Skip to main content

Ditraktir Nonton Raminten Cabaret Show, Ternyata Begini Rasanya!

Rintik hujan belum juga berhenti. Perlahan titik-titik hujan itu mulai berkurang volumenya. Warna langit  kelabu mulai menghilang. Jalanan Jogja mulai padat, maklum saja Jumat sore waktunya para perantau pulang ke kampung halaman dan para pekerja meninggalkan tempat mereka mendulang rupiah dan kembali ke rumah.
Rintik hujan tak mengurangi semangat saya tetap melajukan motor menuju kawasan yang paling ingin didatangi oleh wisatawan tetapi sangat dihindari oleh orang Jogja. Malioboro. Jika tidak terpaksa rasanya orang Jogja males ke sini 'kan?
Macet. Berjubel manusia. Tapi, bagi orang luar Jogja, Malioboro serasa magnet dengan kekuatan super kuat.
Sesampai di Malioboro hujan telah berhenti. Rupanya Tuhan tahu keinginan umatnya. Para wisatawan ingin menikmati Malioboro tentunya tanpa berbasah-basahan. Begitupun saya yang harus berjalan kaki dari Malioboro Mall menuju Mirota Batik. Dari ujung ke ujung ye kan.
Jumat yg lalu seorang teman, Mas Bagus dari Cepu sedang berulang tahun dan…

Ojo Gumunan, Ojo Kagetan lan Ojo Dumeh

Saya terlahir sebagai orang Jawa, lahir di Jawa dan keturunan Jawa tentunya. Walaupun kata orang saya berwajah oriental dan banyak orang saat bertemu saya memanggil "Cik" yang artinya Kakak perempuan dalam bahasa Tionghoa tapi bener lho, aku wong Jowo tulen asal soko Klaten. Apakah perlu diterjemahkan saudara?Ok, artinnya saya orang Jawa asli berasal dari kota Klaten.

Sebagai orang Jawa, kedua orang tua saya mengajarkan tentang unggah-ungguh (tata krama) dan boso (bahasa Jawa halus). Bagaimana cara berbicara dengan orang yang lebih tua dan bagaimana bersikap dengan orang lain terutama orang yang lebih tua atau dihormati. Dalam kehidupan orang Jawa terutama di desa sopan santun/tata krama masih dipegang erat. Misalnya saat berjalan didepan orang lain yang sedang duduk atau orang yang lebih tua kita harus menunduk dan bilang "nderek langkung" , tidak bisa kita berjalan lenggang kangkung apalagi tanpa menyapa. Bisa dikatain anak ga tahu adat nanti.

Begitupun dalam berbicara, harus menggunakan bahasa Jawa Halus/Boso Kromo Inggil. Walaupun tidak fasih dan lengkap kosakata yang saya miliki, saya berusaha selalu menggunakan Boso Kromo saat berbicara dengan yang lebih tua. Jangan sampai dech ngomong "kowe" sama yang lebih tua, bisa dicubit saya ama Ibuk saya. Kata "Kowe"  termasuk alam dbahasa Jawa Ngoko/kasar yang digunakan saat berbicara dengan teman sebaya dan bahasa alusnya ada dua, yaitu Sampeyan dan Jenengan dan pemakaianya harus pas ya, kalo enggak bisa diketawain,,hehehe....

Tapi sayang, saat ini Bahasa Jawa mulai terkikis dan hilang didaerahnya sendiri. Karena apa? Karena lebih terbiasa menggunakan bahasa Indonesia ataupun bahasa asing dan lupa mengajarkan bahasa daerah kepada generasi selanjutnya. Termasuk saya (tunduk kepala dalem-dalem), dalam kehidupan sehari-hari dalam keluarga saya menggunakan dua bahasa, Indonesia dan Jawa, tapi prosentasenya banyak menggunakan Bahasa Indonesia (tutup muka ahh). Entah, mungkin terpengaruh sama tetangga-tetangga. Tapi saya cukup bangga, anak sulung saya yang berusia tiga tahun kalau dipanggil jawabnya "Kulo" atau "Dalem Buk". Dan kalau saya tanya apakah dia sudah makan, jawabnya "Sampun Buk". Ya, sedikit sedikit kita memang harus mengenalkan bahasa Jawa sebagai bahasa Kita sebelum Boso Jowo hilang sama sekali. Kalau bukan kita yang orang Jawa, siapa lagi yang bakal melestarikan.

Ngomong-ngomong tentang Bahasa Daerah, banyak pepatah/ungkapan dalam Bahasa Jawa. Dan pepatahungkapan itu tidak hanya sekedar kumpulan kata tak bermakna tapi merupakan falsafah kehidupan yang begitu mendalam dan bermakna. Pepatah Jawa ini mempunyai pesan moral dan kebaikan yang jika kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari akan bermanfaat bagi diri sendiri dan masyarakat sekitar. Sebagai orang Jawa  seharusnya mengenal tentang nilai-nilai luhur dari pepatah/ungkapan yang diwariskan leluhur kita. Dan  pepatah/ungkapan itu adalah salah satu identitas sebagai orang Jawa yang terkenal dengan budaya luhurnya.




Ojo Gumunan 
Berasal dari kata  Ojo(jangan)dan  Gumunan(mudah heran/kagum), pepatah ini melarang kita untuk tidak mudah -heran/kagum terhadap sesuatu, khususnya materi/barang duniawi. Apalagi sekarang dijaman  yang serba canggih, maju dan perkembangan begitu cepat dan serba materialistis. Seperti saya yang terheran-heran saat tetangga saya mobilnya baru dan bagus. Tapi saya hanya sekedar melihat, terkagum-kagum dan tentunya berkomentar "Wah mobilnya baru, enak ya punya uang banyak" . Tanpa mengambil pelajaran bahwa dia bisa mendapatkan itu dengan bekerja keras. Hanya menjadi penonton dan komentator terhadap perubahan tanpa mau memperbaiki diri agar bisa sesukses dia.

Ini dia ekspresi saat terkagum-kagum  Dok Gambar


Ojo Kagetan
Ojo kagetan berarti jangan mudah kaget. Banyak perubahan yang terjadi kehidupan kita ataupun orang lain. Kita harus lebih mawas diri terhadap perubahan disekitar kita. Jangan sedikit-sedikit teriak "OMG" dan latah berubah tanpa berpikir panjang dan akhirnya menyesal. Pepatah ini mengajak kita untuk waspada dengan kejutan-kejutan yang bakal terjadi dan sabar menyikapinya. 

Seperti pelajaran yang saya dapatkan dari saudara saya sendiri, tanpa bermaksud membuka aib keluarga. Bisnis yang dijalankan saudara saya berkembang karena investasi dari orang lain. Usahanya berjalan mulus, dan tinggal dilingkaunngan baru yang elit. Mereka kaget dengan banyaknya uang yang mereka miliki dan kaget dengan kehidupan tetangga yang "wah". Mereka berubah , mengelola tanpa perhitungan, mengikuti gaya hidup tetangga yang serba mahal tanpa sadar bahwa uang yang mereka gunakan bukan milik mereka sendiri. Dan akhirnya, duarrr, semuanya habis tak bersisa bahkan menyisakan hutang.
Mungkin seperti itulah jika kita terlalu reaktif (kagetan) dengan perubahan yang terjadi dan tindakan kita hanya bersifat emosi sesaat.
Ekspresi saat kita terkaget-kaget   Dok Gambar

Ojo Dumeh
Jangan Mentang-mentang / aji mumpung adalah makna  pepatah yang terakhir. Pepatah ini mengajarkan kita untuk jangan menggunakan aji mumpung untuk hal yang tidak baik dan menjadi sombong, tetapi rendah hati terhadap siapapun, walaupun kita kaya, cantik, terhormat, berkuasa, pintar ataupun berkemampuan lebih dari orang lain.  Janganlah mentang-mentang jadi pejabat dan berkuasa kemudian korupsi. Jangan mentang-mentang kita mampu beli pertamax kemudian tidak mau mengantre seperti kejadian Florence beberapa waktu yang lalu. Jangan mentang-mentang jadi majikan lantas kita perlakukan ART semau gue. Atau mentang-mentang kita cuma rakyat terus seenaknya mengkritik dan mencaci pemerintahan tanpa memberikan solusi. Sebaliknya kesempatan yang kita punyai kita gunakan untuk kebaikan orang lain. Mumpung kita kaya kita bersedekah, mumpung kita jadi pejabat kita melayani masyarakat dengan adil. Atau mumpung jadi rakyat, patuh dan rajin membayar pajak. Hehehe...

Pepatah ini mengajak kita untuk selalu intropeksi diri, melihat ke dalam, siapa sich kita. Kita yang hanya manusia, semua yang kita miliki di dunia hanya titipan Tuhan dan kita bertugas menjaga dan mengembangkannya. Bukan memanfaatkan untuk diri sendiri. Semua sama dihadapan Tuhan. Kelak, hanya amal dan ibadah kita yang bisa menjadikan kita lebih dari orang lain.
 
Pepatah  Ojo Gumunan, Ojo Kagetan lan Ojo Dumeh bisa kita jadikan salah satu panduan dalam menghadapi kehidupan yang dinamis ini. Selalu berubah setiap waktu.  Pepatah ini tak lekang waktu, walaupun sudah ada dari ratusan tahun yang lalu, tapi masih bisa kita terapkan disaat ini bahkan di waktu mendatang.


“Tulisan ini disertakan dalam kontes GA Sadar Hati – Bahasa Daerah Harus Diminati”


Comments

  1. pepatah yg memang harus kita lakukan dlm kehidupan kita ya...
    salam kenal :)

    ReplyDelete
  2. Terima kasih sudah berpartisipasi dalam kontes Sadar Hati. Nantikan pengumuman pemenang pada tanggal 20 Oktober 2014. Salam.

    ReplyDelete
  3. Klatennya mana mbak... pepatah yang sangat dalam maknanya...

    ReplyDelete
  4. Wahahahah, yang kejadian Florence itu beneran heboh banget dah. Temen-temen kosan pada ngobrolin tuh waktu itu :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Hai kawan, terimakasih sudah mampir ya. Pembaca yang cantik dan ganteng boleh lho berkomentar, saya senang sekali jika anda berkenan meninggalkan jejak. Salam Prima :)

Popular posts from this blog

Villa Budi Luhur II , Villa Pilihan Keluarga di Sekipan Tawangmangu

Dah hari Jumat aja nih, weeked brooo, mari piknik biar awet muda ya. Kali ini saya mau membagi cerita piknik keluarga saya beberapa waktu yang lalu. Bukit Sekipan Tawangmangu bisa jadi pilihan kamu untuk berlibur bareng keluarga. Ada villa dengan view cantik, hutan pinus dibelakang rumah dan kebun strawberry di depannya. Nikmat apa yang saya dustakan coba.
Sedianya saya ingin berkeliling Semarang, bersama orangtua, keluarga saya dan adik-adik saya. Tapi hunting hotel koq harganya ga turun-turun dan Bapak saya enggan untuk berjalan jauh, akhirnya saya pengen ngadem aja di Tawangmangu.
Dah pada tahu kan, di Tawangmangu banyak villa cantik dan dekat obyek wisata Grojogan Sewu. Pasti sangat ramai, padahal saya pengen tempat yang sepi, tenang dan dingin. Ratusan hotel, villa dan penginapan berjajar di sekitar Tawangmangu, satu persatu villa saya hubungi dan Villa Budiluhur jadi pilihan saya. Pemilik menawarkan villanya yang baru, karena villa lama sudah dipesan orang lain. Jadilah saya be…

Pengen Baby Selalu Wangi? Ini Rahasianya Moms

Time flies so fast gaes, tak terasa anak mbarep saya sudah berusia lima tahun. Usia dimana "masa kritis" seorang anak telah terlampaui dan saya merasa sedikit lega. Kenapa dikatakan semasa balita merupakan masa kritis? Karena di usia bawah lima tahun seorang anak masih rentan terkena penyakit, masih membutuhkan penanganan ekstra dan perhatian khusus dari orang tua terutama Ibu.



Hari ini saya sangat bahagia, duo anak lanang sehat dan tumbuh dengan baik, walaupun yang mbarep agak langsingan sedang adiknya lebih gembul. Ya, namanya anak-anak berbeda dan unik. Keduanya amat saya sayangi dan cintai.


By the way busway ((siapa yg naik busway 'nyah)). Walaupun sekarang sudah tidak merasakan rempongnya punya bayi, tapi terkadang banyak hal yang berhubungan dengan bayi membuat saya kangen pengen megang bayi lagi (('sok bikin)). Jujur sih, saya pengen punya bayi lagi, tapi maunya cewek biar ada yang nurunin cantiknya saya ((hueex)), tapi sabar masa produktif saya masih beberapa…

11 Lagu Sedih Tentang Cinta Beda Agama

Hayoo, siapa yang belum pernah ngerasain patah hati. Sepertinya nggak ada yaaa, kecuali kamu belum pernah punya kekasih hati. Hahaha.  Saat lagi patah hati, paling enak 'tuh ya dengerin lagu sedih yang sesuai banget ama suasana hati yang mendayu-dayu. Puasin 'dah menangis berdarah-darah, apalagi terprovokasi lagu sedih yang membuat air mata tak henti mengalir. Karena, kalau lagi patah hati tapi berniat menghibur diri dengan mendengarkan lagu heppi tuh tetep kagak mempan. 
Mewek? Nggak papa koq. Asal kagak ada orang lain lihat atau orang yang kamu tangisi tahu. Bisa GeeR dia nanti. 
Ngomong-ngomong tentang patah hati atau putus cinta, banyak penyebabnya. Sebut saja, doi selingkuh, doi udah nggak cinta, doi dah bosen, doi dijodohin ortunya. Tapi, kalau menurut saya nih, putus cinta karena "perbedaan" itu yang bikin nyesek. Padahal keduanya saling mencintai. Tapi, tetep harus pisah. Nah lo!
Menjalani sebuah hubungan dengan perbedaan agama/keyakinan memang sangat berat …