Skip to main content

Yuk, Walking Tour di Kotagede

Matahari beringsut ke ufuk barat. Belum tenggelam sepenuhnya karena sinarnya masih terasa menyengat di kulit. Kami berempat sudah sampai di sebuah homestay di kawasan Kotagede. Disana sudah ada beberapa teman peserta Kotagede Walking Tour yang akan turut serta menjelajahi area Kotagede. Pastinya dengan berjalan kaki. Judulnya saja sudah walking tour. LoL
Tepat pukul 3 sore walking tour dimulai. Perjalanan diawali dari Lapangan Karang Kotagede, kemudian menyusuri gang-gang  kecil yang hanya bisa dilewati oleh pejalan kaki. Peserta walking tour  sekitar 10 orang termasuk saya, mas bojo dan duo anak lanang. Suami sempat bertanya ulang, apakah serius mau ikut jalan kaki dan gimana kalau anak-anak kecapekan? Spontan saya jawab dengan yakin. "Ya jadilah pak' e" 
Begitulah suami saya yang sering males-malesan kalau diajak jalan kaki agak jauh. Jadinya perlulah sesekali dikerjain diajak jalan agak jauh. Itung-itung olahraga. Hehehehe.
Temen saya, Adimas yang menjadi guide walki…

Museum Purbakala Pleret : Hidup Harmoni di Antara Sisa-Sisa Peninggalan Kraton Pleret


Museum Purbakala Pleret, Bantul (Dok.Pribadi)

Museum Purbakala Pleret - Setiap hari saya melewati tempat ini, bangunannya yang unik membuat saya penasaran untuk memasuki gedung itu. Ada apa ya didalamnya?

Pada hari Jumat,sepulang kantor saya sempatkan mampir di Museum Sejarah Purbakala Pleret. Sesampai di depan museum muncul rasa enggan, karena tempat itu begitu sepi, hanya ada 3 anak kecil yang entah sengaja berkunjung atau sekedar bermain, karena museum itu memang berada di lingkungan rumah warga.

Setelah saya memarkir kendaraan, saya melihat-lihat museum itu dan keluarlah seorang pegawai kantor itu. Dia memperkenalkan dirinya bernama Hendra, PNS dari Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, dia dan seorang temannya bertugas untuk menjaga museum tersebut. Saya mengutarakan niat saya untuk melihat-lihat museum itu dan dengan senang hati petugas itu menemani saya.

Kemudian dia membuka pintu museum yang memang slalu terkunci saat tidak ada pengunjung. Ada dua bangunan utama di museum itu  dan sebuah sumur tua.  Sebelum menelisik isi museum yuk review sedikit tentang sejarah Pleret.

Pleret merupakan ibukota kerajaan Mataram Islam semasa pemerintahan Amangkurat I,sebelumnya ibukota berada di Kotagede, kemudian pindah di Kerta, masih wilayah Bantul juga, kemudian setelah diangkat menjadi Raja Sunan Amangkurat I memerintahkan masyarakatnya untuk mencetak batu bata untuk membuat istana. Kraton Mataram di Pleret pada jaman Sunan Amangkurat I sekitar tahun 1646-1647.

Museum Purbakala Pleret berada di  Dusun Kedaton, Kelurahan Pleret, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Museum ini digunakan untuk menyimpan benda bersejarah yang tersebar di masyarakat. Museum ini menjadi pusat pengumpulan temuan purbakala di Bantul. Karena benda-benda bernilai sejarah itu jika tidak diselaamatkan dan disimpan dengan baik,benda-benda itu rentan rusak dan hilang karena aktivitas masyarakat.

Yuk mari dilihat apa aja didalam museum itu :

Aneka barang dari perunggu peninggalan zaman pra sejarah

Kemuncak diambil dari Situs Mantup (DOk:pribadi)

Kapak ini merupakan barang tertua yang disimpan disini berasal dari zaman prasejarah  diambil Dari Gunturan Triharjo Pandak(Dok:Pribadi)


Arca Durga Mahesa diambil dari Guyangan Wonolelo PLeret (DOk. Pribadi)

Fragmonen meriam yang ditemukan di Jambon Bawuran Pleret (Dok. Pribadi)

Umpak (Dok. Pribadi)
Talam

Aneka ragam alu dari zaman prasejarah (Dok. Pribadi)


Kalo jaman sekarang benda ini sejenis bis untuk membuat sumur

Arca Dewi Vajrantya, arca sejenis pernah ditemukan di Nganjuk Jawatimur, arca ini termasuk langka, yang menggambarkan dewi penari dan pemain musik. Arca ini ditemukan di Panjangrejo,Pundong (Dok. Pribadi)


Museum ini tak hanya menyimpan arca peninggalan kerajaan Islam, tapi juga barang-barang dari zaman prasejarah yang tersebar di kabupaten Bantul. Gambar serta foto-foto lokasi bersejarah juga didokumentasikan disini. Seperti Situs Mantup, Gua Jepang, makam Imogiri, Candi Gampingan, Situs Pentirtaan Payak. Banyak yang belum mengetahui tentang situs, saya sendiri juga belum pernah ke tempat itu, baru Makam Raja Imogiri.

i




Ada sekitar 50 benda cagar budaya yang disimpan didalam museum. Tapi masih banyak arca dan benda purbakala yang masih diinventaris di gedung satunya dan belum dipajang. Diluar gedung juga banyak terdapat arca-arca yang ukurannya lebih besar. Menurut petugas disini, areal di belakang museum akan dibangun gedung museum lagi, karena gedung yang lama tidak mampu memuat keseluruhan benda-benda yang ditemukan oleh pihak Purbakala.
Sumur gumuling, satu-satunya peninggalan kraton Pleret yang utuh


Arca berbentuk kerbau ini adalah sebuah pancuran air,  hebat ya dijaman yang masih kuno mereka bisa menciptakan benda yang tak hanya fungsional tapi berseni tinggi (Dok.Pribadi)



Mas penjaga yang menemani saya dan menjadi guide

Benda cagar budaya yang belum tertata karena keterbatasan ruang.


Lokasinya berada di pinggir jalan memudahkan kita untuk menemukmpatan tempat ini, yang hanya 500 m dari kota kecamatan.

Sayang papan namanya tidak terlihat jelas karena warna tulisan serupa warna backgorundnya
Tapi sayang, banyak warga yang belum tahu keberadaan museum ini. Sosialisasi yang kurang dan minat warga yang rendah akan pentingya keberadaan museum. Padahal dengan adanya museum kita bisa tahu sejarah nenek moyang, budaya mereka dan kehidupan mereka yang bisa kita ambil nilai nilainya untuk kehidupan sekarang. Museum ini dibuka setiap hari Senin sampai Jumat dan tidak dipungut biaya. Pengunjung museum ini kebanyakan siswa SD yang mana setiap hari senin ada jadwal kunjungan museum.
Setiap pengunjung diwajibkan mengisi daftar hadir, terlihat setiap hari hanya ada satu dua pengunjung yang datang.

Masih banyak sejarah yang belum terungkap dari keraton Pleret, salah satunya tentang Ratu Malang, yang makamnya berada di Gunung Kelir Pleret. Siapa Ratu Malang itu? Simak di Antaka Pura: Istana Kematian Ratu Mas Malang

Comments

  1. Kalau kerajaan Pleret dimana sih letaknya. Konon kabarnya kerajaan pleret itu pindahan dari Kotagedhe.

    ReplyDelete
  2. Padahal aku sering kesana lo karena ada pengrajin. Itulah makanya kalau nggak ada blogger yang seperti nggak terangkat. Hidup blogger! :))

    ReplyDelete
  3. wah, sayang banget ya mbak kalau hanya ditumpuk-tumpuk begitu benda cagar budayanya.
    tapi mau gimana lagi ya mbak, lha wong keterbatasan tata ruang ya mbak.

    ReplyDelete
  4. Waah bari tahu dan baru dengar nama Museum Purbakala Pleret ini mbak.

    ReplyDelete

Post a Comment

Hai kawan, terimakasih sudah mampir ya. Pembaca yang cantik dan ganteng boleh lho berkomentar, saya senang sekali jika anda berkenan meninggalkan jejak. Salam Prima :)

Popular posts from this blog

Pengen Baby Selalu Wangi? Ini Rahasianya Moms

Time flies so fast gaes, tak terasa anak mbarep saya sudah berusia lima tahun. Usia dimana "masa kritis" seorang anak telah terlampaui dan saya merasa sedikit lega. Kenapa dikatakan semasa balita merupakan masa kritis? Karena di usia bawah lima tahun seorang anak masih rentan terkena penyakit, masih membutuhkan penanganan ekstra dan perhatian khusus dari orang tua terutama Ibu.



Hari ini saya sangat bahagia, duo anak lanang sehat dan tumbuh dengan baik, walaupun yang mbarep agak langsingan sedang adiknya lebih gembul. Ya, namanya anak-anak berbeda dan unik. Keduanya amat saya sayangi dan cintai.


By the way busway ((siapa yg naik busway 'nyah)). Walaupun sekarang sudah tidak merasakan rempongnya punya bayi, tapi terkadang banyak hal yang berhubungan dengan bayi membuat saya kangen pengen megang bayi lagi (('sok bikin)). Jujur sih, saya pengen punya bayi lagi, tapi maunya cewek biar ada yang nurunin cantiknya saya ((hueex)), tapi sabar masa produktif saya masih beberapa…

Villa Budi Luhur II , Villa Pilihan Keluarga di Sekipan Tawangmangu

Dah hari Jumat aja nih, weeked brooo, mari piknik biar awet muda ya. Kali ini saya mau membagi cerita piknik keluarga saya beberapa waktu yang lalu. Bukit Sekipan Tawangmangu bisa jadi pilihan kamu untuk berlibur bareng keluarga. Ada villa dengan view cantik, hutan pinus dibelakang rumah dan kebun strawberry di depannya. Nikmat apa yang saya dustakan coba.
Sedianya saya ingin berkeliling Semarang, bersama orangtua, keluarga saya dan adik-adik saya. Tapi hunting hotel koq harganya ga turun-turun dan Bapak saya enggan untuk berjalan jauh, akhirnya saya pengen ngadem aja di Tawangmangu.
Dah pada tahu kan, di Tawangmangu banyak villa cantik dan dekat obyek wisata Grojogan Sewu. Pasti sangat ramai, padahal saya pengen tempat yang sepi, tenang dan dingin. Ratusan hotel, villa dan penginapan berjajar di sekitar Tawangmangu, satu persatu villa saya hubungi dan Villa Budiluhur jadi pilihan saya. Pemilik menawarkan villanya yang baru, karena villa lama sudah dipesan orang lain. Jadilah saya be…

Kolam Renang Water Park Tirta Taman Sari Bantul

Kolam Renang Taman Tirtasari Bantul - Hayoo siapa suka berenang? Pasti banyak orang yang hobi berenang atau hanya sekedari ciblon main air, termasuk saya. Di kota besar banyak terdapat kolam renang di hotel atau water boom dengan fasilitas super lengkap. Bahkan, sebulan yang lalu ada water boom yang di klaim sebagai water boom terbesar se Jawa Tengah. Jogja Bay nama tempat itu.


Kali ini saya tidak akan membahas tentang Jogja Bay, tapi kolam renang di Bantul. Sebuah water park yang tidak terlalu besar, tapi lumayanlah untuk ukuran kota kecil seperti Bantul. Walaupun sederhana tapi sederhana, waterpark Tirta Tamansari ini selalu ramai pengunjung. Di hari libur banyak pengunjung bersama keluarga. Sedangkan saat hari biasa atau bukan hari libur, para siswa dari TK hingga SMA belajar berenang disini.

Bayangin aja, tiket masuk Waterpark Tirta Tamansari Bantul ini cuma 6000 IDR di hari biasa dan 8000 IDR di hari libur. Mulai anak berusia 2 tahun harus membeli tiket masuk dan  walaupupun pen…