat semua orang berduyun-duyun menaiki bis, Ibu hanya melihat dan terdiam. Saat itu, aku tidak tahu apa yang terjadi dan belum “mengerti”. Saat dewasa, baru saya sadar betapa sakit dan sedihnya hat Ibu saat itu. Tak dianggap dan ditiadakan oleh orang yang dia sayangi dan dia panuti, mbakyunya sendiri.

Beberapa tahun berlalu, saat SMA bude saya mengalami stroke. Penyakit darah tinggi, diabetes dan penyakit komplikasi laiinya menyebabkan beliau tak bisa berbicara dan berjalan. Hanya duduk di kursi roda, segala hal harus dibantu suaminya. Sungguh Ibu saya sedih mengetahui hal itu, sedang saya “nyokorke”, malah senang tahu hal itu dan menganggap itu karma. Lagi-lagi, Ibu tak menyukai  tindakan saya. Dan saya menganggap Ibu terlalu bodoh, dari kecil diapusi diam saja.

Saat ngobrol berdua, Ibu terkadang tak sadar bercerita tentang masa kecilnya, banyak peninggalan nenek yang seharusnya menjadi milik Ibu diminta Bude, seperti Peniti emas, rantai jam jaman dulu yang juga emas, bahkan cincin-cincin peninggalan nenek dari berlian juga diminta. Saat itu Ibu ga ngerti itu barang apa sehingga manut saja saat diminta, setelah dewasa baru tahu kalau itu barang berharga.  Tuhkan, mau aja Ibu diapusi lagi. Jujur aku menjadi tambah benci dengan bude.

Sebenarnya, Bude bukan kakak kandung Ibu. Mereka berdua sama-sama anak angkat, Ibu saya anak adek Nenek dan Bude anak seseorang yang  sama –sama juga dari Gunung sana. Jadi kalo dirunut, Ibu masih ponakan Nenek sedang Bude sama sekali tak ada pertalian darah. Dan “orang beruntung” yang diambil anak sama juragan Kain Batik, Nenek saya.

Jadi, sebenarnya kehilangan Bude seharusnya bukan beban, Ibu masih punya mbak dan adik kandung di gunung sana. Sebelum sakit, Ibu sering mengingatkan Bude untuk mengunjungi makamIbu kandungnya dan meminta maaf karena sebelumnya tak “mau” mengenal beliau. Dan bude tidak mau.  Dan sungguh Ibu sedih dengan kejadian itu. Kebencianku bertambah, tapi lagi-lagi Ibu slalu bercerita kalau Bude itu baik.

Aku tak habis pikir, kenapa Ibu masih saja menyempatkan untuk menjenguk Bude, orang yang jahat terhadap dia, dan apa kata Ibu. Kita harus baik terhadap orang lain apalagi saudara. Bah.....jujur aku bukan cinderella yang berhati putih, rasa benci tertanam dihatiku. Kasihan, kata Ibu, bude sudah tak berdaya dan kita tidak pantas membencinya. Rasanya masih jelas dalam ingatanku, Bude membela si penyerobot tanah dan ikut memarahi Ibu, adiknya yang seharusnya dibela.

Dan Pakdeku tiba-tiba ikut sakit, terjatuh dari motor dan tangan kananya tidak bisa digunakan secara maksimal. Padahal sebulan dua kali Bude harus kontrol ke RS Sarjidto, dan tidak ada satupun anaknya dirumah, padahal tangan pakde tidak bisa digunakan untuk mengangkat Bude dari kursi roda ke mobil. Serta mendorong kursi roda saat wira-wiri di RS. Dan siapa yang membantu, jelaslah si Ibu cantik nan baik hati Ibu ku. Padahal adik-adik pakde juga banyak dan rumahnya berdekatan. Tapi untuk membantu? Aku rasa  mereka mempunyai alasan untuk menolaknya.

Lagi-lagi Ibu bertingkah bodoh, ngapain lagi membant orang yang membencinya. Ngapainnnnnnn? Mending jualan cari uang buat nambah pendapatan. Tapi, Ibu dengan senang hati menolong, membantu Mbakyu tersayangnya, tak peduli dia masih dibenci, tak peduli saat sampai di rumah mengeluh tangannya sakit. Dan pasti karena membopong Budelah.

Sampai Bude meninggal, Ibu membantu merawatnya, saat menjelang ajalpun Ibu yang berada disamping Bude. Entah, adakah kata maaf dari Bude terhadap Ibu karena beliau belum bisa berbicara lancar, semenjak stroke. Tapi, jauuh sebelum Bude sakitpun aku tahu Ibu telah memaafkannya.

Kebenciang dalam hatiku, adik-adikku, Bapakku perlahan mencair melihat apa yang selama ini dilakukan Ibu. Orang yang seharusnya merasa paling sakit dan pedih dan bisa saja Ibu membenci Bude, tapi kata Ibu “kita harus apikan sama orang lain”.

Sepeninggal Bude, hubungan keluargaku dan keluarga pakde kembali harmonis.Anak-anaknya kembali menganggap Ibukulah orang terdekat mereka, karna sedari kecil Ibu yang membantu Bude merawat mereka.
Begitupun dengan si penyerobot tanah, saat Bapakku lebih milih masuk rumah saat orang itu lewat depan rumah, Ibu dengan ramah menyapanya. Saat aku adikku dan tetangga menyumpah serapahi dia, Ibu mendoakan kebaikan buat dia.

Entah, hati Ibu terbuat dari apa banyak hal yang menurut saya “bodoh” dia lakukan. Berbuat baik dengan orang jahat, kembali ditipu orang tapi memaafkan dengan gampang dan itu sering dia lakukan.  Bahkan terkadang Bapak bilang Ibu itu bodo, gelem wae diapusi. Tapi menurut Ibu, dia berniat berbuat baik, jika dibalas dengan kejahatan biar itu urusan Tuhan......

Wuihhh, enak banget ya, ‘nek aku wis tak antemi Buk....

Ibuku, ibu rumah tangga biasa, wanita cantik berkulit kuning bermata sipit yang kata orang aku mirip beliau..ihiirrrr, berarti aku juga ayu donk,hehehe.... Pekerja keras, tak malu berjualan apa saja walaupun dulu hidup berkecukupan, demi keluarga ikut membanting tulang demi roda perekonomian keluarga. Perjuangannya tak bisa diragukan, semua demi anak. Pergaulannya yang luwes dengan semua orang dari semua kalangan, tak ragu berbincang dan bergaul dengan pejabat atau juragan-juragan saat orang lain keder menghadapi mereka. Atau tak malu bercengkrama dengan kaum papa. Bahkan saat ada janda yang tak mampu meninggal, tak ada satupun yang mendekat untuk segera memandikan, Ibukulah orang pertama yang berinisiatif untuk segera dimandikan, padahal keyakinan Ibu saya berbeda dengan mereka, banyak tetangga seiman yang seharusnya lebih tahu dengan tata caranya. Entah, mungkin mereka sungkan atau tak sudi memandikan mbah-mbah tua yang fakir.

Sungguh, saat ditanya siapa orang yang berhati samudera, dialah Ibuku, wanita tak kenal lelah yang saat ini berjualan dawet dan menjaga toko kecilnya. Sedikit membantu Bapak menbiayai kuliah adikku terkecil. Sedang aku yang sok-sokkan berlife style mewah, walapun saat tanggal tua masih dilempari rupiah dari beliau.

Tak pernah ada benci dihatinya, hanya maaf yang selalu dia berikan.

Bahkan saat bisnis yang aku rintis tiba-tiba ambruk. Semua aset hilang bahkan masih menyisakan hutang. Dan semua karena kesalahanku. Besar pasak dari pada tiang. Walopun usahaku lancar dan sukses tapi tak sebanding dengan pengeluaranku yang lebih besar. Pergaulan yang salah memang menyisakan kepahitan, lifestyle  yang aku kejar tak sebanding dengan pendapatan. Kata mas sepupu, mereka balungan(tulang)kuat , berasal dari keluarga yang dari sononya sudah kaya raya, bisnis bangkrutpun tetap ada suntikan dana. Lha aku, bisnis dari hutang sudah jadi aset sendiri masih menyisakan hutang. Pahit bener hidup gwe.

Semua orang memojokkan aku, menyalahkan aku, Bapak membenciku, teman perlahan mulai meninggalkanku dan aku harus bersembunyi dari distrubutor pemasok barang. Sembunyi dari teman-teman dan berusaha berlari dari siapapun.

Tapi, lagi-lagi wanita baik hati itu muncul, dia tidak memarahiku, dia menganggap itu salah satu kesalahan dan bisa diambil hikmahnya. Pelajaran hidup, jika hidup itu tak selalu datas.  Terkadang kita “kejeglong” terjerembab jatuh dan susah untuk bangkit. Tapi kita harus berusaha untuk kembali berdiri, menghadapi masalah itu dan menyelesaikannya.

Wanita berwajah oriental yang sering dipanggil “nyonyah” oleh tetangga-tetanggaku itu selalu menghibur, membantu, mengurai masalaha satu persatu dan membantuku. Entah, uang dari mana yang beliau dapat untuk menyelesaikan hutangku. Aku tahu beliau tak punya uang, tapi demi putrinya yang bandel apapun dia lakukan.

Saat Bapak tak mau tahu urusanku,selesaikan sendiri, katanya. Wanita itu tetap mendorongku untuk tetap tegar menghadapi masa depan.
Ehm, wanita cantik itu, yang hobi  jalan-jalan, sahabat disaat suka dukaku sudah memberi maaf sebelum aku sempat meminta maaf.  Entah harus kubalas dengan apa kebaikkannya. Pun saat kawan-kawannya “menawarkan” anak atau keponakan mereka untuk dijodohkan dengan aku, dengan iming-iming anak mereka dokterlah, pengusahalah, sawahnya banyaklah, tapi wanita itu tak bergeming, menghormati keputusanku.

Ibuk yang slalu siap sedia saat tiba-tiba anaku sakit dan aku sms meminta ditemani beliau, dia slalu u datang. Slalu membantu saat aku kesulitan uang, walopun aku tahu dia juga tak punya, dengan ikhlas dia menjual perhiasannya yang mungkin baru saja dia beli.

Tapi, apa yang aku lakukan, menengok beliau kadang terkalahkan oleh acara lain, ke mall lah, jalan-jalanlah, padahal beliau merindukan , Nathan anak sulungku.
Saat beliau SMS curhat, beliau merasa kesepian, Ibu memang Cuma berdua dengan Bapak, adik bungsu kos di Jogja. Saya ogah-ogahan mebalas SMSnya, dengan alasan di kantor sibuk kerja ato berpikiran, ya kalau sudah tua memang begitu, anak-anak hidup terpisah dan merasa kesepian. Itu sudah wajar.

Ya Tuhan, betapa jahatnya ku, betapa  egoisnya aku. Saat aku membutuhkan aku ingat, tapi sangat tak butuh aku “melupakan”. Betapa tak tahu terima kasihnya aku.

Ibuk, maafkan putrimu ini, walaupun kamu telah memaafkan aku sebelum aku melakukan kesalahanpun. Semoga Engkau selalu sehat, selalu cantik dan melihat putrimu ini sukses. 
Suatu saat aku pasti membawamu ke  Bali dan Lourdes.
Di Bali kita bisa melihat samudera yang sangat luas dan pantainya yang cantik.
Ibu, hatimu seluas samudera dan wajahmu secantik pantai berpasir putih.

Pesanmu takkan pernah kulupakan
 “ Ngapiki uwong ra eneng eleke “(berbuat baik terhadap orang lain(apalagi yg membenci kita) tak ada jeleknya”
                                               

5 comments:

  1. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Kontes Unggulan : Hati Ibu Seluas Samudera
    Segera didaftar
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  2. Linknya mana nich? Cek ualng dan perbaiki ya Nduk

    ReplyDelete
  3. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Kontes Unggulan : Hati Ibu Seluas Samudera
    Segera didaftar
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  4. Sahabat tercinta,
    Saya mengucapkan terima kasih kepada para sahabat yang telah mengikuti Kontes Unggulan Hati Ibu Seluas Samudera di BlogCamp. Setelah membaca artikel peserta saya bermaksud menerbitkan seluruh artikel peserta menjadi buku.

    Untuk melengkapi naskah buku tersebut saya mohon bantuan sahabat untuk

    1. Mengirimkan profil Anda dalam bentuk narasi satu paragraf saja. Profil dapat dikirim melalui inbox di Facebook saya atau via email.
    2. Memberikan ijin kepada saya untuk mengumpulkan artikel peserta dan menerbitkannya menjadi buku. Cek email dari saya tentang permintaan ijin ini dan silahkan dibalas.
    3. Bergabung dengan Grup Penulis Naskah Buku Hati Ibu Seluas Samudera di Facebook. (https://www.facebook.com/groups/669571076492059/)

    Terima kasih.

    ReplyDelete
  5. :") aku bener2 ngerasa sayang banget sama ibu pas jadi ibu...rasanya.......banyak dosa... :")
    semoga ibu kita selalu diberi kesehatan :")

    ReplyDelete

Hai kawan, terimakasih sudah mampir ya. Pembaca yang cantik dan ganteng boleh lho berkomentar, saya senang sekali jika anda berkenan meninggalkan jejak. Salam Prima :)

Popular Posts