Monday, 22 September 2014

Batu Cinta di Pantai Parangkusumo

Pantai Parangkusumo dan parangtritis dipesisir selatan.

Kamis kemarin saya dan teman kantor bertugas untuk mengecek kemajuan pembangunan proyek di Pantai Parangkusumo. Setelah muter-muter proyek yang dicari belum ketemu juga, cuma ada beberapa material dan alat berat. Belum terlihat para pekerja ataupun mandor yang bisa saya wawancarai.  Karena waktu sudah tengah hari dan waktunya sholat, saya dan teman-teman memutuskan untuk beristirahat sejenak ditempat itu.

Pintu gerbang menuju pantai selatan

Pantai Parangkusumo berada di sebelah barat Pantai Parangtritis, pantai ini berbeda dengan pantai lain di sepanjang pantai selatan. Dalam tradisi Jawa, pantai Parangkusumo ini dianggap sebagai gerbang utama atau jalan tol menuju Keraton Gaib Laut Selatan, sebuah kerajaan Nyi Roro Kidul yang menguasai Laut Selatan (Samudera Hindia).

Berbagai acara labuhan, baik dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat maupun dari masyarakat setempat digelar di pantai Parangkusumo. Ritual Labuhan Keraton di Pantai Parangkusumo merupakan simbol ikatan dan kekuasaan antara keraton dan penguasa laut selatan.

Berdasarkan cerita abdi dalem yang bertugas menjaga kawasan Cepuri,  labuhan kepada Kanjeng Ratu Kidul merupakan sebuah ritual yang penting bagi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Konon, ceritanya begini berdasarkan nasehat dari Ki Juru Mertani, Panembahan Senopati bermeditasi di Pantai Parangkusumo. Meditasi yang luar biasa tersebut mengakibatkankekacauan di Kerajaan Segara Kidul (laut selatan). Kanjeng Ratu Kidul pun mendatangi penguasa Mataram tersebut dan mengatakan bahwa harapannya telah dikabulkan oleh Sang Maujud Agung.

Kemudian perjanjian antara Panembahan Senopati dan Kanjeng Ratu Kidul dibuat. Hubungan antara raja-raja Mataram dan Kanjeng Ratu Kidul telah memperkokoh legitimasi kebudayaan kepada Sri Sultan Hamengkubuono.

Cerita tersebut sampai sekarang masih dipercayai oleh masyarakat Yogyakarta. Sehingga masyarakat masih melakukan ritual di kawasan Cepuri sebagai tempat pertemuan antara Ratu Kidul dengan Panembahan Senopati dan juga di Kawasan Pantai Parangkusumo yang dipercaya merupakan keratonnya Ratu Kidul.


Ada beberapa bangunan di sekitar komplek Cepuri Parangkusumo ini, ada masjid, joglo,  dan dua bangunan kecil yang saling berhadapan. Di dalam bangunan ini terdapat alat-alat yang digunakan untuk acara Labuhan.
Masjid di komplek parangkusumo


Perlengkapan yang digunakan untuk acara Labuhan

Walaupun bukan hari libur, ada beberapa rombongan dari luar kota yang berkunjung saat itu. Suasana yang tidak terlalu ramai membuat tempat itu semakin terasa "sunyi". Saya merasakan ada kesakralan di tempat ini. Ada suasana mistis ditempat ini.
Jalan penghubung antara cepuri dan pintu gerbang, lurus menuju pantai selatan

Tempat ritual didalam cepuri, terdapat batu besar yang konon menjadi tempat duduk Panembahan Senopati dan batu kecil tempat duduk Nyi Roro Kidul. Ada yang menyebutnya Batu Cinta, tempat perjumpaan Pangeran Senopati dan Ratu Kidul. Terlihat kembang dan beberapa perangkat untuk melakukan ritual.

2 Batu cinta

Terlihat seorang pengunjung yang berbincang dengan abdi dalem. Biasanya untuk melakukan ritual ditempat ini akan dibimbing dengan penjaga /kuncen.


Abdi dalem bersama seorang pengunjung
Terlepas benar atau tidaknya cerita tersebut, sampai sekarang ritual Labuhan yang dimulai dari doa di dekat hingga dan berakhir dengan Labuhan di Kawasan Pantai Parangkusumo masih terus dilestarikan. Sampai kini, ritual tersebut sudah masuk menjadi agenda budaya dan wisata di Pantai Parangkusumo, Kretek, Bantul, Yogyakarta.

2 comments:

  1. Ooooh belum pernah berhenti disini. Biasanya lewat2 saja.

    ReplyDelete
  2. Hehehe, adat Jawanya masih kental ya mbak

    ReplyDelete

Hai kawan, terimakasih sudah mampir ya. Pembaca yang cantik dan ganteng boleh lho berkomentar, saya senang sekali jika anda berkenan meninggalkan jejak. Salam Prima :)

Popular Posts