Skip to main content

Yuk, Walking Tour di Kotagede

Matahari beringsut ke ufuk barat. Belum tenggelam sepenuhnya karena sinarnya masih terasa menyengat di kulit. Kami berempat sudah sampai di sebuah homestay di kawasan Kotagede. Disana sudah ada beberapa teman peserta Kotagede Walking Tour yang akan turut serta menjelajahi area Kotagede. Pastinya dengan berjalan kaki. Judulnya saja sudah walking tour. LoL
Tepat pukul 3 sore walking tour dimulai. Perjalanan diawali dari Lapangan Karang Kotagede, kemudian menyusuri gang-gang  kecil yang hanya bisa dilewati oleh pejalan kaki. Peserta walking tour  sekitar 10 orang termasuk saya, mas bojo dan duo anak lanang. Suami sempat bertanya ulang, apakah serius mau ikut jalan kaki dan gimana kalau anak-anak kecapekan? Spontan saya jawab dengan yakin. "Ya jadilah pak' e" 
Begitulah suami saya yang sering males-malesan kalau diajak jalan kaki agak jauh. Jadinya perlulah sesekali dikerjain diajak jalan agak jauh. Itung-itung olahraga. Hehehehe.
Temen saya, Adimas yang menjadi guide walki…

Ada Penghuni Lain di Rumahku





Tahukan tentang cerita rumah kontrakan saya yang baru di Senangnya Tinggal di Rumah (kontrakan) Sendiri. Tapi, sudah  dua bulan ini saya tidak menempati rumah tersebut. Saya kembali ke rumah mertua di Kalasan. Kenapa? Yang jelas bukan karena paksaan suami, dia manut saya mau tinggal dimana.

Sebenernya, semenjak kejadian Saka menginap 7 hari di Panembahan Senopati, feeling ataupun insting saya mengatakan kalo saya harus pergi dari rumah tersebut. Entahlah kenapa perasaan saya bicara seperti itu. Saya menepis perasaan itu, walaupun sudah sering insting saya berkata benar.

Walaupun saya tidak pernah melihat ataupun diganggu makluk lain yang menghuni rumah saya. tapi saya "merasa" memang ada "sesuatu" dirumah saya. Saya sering bertanya sama suami saya yang memang bisa melihat hal-hal yang saya ataupun orang lain tidak bisa melihatnya, tapi jawabnya ga ada. Mungkin untuk menghibur saya atau tidak mau saya takut tinggal disitu.

Saya mempelajari keadaan disekitar rumah, tetangga sebelah yang rumahnya juga  mepet makam anaknya  dua berkebutuhan khusus. Yang perempuan sudah seumuran anak SMA tapi tergolek lemah,pertumbuhannya lambat dan sama sekali ga bisa ngapa-ngapain. Untung kalo malam dia tidur, tapi ternyata kalo siang dia sering menangis dan berteriak-teriak, hati saya keder mendengar tangisannya. Kemudian yang punya rumah itu, bisa memiliki anak setelah 9 tahun dan setelah anaknya lahir sang Bapak meninggal. Saya juga jadi bertanya-tanya, kenapa sang punya rumah tidak menempati rumah itu yang notabene banyak kenangan dengan keluarga dan memilih tinggal di rumah baru.

Saya jadi menghubung-hubungkan antara peristiwa satu dengan yang lain.
Batin saya berperang, dari insting yang menyarankan saya untuk pindah atau tetap disitu. Dan keputusan saya, saya tetap disitu. Masak sih saya kalah dengan "mereka" itu kata batin saya.

Hari demi hari saya lalui seperti biasa dirumah itu, walaupun saya bangun tengah malam atau mencuci piring di pagi buta tidak ada kejanggalan dan tidak ada yang "mengganggu" saya. Ohya, dibelakang rumah saya pas ada sebuah makam dan jaraknya cuma satu meter tepat dibelakang dapur. Seandainya saya tahu dibelakang rumah ada makam pasti saya tidak akan mengontrak rumah itu.

Entah kenapa anak saya yang kecil si Saka sering banget sakit, hampir 2 minggu sekali ke dokter , kadang panas atau batuk entah mungkin karena dia di penitipan anak jadi gampang tertular penyakit. Padahal anaknya aktiv, gendut dan makan serta minum ASI nya banyak. Dan saat Saka sariawan yang tak kunjung sembuh (akan saya ceritakan lain waktu) dan rewel tiap malam. Sampai tetangga kasihan dan menyarankan untuk ke Kyai deket rumah, kebetulan dekat rumah saya memang ada pondok pesantren. Kata dia dulu anaknya juga sering rewel dan ke tempat pak ustad dan dikasih doa. Saya hopeless  dan menuruti saran dia, malam-malam saya ke sana ditanya nama anak dan nama orang tua nya kemudian dikasih air yang ada kertas bertuliskan huruf Arab. Hasilnya, mendingan tapi hanya untuk hari itu.

Saya membandingkan dengan anak pertama saya si Nathan, waktu bayi tidak pernah sakit, seingat saya waktu umur satu tahun terkena flu karena ketularan Bapak dan Mbahnya. Tapi memang anak tidak  dibanding-bandingkan, setiap anak unik dan daya tahan tubuhnya pasti juga tidak sama.

Sampai pada akhirnya pada suatu malam saya berbincang dengan suami saya gimana kalau kita balik ke rumah Mamak aja di Kalasan, saya sudah ga kuat dan kasihan ngeliat Saka ga sembuh-sembuh dan rewel terus. Disana Mamak lebih telaten merawat saat saya tinggal kerja dan saya menceritakan tentang insting saya. Tapi saya meminta suami minta ijin ke mertua dulu, gimana kalo balik kesana lagi.

Ternyata suami setuju dan cerita panjang lebar, memang di rumah itu banyak "penghuninya". Bukan karena dekat makam, tapi memang di bagian dapur itu tempat berkumpulnya makluk-makluk dunia lain di daerah situ, dan mereka sudah ada sejak puluhan atau mungkin ratusan tahun yang lalu, bahkan sebelum makam di belakang rumah ada. Padahal dapur dirumah itu bersih, cukup luas dan ga ada kesan angkernya loh.

Kata suami jumlah mereka banyak, puluhan mungkin. Kalo cuma satu atau dua sebenernya tidak ada masalah, seperti juga manusia kadang ada yang baik, nakal ataupun usil. Nah, satu dua yang usil ini yang kadang bikin jengkel suamiku dan aura negatifnya berpengaruh terhadap anak kecil khususnya bayi seperti Saka, kalo anak-anak sudah SMP atau SMA mungkin ga ngaruh, gitu kata suami saya.

Kenapa ga disuruh pergi aja? ada teman yang menyarankan seperti itu, tapi itu bukan rumah saya sendiri dan "mereka" sudah lebih dulu tinggal disana, biarlah kami yang mengalah, tapi bukan karena kalah ya.
Suami memang sengaja tidak bercerita tentang itu semua sebelumnya, karena dia kawatir saya takut tinggal disitu. Sebenernya saya tidak takut, hanya kawatir aura negatif mereka mengganggu kehidupan kami.

Apa aja yang tinggal disitu?
Macem-macem kata suami, tapi ada yang baik juga. Ada Kakek tua yang merupakan pemimpin makluk-makluk disitu. Bayangin nya aja bikin horor apalagi ngeliat. Pantas, suamiku slalu menutup pintu antara ruang tivi dan dapur, kalo saya lebih suka dibuka daripada bolak-balik nutup. Tapi selalu ditutup ama suami saya, belakangan dia cerita karena males ngeliat "mereka" wirawiri atau munculah secara tiba-tiba dan bikin kaget.

Terlepas dari makhluk-makhluk itu, sekarang Saka sudah sehat lagi dan ga sakit-sakit lagi. Mungkin  saya memang belum siap untuk hidup mandiri. Hidup ternyata tak hanya sekedar  finansial, tak lantas kita mandiri secara finansial kemudian lepas bebas dari orang tua. Banyak faktor yang menunjang kelancaran hidup berkeluarga.  Tapi saya yakin, suatu saat pasti saya dan suami beserta anak-anak bisa mandiri dan tinggal dirumah kami sendiri kelak.


Comments

  1. semoga impian akan rumah sendiri bisa terwujud.. btw ceritanya serem juga hehe

    ReplyDelete
  2. iih.. emang serem ya, apalagi jika mengganggu anak2, kasihan kan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mak, klo ga ganggu sih ga papa, tp "mereka" suka usil, makasih dah mampir ya.

      Delete
  3. Waduh...mengerikan mbak...kalau aku udah lari....takut....

    ReplyDelete

Post a Comment

Hai kawan, terimakasih sudah mampir ya. Pembaca yang cantik dan ganteng boleh lho berkomentar, saya senang sekali jika anda berkenan meninggalkan jejak. Salam Prima :)

Popular posts from this blog

Pengen Baby Selalu Wangi? Ini Rahasianya Moms

Time flies so fast gaes, tak terasa anak mbarep saya sudah berusia lima tahun. Usia dimana "masa kritis" seorang anak telah terlampaui dan saya merasa sedikit lega. Kenapa dikatakan semasa balita merupakan masa kritis? Karena di usia bawah lima tahun seorang anak masih rentan terkena penyakit, masih membutuhkan penanganan ekstra dan perhatian khusus dari orang tua terutama Ibu.



Hari ini saya sangat bahagia, duo anak lanang sehat dan tumbuh dengan baik, walaupun yang mbarep agak langsingan sedang adiknya lebih gembul. Ya, namanya anak-anak berbeda dan unik. Keduanya amat saya sayangi dan cintai.


By the way busway ((siapa yg naik busway 'nyah)). Walaupun sekarang sudah tidak merasakan rempongnya punya bayi, tapi terkadang banyak hal yang berhubungan dengan bayi membuat saya kangen pengen megang bayi lagi (('sok bikin)). Jujur sih, saya pengen punya bayi lagi, tapi maunya cewek biar ada yang nurunin cantiknya saya ((hueex)), tapi sabar masa produktif saya masih beberapa…

Villa Budi Luhur II , Villa Pilihan Keluarga di Sekipan Tawangmangu

Dah hari Jumat aja nih, weeked brooo, mari piknik biar awet muda ya. Kali ini saya mau membagi cerita piknik keluarga saya beberapa waktu yang lalu. Bukit Sekipan Tawangmangu bisa jadi pilihan kamu untuk berlibur bareng keluarga. Ada villa dengan view cantik, hutan pinus dibelakang rumah dan kebun strawberry di depannya. Nikmat apa yang saya dustakan coba.
Sedianya saya ingin berkeliling Semarang, bersama orangtua, keluarga saya dan adik-adik saya. Tapi hunting hotel koq harganya ga turun-turun dan Bapak saya enggan untuk berjalan jauh, akhirnya saya pengen ngadem aja di Tawangmangu.
Dah pada tahu kan, di Tawangmangu banyak villa cantik dan dekat obyek wisata Grojogan Sewu. Pasti sangat ramai, padahal saya pengen tempat yang sepi, tenang dan dingin. Ratusan hotel, villa dan penginapan berjajar di sekitar Tawangmangu, satu persatu villa saya hubungi dan Villa Budiluhur jadi pilihan saya. Pemilik menawarkan villanya yang baru, karena villa lama sudah dipesan orang lain. Jadilah saya be…

Kolam Renang Water Park Tirta Taman Sari Bantul

Kolam Renang Taman Tirtasari Bantul - Hayoo siapa suka berenang? Pasti banyak orang yang hobi berenang atau hanya sekedari ciblon main air, termasuk saya. Di kota besar banyak terdapat kolam renang di hotel atau water boom dengan fasilitas super lengkap. Bahkan, sebulan yang lalu ada water boom yang di klaim sebagai water boom terbesar se Jawa Tengah. Jogja Bay nama tempat itu.


Kali ini saya tidak akan membahas tentang Jogja Bay, tapi kolam renang di Bantul. Sebuah water park yang tidak terlalu besar, tapi lumayanlah untuk ukuran kota kecil seperti Bantul. Walaupun sederhana tapi sederhana, waterpark Tirta Tamansari ini selalu ramai pengunjung. Di hari libur banyak pengunjung bersama keluarga. Sedangkan saat hari biasa atau bukan hari libur, para siswa dari TK hingga SMA belajar berenang disini.

Bayangin aja, tiket masuk Waterpark Tirta Tamansari Bantul ini cuma 6000 IDR di hari biasa dan 8000 IDR di hari libur. Mulai anak berusia 2 tahun harus membeli tiket masuk dan  walaupupun pen…