Skip to main content

Ditraktir Nonton Raminten Cabaret Show, Ternyata Begini Rasanya!

Rintik hujan belum juga berhenti. Perlahan titik-titik hujan itu mulai berkurang volumenya. Warna langit  kelabu mulai menghilang. Jalanan Jogja mulai padat, maklum saja Jumat sore waktunya para perantau pulang ke kampung halaman dan para pekerja meninggalkan tempat mereka mendulang rupiah dan kembali ke rumah.
Rintik hujan tak mengurangi semangat saya tetap melajukan motor menuju kawasan yang paling ingin didatangi oleh wisatawan tetapi sangat dihindari oleh orang Jogja. Malioboro. Jika tidak terpaksa rasanya orang Jogja males ke sini 'kan?
Macet. Berjubel manusia. Tapi, bagi orang luar Jogja, Malioboro serasa magnet dengan kekuatan super kuat.
Sesampai di Malioboro hujan telah berhenti. Rupanya Tuhan tahu keinginan umatnya. Para wisatawan ingin menikmati Malioboro tentunya tanpa berbasah-basahan. Begitupun saya yang harus berjalan kaki dari Malioboro Mall menuju Mirota Batik. Dari ujung ke ujung ye kan.
Jumat yg lalu seorang teman, Mas Bagus dari Cepu sedang berulang tahun dan…

'Lo minoritas, manut wae lah!

Sejak SD hingga SMA saya selalu bersekolah di sekolah negeri. Dan sudah menjadi kebiasaan, sejak dulu mungkin, acara berdoa sebelum pelajaran dimulai atau saat upacara menggunakan doa umat Islam. Ya mungkin karena penduduk Indonesia mayoritas muslim jadi kebijakan ini sudah mengakar daging. Tidak hanya di sekolah, di kantor atau dalam acara kemasyarakatan banyak kegiatan yang juga doanya menggunakan cara umat Muslim.

Sebagai umat nonmuslim, sebenarnya saya tidak terganggu sekali dengan kebiasaan ini, ya karena sudah terbiasa. Saat doa dimulai yang seharusnya dalam suasana hening konsentrasi dan mengkoneksikan diri dengan yang Tuhan, saya malah mendengar bacaan-bacaan dari umat lain. Atau jika keadaanya dibalik, saya berdoa tidak dalah hati saja, tapi saya ucapkan atau mungkin dengan nyanyian, kira-kira apa yang dirasakan siswa lain atau orang lain yang tidak seiman dengan saya? Terganggu tidak? Atau cara-cara seperti ini dibenarkan karena kami mayoritas, 'lo minoritas! manut wae lah!

Menurut saya, sebaiknya kegiatan berdoa di sekolah, perkantoran pemerintah, atau acara masyarakat cukup dengan berdoa mulai, biarkan semua khuysuk berkomunikasi dengan Tuhan dan jika sudah cukup ya selesai. Saya rasa Tuhan pasti mendengar doa kita, tanpa harus bersuara.

Situasinya berbeda apabila kita bersekolah non negeri, semisal bersekolah di Madrasah, atau yayasan agama tertentu. Pastinya sudah diatur dengan agama yang sesuai dengan yayasan atau madrasah. Jika bersekolah di situ, mau tidak mau ya mengikuti kebiasaan di sekolah itu.

Kebebasan beragama di negara ini sudah diatur dalam UUD 1945 pasal 29, yang isinya :
(1) Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.
(2) Negara menjamin kemerdekaan tiaptiap penduduk untuk memeluk agamanya masing - masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.


Berdasar isi pasal 29 diatas, kita tahu bahwa negara ini berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa, tidak berdasarkan atas agama tertentu, tapi mengapa terkadang dipaksakan selalu menggunakan tata cara agama tertentu? Apa karena mayoritas lantas yang minoritas dipinggirkan, apalah gunanya dasar negara Pancasila, Indonesia bukan seperti Roma atau Arab yang merupakan negara agama.

Lha, kan negara menjamin kemerdekaan untuk beribadah? Kemerdekaan atau kebebasan hendaknya juga dibarengi dengan rasa toleransi. Menghormati orang lain, yang berbeda ras, suku, agama, keyakinan. Bolehlah mengakui agama saya, ras saya, suku saya yang paling baik. paling benar tapi jangan ngotot juga donk, si sekitar kita masih banyak orang dengan agama lain, suku lain, warna kulit yang berbeda dengan kita. Berat ya menghormati itu? Yah, mungkin balik ke 'lo kan minoritas, manut wae lah!

Jujur, saya prihatin, rasa tepo seliro, rasa saling menghargai semakin lama menghilang, padahal dulu nenek moyang kita terkenal dengan wataknya yang sopan, ramah menghargai. Tapi sekarang berubah menjadi egois, gw yang benar 'lo yang salah. Padahal dalam beribadah sepertinya semakin meningkat dan negara ini hampir menjadi negara agamis, tapi sayang ibadah tidak dibarengi dengan perilaku yang semakin baik. Tempat ibadah semakin banyaaak tapi kejahatan semakin merajalela.

Saya jadi ingat dulu sebelum dipimpin Gusdur, warga China dipinggirkan, tidak diakui sebagai warga negara dan adat budayanya diharamkan di negeri ini. Padahal banyak buruh, pegawai toko menggantungkan nasib pada mereka, warga dengan mata sipit dan kulit kuning. Mereka sama-sama tinggal di negeri ini sejaakk lama, walau nenek moyang mereka berasal dari daratan China, tapi dari banyak situs atau candi , yang menunjukkan keberadaan orang China sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu sebelum Indonesia ada. Lihat saja di candi-candi banyak pintu atau gapura dengan patung naga, darimana ide gambar naga ada kalo bukan dari orang China, oohh dari Nagabonar kali,hohohoho....Atau perhatikan, banyak teman atau tetangga kita bermata sipit tapi berkulit gelap, dan mereka tersebar di seluruh Indonesia, ini menunjukkan bahwa ada asimilasi antara penduduk pribumi dan orang CIna. Dan ini sudah ada jauh sebelum Indonesia ada, so ga usahlah beda-bedain orang, sama-sama manusia gitu lho.

Comments

Popular posts from this blog

Villa Budi Luhur II , Villa Pilihan Keluarga di Sekipan Tawangmangu

Dah hari Jumat aja nih, weeked brooo, mari piknik biar awet muda ya. Kali ini saya mau membagi cerita piknik keluarga saya beberapa waktu yang lalu. Bukit Sekipan Tawangmangu bisa jadi pilihan kamu untuk berlibur bareng keluarga. Ada villa dengan view cantik, hutan pinus dibelakang rumah dan kebun strawberry di depannya. Nikmat apa yang saya dustakan coba.
Sedianya saya ingin berkeliling Semarang, bersama orangtua, keluarga saya dan adik-adik saya. Tapi hunting hotel koq harganya ga turun-turun dan Bapak saya enggan untuk berjalan jauh, akhirnya saya pengen ngadem aja di Tawangmangu.
Dah pada tahu kan, di Tawangmangu banyak villa cantik dan dekat obyek wisata Grojogan Sewu. Pasti sangat ramai, padahal saya pengen tempat yang sepi, tenang dan dingin. Ratusan hotel, villa dan penginapan berjajar di sekitar Tawangmangu, satu persatu villa saya hubungi dan Villa Budiluhur jadi pilihan saya. Pemilik menawarkan villanya yang baru, karena villa lama sudah dipesan orang lain. Jadilah saya be…

Pengen Baby Selalu Wangi? Ini Rahasianya Moms

Time flies so fast gaes, tak terasa anak mbarep saya sudah berusia lima tahun. Usia dimana "masa kritis" seorang anak telah terlampaui dan saya merasa sedikit lega. Kenapa dikatakan semasa balita merupakan masa kritis? Karena di usia bawah lima tahun seorang anak masih rentan terkena penyakit, masih membutuhkan penanganan ekstra dan perhatian khusus dari orang tua terutama Ibu.



Hari ini saya sangat bahagia, duo anak lanang sehat dan tumbuh dengan baik, walaupun yang mbarep agak langsingan sedang adiknya lebih gembul. Ya, namanya anak-anak berbeda dan unik. Keduanya amat saya sayangi dan cintai.


By the way busway ((siapa yg naik busway 'nyah)). Walaupun sekarang sudah tidak merasakan rempongnya punya bayi, tapi terkadang banyak hal yang berhubungan dengan bayi membuat saya kangen pengen megang bayi lagi (('sok bikin)). Jujur sih, saya pengen punya bayi lagi, tapi maunya cewek biar ada yang nurunin cantiknya saya ((hueex)), tapi sabar masa produktif saya masih beberapa…

11 Lagu Sedih Tentang Cinta Beda Agama

Hayoo, siapa yang belum pernah ngerasain patah hati. Sepertinya nggak ada yaaa, kecuali kamu belum pernah punya kekasih hati. Hahaha.  Saat lagi patah hati, paling enak 'tuh ya dengerin lagu sedih yang sesuai banget ama suasana hati yang mendayu-dayu. Puasin 'dah menangis berdarah-darah, apalagi terprovokasi lagu sedih yang membuat air mata tak henti mengalir. Karena, kalau lagi patah hati tapi berniat menghibur diri dengan mendengarkan lagu heppi tuh tetep kagak mempan. 
Mewek? Nggak papa koq. Asal kagak ada orang lain lihat atau orang yang kamu tangisi tahu. Bisa GeeR dia nanti. 
Ngomong-ngomong tentang patah hati atau putus cinta, banyak penyebabnya. Sebut saja, doi selingkuh, doi udah nggak cinta, doi dah bosen, doi dijodohin ortunya. Tapi, kalau menurut saya nih, putus cinta karena "perbedaan" itu yang bikin nyesek. Padahal keduanya saling mencintai. Tapi, tetep harus pisah. Nah lo!
Menjalani sebuah hubungan dengan perbedaan agama/keyakinan memang sangat berat …